Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Sex Indonesia Dari Perawan Menjadi Maniak Sex

Cerita Sex Indonesia Dari Perawan Menjadi Maniak Sex

Cerita Sex Indonesia Dari Perawan Menjadi Maniak Sex Ini menceritakan tentang gejolak nafsu birahi antara gadis seksi yang bersedia bugil pada saat berhubungan seks. Perawan penuh nafsu ini menjadi incaran untuk memuaskan hasrat seks mesum pria yang masih memiliki nafsu seks. Di mula dari gadis seksi ini sedang membersihkan rumahnya dengan pakaian yang seksi tersingkap sehingga pria belang itu semakin bernafsu.

Cerita sex ini menjadi pengalaman pribadi cewek seksi yang direbut keperawanannya dari orang yang telah dianggapnya sebagai keluarga. Bagaimana cerita dewasa mesum ini, selengkapnya akan anda lihat.

Maria gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu.

Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Maria yang indah dan seksi, apalagi bila Maria sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Temmy melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Temmy mendapat akal, suatu hari ketika Maria dan ibunya sedang keluar rumah, Temmy bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.

Suatu hari ketika Maria hendak pergi mandi Temmy bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Maria memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Maria melepaskan handuknya,

Temmy menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat nafsu Temmy bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu.

Mata Temmy melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Temmy bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Temmy tahu Maria sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.

Pada malam berikutnya, Temmy dengan sabar menunggu. Begitu Maria memasuki kamar mandi, Temmy membarenginya dengan memasuki kamar Maria. Temmy menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Maria masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Temmy muncul dari balik lemari, Maria terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Temmy meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Maria jangan berteriak, Maria mundur beberapa langkah dengan ketakutan.

Temmy maju dan tiba-tiba menyergapnya Maria siap menjerit, tetapi Temmy dengan cepat menutup mulutnya.

“Jangan menjerit!”, Temmy mengancam.

Maria semakin ketakutan, badannya gemetar. Temmy memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Maria terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”, kata Temmy dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Maria terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Maria mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Temmy. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.

Alangkah gembiranya Temmy ketika Maria mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan..!”, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Maria tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Maria hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Temmy mencopoti bajunya sendiri.

Maria menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Maria menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Maria dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Temmy mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Maria menggigil.

Dengan bernafsu Temmy menciumi kuduk Maria, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Temmy membalikkan tubuh Maria hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Temmy menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Maria. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Temmy.

Kembali rontaan-rontaan Maria melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Temmy dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Temmy membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Maria menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan.

“Pak, mm.., mm.., ja..ngan sshh mmphh.., sshh..”.

Akhirnya Maria tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Temmy. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Temmy semakin naik. Kedua bukit indah Maria semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Temmy terus mengulum dan mengulumnya terus.

“Pak, Saya.., takuut”, Suara Maria mendesah lembut.

“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.

“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.

“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.

Maria mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Temmy mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Temmy menekan-nekan bukit indah itu.

“Kue apemmu hebat sekali”, bisik Temmy sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Temmy menguak belahan kue apem itu.

Maria yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Temmy yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Maria dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Maria ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.

Sementara itu Temmy menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu.

“Sssh.., mmh.., ssh.., aakh..”, Mata Maria membeliak-beliak dan pahanyapun membuka.

Temmy menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Maria yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Maria menggenggam batang penis Temmy, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Maria malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Temmy, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata,

“Tidak apa-apa, Maria! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”. Dan dengan dada berdegup Maria tetap menggenggam batang penis yang keras itu.

Temmy merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Temmy mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Maria, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Temmy menyentuh-nyentuh clitoris Maria. Maria menggelinjang-gelinjang.

“Bagaimana Mar?”, tanya Temmy.

“Enaakh.., Paak!”, Jawab Maria.

Temmy semangkin gencar menggempur vagina Maria dengan jari tangannya. Lalu Temmy menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Maria. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Temmy menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Maria, Temmy tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Maria dengan penuh nafsu. Maria menjerit kecil.

“Kenapa Maria? Sakit?”, tanya Temmy di sela kesibukannya.

Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Temmy menjilati vagina Maria dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Maria, melilit dan membelai clitorisnya. Maria semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Temmy, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.

“aakh.., uuggh.., Paakk..”, Maria mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya.

Sementara Temmy tetap menjilati kemaluan Maria bahkan Temmy menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Maria yang masih suci itu, dan menelannya.

“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Temmy mesra di telinga Maria.

Sementara Maria memandang memelas ke arah Temmy, dan Temmy mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Maria. Batang kemaluan Temmy sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Maria sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Temmy yang besar. Maka Temmypun mengatur posisinya di atas tubuh Maria.

Mata Maria terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Temmy mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Maria. Maria memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Temmy mulai mencapai mulut lubang kemaluan Maria yang masih liat dan sempit. Dan Temmypun menekan pantatnya. Maria menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.

“Paak, oukh.., akh.., aakh.., oough.., sakit Pak..”, Maria merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya.

Sedangkan Temmy tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Maria mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.

“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Temmy sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.

“Eeegh.., yaa.., aakkhh.., oough..”, jawab Maria dengan mendesah. Kini Maria menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Temmy mengaduk-aduk lubang vaginanya.

“Tee.., russ.., Paak.., eeggh.., nikmat.., oough..!”, erang Maria.

Temmy semakin gencar menyodok-nyodok vagina Maria, semakin cepat pula goyangan pinggul Maria mengimbanginya hingga,

“Ouughh.., sa.., saya.., mmaau.., keluar.., Paak..”.

“Tahan.., sebentar.., sayang.., oouggh..”.

Temmy mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya.

“aaGhh..”, jerit Maria sambil menekan pantat Temmy dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya.

Bersamaan dengan tekanan kaki Maria Temmy menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan,

“Eeegghh.., Ooouugh..”.

“Creet.., creet.., creet..”. Mengalirlah air mani Temmy membasahi lubang kemaluan Maria yang sudah dibanjiri oleh air mani Maria.

Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Temmy masih menindih Maria dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Maria.

Enam bulan kemudian, Maria dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Brahma ke Jakarta. Om Brahma belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yunita.

Mereka pergi ikut Om Brahma tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Brahma menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Brahma ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Panji. Panji adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Panji pandai merayu.

Dan Maria pun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Panji, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Maria selain ayah tiri Maria.

Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Brahma tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Brahma mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Brahma memulai pembicaraan.

“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.

“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.

“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.

“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Brahma dengan terus terang.

“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.

“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Brahma mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Maria.

“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.

“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.

“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.

“Bagaimana caranya Om?”.

“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.

“Mencoba langsung, di mana Om?”.

“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.

“Tetapi..”.

“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Brahma sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria.

Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Brahma mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Brahma yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Brahma yang menggerayangi lehernya.

Semakin ganas Om Brahma menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Maria hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Brahma yang satu meraih tangan Maria. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana.

Maria mengerti maksud Om Brahma, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Brahma lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya.

“mmhh..”, desah Om Brahma menikmati remasan tangan halus Maria pada batang penisnya.

Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.

Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Brahma melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang merosot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Brahma menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya.

Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Brahma, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri.

Sementara Maria tidak lagi meremas batang penis Om Brahma, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Brahma tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.

Ria mengikuti perintah Om Brahma, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Brahma. Lalu Om Brahma berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria.

“Ssshh.., aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya.

Om Brahma sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Maria hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.

Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Brahma melanjutkan dorongan pantatnya hingga,

“Blueess..”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria.

Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Brahma yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Brahma menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria.

Om Brahma memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Brahma yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.

“Ouugh.., eeghh.., te..ruus.., oom.., jaa..ngan.., berhenti.”, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Brahma dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan.

Semakin lama gerakan Om Brahma semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Brahma seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga..,

“Aah.., ahh.., esst.., esst..”, desah Om Brahma sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.

“Ouugh.., eesstt.., eengh.., aakh.., aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi.., om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.

“Tung..guu.., sayang.., aakku.., juuggaa.., mmau.., ngecret..!”, ucap Om Brahma terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.

“aakuu.., kee..keeluar.., Ooom..”.

“Akuu.., juuggaa.., aaghh..”, dan, “Creet.., creet.., crett.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Brahma ke dalam vagina Ria.

Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Brahma. Sementara ketika Om Brahma dan Ria bertarung, Maria begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Brahma dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan.

Sedangkan Maria merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri,

Baca juga : Cerita Seks ABG Yang Sama-Sama Menjadi Simpanan

Maria bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Brahma yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Brahma yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Maria.

Om Brahma membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Maria yang belum tahu bahwa Om Brahma sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Brahma berkata perlahan.

“Kau menginginkannya?”.

“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Maria dikuasai oleh nafsunya.

Lalu Om Brahma memegang bahu Maria lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Maria telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Brahma membelai tubuh Maria yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim.

Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Maria tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Brahma, hingga Om Brahma berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Brahma membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Maria yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Brahma menggelegar dan nafsunya mulai menanjak.

Dengan kedua tangannya Om Brahma merengkuh bungkahan pantat Maria yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Brahma melumat bibir kemaluan Maria dengan penuh nafsu. Maria mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Brahma yang tengah melumat vaginanya.

“Ooouugh.., Ooomm.., lakukanlah.., Oom.., aa.., aku.., dah ti..daak.., taahhan.., lagi..!”.

Om Brahma hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan,

“Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Brahma pada Maria.

Maria mengikuti perintah Om Brahma, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Brahma. Penis Om Brahma yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Maria. Om Brahma berkata,

“Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Brahma pada Maria.

Kini Maria mengangkangi Om Brahma yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Maria. Kembali Om Brahma memberikan instruksi kepada Maria,

“Kini genggamlah burungku!”. Maria menggenggam penis Om Brahma. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Maria menuruti perintah Om Brahma tanpa berkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.

Maria mengerjakan semua perintah Om Brahma hingga..,

“Sleep..”, Kepala kemaluan Om Brahma yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Maria yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Maria mendesah kenikmatan,

“Oough..”. Dipegangnya bahu Om Brahma yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Maria yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Brahma berkata,

“Yaakh.., begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Maria menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Brahma yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Brahma adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Maria sebelumnya. Om Brahma sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Maria yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

Dirangkulnya tubuh Maria untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Brahma yang lebih mirip desahan.

“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.

“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Maria sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Brahma di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Brahma kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan.

Hal itu dilakukan Maria berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Maria semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Brahma tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Maria dengan menaikkan pantatnya bila Maria menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Brahma. Maria mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.

“Eeeghh.., niikhmat.., sekhali.., Om..”

“Yaakh.., memang.., nikhmat memekmu ini Mar.., oouggh..”.

“Ooomm.., hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Maria, sambil menarik kepala Om Brahma ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu.

Segera saja Om Brahma melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Maria, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Brahma menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Brahma menjilati puting susu Maria yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Brahma menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Maria yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.

“Ooogh.., oough.., akhh.., ahh..”, desahan Maria menikmati tarian penis Om Brahma yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga,

“Eeest.., Ooough.., lebihh.., ceepat lagi.., Sayaang.., aku maau keeluaar..!”.

“Yaakhh.., aku.., juga..,. sudahh.., tidak.., taahaan.., laagi.., Ooomm”.

Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga,

“Ooough.., Akuu.., keluaar.., sayang..”

“Akhuu.., aakhh..”.

“Creet.., creet.., creett..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat.

Maria berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Brahma menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya.

Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.