Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan

Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan

Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan

Cerita Seks – Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan bermula ketika aku dan Rini baru pulang dari luar kota dan sedang dalam perjalanan menuju ke apartemenku. Kebetulan hari itu hari sedang turun hujan, membuat perjalananku dari stasiun menjadi terhambat karena macet. Setelah mampir di sebuah minimarket untuk membeli rokok, kami bergegas menuju ke kamarku yang terletak di lantai 3 gedung apartemen itu.

“silakan masuk!” aku mempersilakan Rini masuk kamarku.

“Maaf ya, tempatku berantakan, maklum lelaki”, aku agak tak enak kalau Rini tak nyaman di sini.

“Ah kamu, Ben.. biasa aja kok, tempatku di Singapura juga sama aja kayak begini,” ujarnya merendah.

Ruangan apartemenku tdiak terlalu besar namun cukup untuk bujangan seperti diriku.

“Wah!” seru Rini tiba-tiba.

“Sofa kamu heboh banget warnanya.”, Rini rupanya tertarik pada sofaku yang berwarna merah itu. Aku sendiri tak suka dengan warna merah karena terlihat norak. Tapi sofa pemberian kakakku ini bisa dirubah jadi tempat tidur cadangan, jadi berguna kalau ada teman-teman yang menginap di sini.

“Oh ini sofa udah lama, ini pemberian kakakku, Mbak Cindy”, kataku.

“Bagus banget warnanya,” Rini segera merebahkan badannya di atas sofa itu. Ekspresinya seperti anak kecil yang menemukan mainan lamanya.

“Aku juga punya sofa warna merah di apartemenku di Singapura”, kata Rini sembari mengganti posisi duduknya. Dia seperti menyadari kalau aku agak terbengong-bengong melihat sikapnya tadi.

Entah kenapa tiba-tiba otak jahatku muncul, aku berpikiran untuk melakukan hubungan seks dengannya sebelum Tata menjemputnya. Segala macam cara kupikirkan termasuk memberinya obat perangsang (tapi segera aku buang dari benakku karena merasa malu sendiri). Aku duduk di sampingnya dan menyalakan TV. Rini bangkit dan bertanya,

“Son.. aku haus, kamu ada es batu?” aku heran dan berkata,

“Di kulkas ada air dingin tuh, kamu tidak perlu pakai es batu lagi.” Rini segera mangambil gelas dan sebotol air dingin di kulkas. aku menonton TV sembari kakiku selonjoran di atas meja di depan sofa.

“Eh si Tata masih lama yah meeting-nya?” tanya Rini sembari duduk di sampingku dan menaikkan kakinya selonjoran di meja.

“Mungkin sekitar jam 4 atau jam 5 selesai, dia bilang mau telpon kalau sudah selesai,” kataku menjelaskan sembari menghembuskan asap rokok.

“Kamu mau?” Rini menawarkan segelas air minumnya.

“Engga, Rin. Thank you.. dingin-dingin begini aku tak bisa minum es.”

Terdengar suara Rini yang minum pakai sedotan dari gelas yang sudah habis airnya.

“Srrt.. srrt!” Rini menyedot gelas yang sudah kosong. aku menoleh ke arahnya dan tanpa kusangka sepasang mata bulatnya sedang menatapku dengan tatapan nakal. Terlihat senyumnya yang kekanak-kanakan sembari bibirnya menyedot sedotan di gelas yang sudah kosong. Rupanya Rini menggodaku. Inilah penyebab Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan ini bisa terjadi.

“Kayak anak-anak yah?” ujarnya sembari tetap tersenyum ke arahku. aku tetap belum mau terpancing (soalnya takut salah kira).

“Iseng banget kamu”, aku menjawab sembari membalas senyumnya.

“Lagian daripada nungguin Tata lama,” aku makin terkejut, suara Rini sengaja dibuat seperti merengek manja. Aku jadi makin salah tingkah, bingung apakah Rini benar-benar menggodaku atau memang dia punya sifat manja? Belum habis kebingunganku, tiba-tiba kurasakan kaki Rini menggelitik kakiku.

“Serius banget sih kamu, biasa aja dong”, ujarnya menggodaku lagi. Aku segera membalas menggelitiki kakinya. Terdengar Rini tertawa tertahan menahan geli.

“Rin..” ucapanku tertahan karena Rini meletakkan jari telunjuknya di atas bibirku memotong perkataanku.

“Ssssstt…..” tatapan matanya berubah dan aku melihat ada gairah dalam tatapannya. Suaranya terdengar lebih mesra sementara nafasnya semakin berat.

“Kira-kira pikiran di kepala kita saat ini sama gak yah?” Perkataan Rini itu seperti menjawab pikiran liarku tadi.

Tanpa menunggu lama, segera aku mematikan rokok, menyingkirkan gelas yang dipegangnya dan segera membalikkan badan ke arahnya. Rini mengganti posisi duduknya menjadi meringkuk, kakinya ditekuk di depan dadanya. aku mendekatkan wajahku ke wajahnya tak sabar ingin melumat bibir tipisnya. Tiba-tiba Rini menahan badanku dengan tangannya dan agak mendorongku menjauh darinya.

“Eiiits, sebentar…”, katanya.
“pelan-pelan yaaa..” Suara Rini setengah memerintah dengan tatapan mata yang kian meredup menahan gejolak hasratnya.

Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan

Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan

Aku kembali berusaha mendekat kepadanya, kali ini gerak majuku tartahan oleh kaki kanan Rini yang disodorkan menahan dadaku. Rini seperti menendang secara perlahan hingga kembali membuatku mundur. Terlihat senyumnya dingin tapi penuh gairah ke arahku. Kakinya yang halus dan mulus itu diselipkan ke bagian kemejaku yang sudah terbuka dan aku merasakan kakinya yang halus membelai dadaku yang bidang dan agak berbulu. Gerakan kakinya lincah bermain di atas puting dadaku. Kuraih betisnya lalu lidahku mulai menjelajahi kaki Rini yang indah dan terawat itu. Mulai dari tumitnya ke bagian engkel lalu ke arah betis bagian bawahnya. Halus dan hangat terasa di lidahku. Rini kegelian, ujung jari-jari kakinya beberapa kali mengejang menahan kenikmatan yang mulai merembet ke atas.

Aku gemas melihat jari-jari kakinya yang indah tersebut lalu kukulum satu persatu.

“Iiih….”, Rini mengerang lirih menahan rasa geli bercampur nikmat. Sekitar 3 menit aku melakukan legs job ketika Rini yang sudah tak tahan lagi membuka ikat pinggang dan celanaku dengan penuh hasrat. aku segera menarik lepas baju kaos tanpa lengan yang dia kenakan. Terlihat bra hitamnya dan garis payudaranya yang kencang dan ranum.

Begitu celana dalamku terlepas, Penisku segera terbebas dari sangkarnya. Rini menggigit bibir bawahnya dan memeletkan lidah sebelum dia melahap tidakang Penisku dangan rakusnya tanpa dipegang terlebih dahulu. Kedua tangan Rini merayap ke atas dadaku sembari sesekali membuat gerakan seperti mencakar yang membangkitkan sensasi tersendiri buatku. Kedua lengan Rini terlihat kencang dan pundaknya tampak cukup atletis (belakangan aku baru tahu kalau Rini suka sekali berenang). Hangat terasa saat tidakang Penisku dikulumnya. Kadang Rini memainkan tidakang Penisku dalam mulutnya dengan lidah. Kemudian Rini menciumku mulai dari penisku terus ke atas hingga bibir kita berdua bertemu dan saling berpagutan dengan permainan lidah yang memabukkan.

Sementara itu Rini melepaskan celananya sedangkan aku membuka bra-nya. Tampak buah dadanya yang ranum dan terbentuk dengan sempurna. Payudara Rini tak terlalu besar namun bentuknya betul-betul indah dengan putingnya yang lancip bagaikan melotot ke arahku. Kulingkarkan lenganku di pinggangnya yang ramping sembari mendekapkan kedua badan kita yang berciuman. Bagaikan es dan api bertemu menghasilkan getaran dahsyat di antara kami. Rini mendongak sembari menggoyang pinggulnya menggesek penisku.

“Oooh Benny..”, dia mengerang sembari memejamkan mata. Aku menciumi lehernya yang jenjang, lalu telinganya kemudian turun ke payudaranya. aku memainkan lidahku di ujung puting susunya,

“Uuuhh.. yes Ben..” Rini mendekap dan membenamkan wajahku di antara buah dadanya. Tercium wangi aroma badan wanita yang sedang dilanda birahi.

Aku merebahkan badannya lalu meneruskan eksplorasiku ke bagian bawah. Kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Rini meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.

“Ssshh.. sshh..aaahh” Rini mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu. Aku menarik turun celana dalamnya yang berwarna biru. Sesaat kemudian aku sudah berhadapan dengan kewanitaannya. Lubang Vagina Rini yang tampak tebal dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapi.

Sejenak aku mengagumi keindahan lubang Vaginanya, lalu Rini bergerak sedikit mengangkat pinggulnya dan membuka agak lebar kedua pahanya seakan menyodorkan menu utamanya ke wajahku. aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.

“Aaahh.. sshh”, Rini mengerang lirih. aku menikmati aroma Vaginanya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan cinta dari lubang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke lubang kemaluannya sembari menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sembari kumainkan dengan lidahku. Badan Rini menggelinjang bergetar,

“Uuuhffss.. Aaahh!” Rini menjerit menahan kenikmatan sembari tangannya menggenggam tepi sofa. Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

“Ben.. masukin sekarang.. aku tidak tahan nich..” Rini lirih memohonku untuk segera memasuki badannya. aku segera menempatkan badanku di atas badannya yang ramping seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Rini terbaring polos telanjang. Kulitnya yang berwarna kemerahan karena terbakar matahari namun tetap mulus dan halus karena dirawat dengan baik hingga menambah gairahku. Body Rini agak kurus tapi kencang dan atletis mirip-mirip pelari sprinter tapi untungnya tak sampai berotot.

“Ben.. jangan lupa pake pengaman.. aku takut hamil..” suara Rini yang seksi mengingatkanku. Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan ini pun semakin menarik.

“Ok, tenang aja..” aku segera meraih dompetku dan mengeluarkan kondom yang selalu kusiapkan di situ. Si junior bersarungkan karet siap tempur. Rini menggenggam batang Penisku dan menuntunnya ke lubang kemaluannya yang merah basah.

Sejenak sempat kudengar Rini mendesis saat meraih penisku.

“Uuu.. besar dan kuat”, ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri. Begitu ujung kepalanya menempel di bibir Vaginanya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh badanku. Lalu perlahan aku dorongkan ke dalam lubang kemaluannya.

“Uuuhhss.. yess, Ben.. uuhhh”, Rini mengerang sembari mendongakkan kepalanya. Dengan satu dorongan berikutnya penisku sudah masuk secara full dalam lubang kenikmatan Rini yang hangat dan tebal. Rini mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

aku mulai gerakan memompa terhadap lubang kemaluannya.

“Yess.. uuhh.. Ben”, Rini menjerit halus sembari memejamkan matanya. Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang makin kuat menerobos kedalaman lubang kemaluan Rini yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit tidakang Penisku. Tiba-tiba Rini membuka matanya dan berbisik lirih,

“Son ganti posisi.. aku biasa klimaks sembari doggy.” Kami segera ganti posisi, badan Rini membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa klimaks dalam posisi ini.

Aku menuruti permintaan Rini yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Rini lebih lengkap. Biarpun Rini ramping, tapi dia memiliki bokong yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat bokongnya montok. aku segera mengarahkan Penisku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.

“Srrt..” makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar lubang kemaluan Rini sudah makin basah. Rini menggenggam pegangan sofa dengan kedua tangannya. aku menciumi lehernya dari belakang sembari kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Rini sangat berpengalaman dalam posisi ini dia makin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku pinggulnya pun bergoyang mengocok tidakang Penisku.

“Rini.. pinggul kamu hebat bingit”, aku berbisik terengah-engah. Rini menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sembari menggigit bibir bawahnya. Terlihat keringat membasahi wajahnya yang makin memerah.

Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku,

“Faster.. sayang.. lebih cepat!” suaranya dibarengi deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks. aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan tidakang Penisku makin dalam ke lubang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah diambang.

“Aaahh Uuuh Sssh.. teruus Soon ahh”, Rini menjerit sembari bergerak makin liar sampai sofa ini bergetar berderik-derik. Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Rini. Gerimis masih turun di luar ketika Rini tiba-tiba menjerit,

“Aaah Uuuhhhh.. Benny”, kepalanya mendongak, badannya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari lubang Vaginanya merembes sampai ke buah Penisku. aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.

“Uuu.. yess”, Rini mengakhiri gelombang kenikmatannya.

Sejenak badan kami mengejang bersama lalu rebah lunglai di atas sofa merah. Rini rebah menelungkup dengan badanku di atasnya. 15 menit kemudian kami duduk dan mulai membereskan pakaian kami.

“kok jadi begini yah”, aku seperti bicara pada diriku sendiri (sengaja biar tak ketahuan niatnya).

“Tau tidak apa sebabnya?” Rini berkata sembari menatap lekat wajahku. Kemudian dia melanjutkan dengan senyum nakalnya yang penuh arti itu,

“Sofa merah ini.. bikin aku sugesti buat ngelakuinnya.” aku masih tak mengerti maksudnya, kemudian Rini menambahkan,

“Kan udah kubilang, di apartemenku di Singapura aku punya sofa merah”, katanya.

“Terus?” aku minta penjelasan. Rini menambahkan,

“Pertama kali aku bercinta di sofa itu dan sampai sekarang aku selalu melakukan aktivitas seksualku di sofa itu.” Lalu ia melanjutkan,

“Sofa kamu mengingatkanku sama punyaku di sana, so sofa merah ini turn me on, bikin aku terangsang.”

Aku terheran-heran kok bisa begitu? belum selesai keherananku Rini berkata lagi,

“Tapi punya kamu besar juga kok, I like it very much”, ujarnya tersenyum sembari berjalan ke arah kamar mandi. aku masih duduk lemas di atas sofa itu ketika HP-ku berbunyi. cerita sex Ternyata Tata telah selesai dengan presentasinya dan sekarang sudah tiba di sini. Dia menunggu Rini di tempat parkir. aku mengantarkan Rini ke bawah dan di tangga Rini sempat berbisik,

“Son.. sofanya jangan kamu ganti yah! soalnya kalau aku rindu sama sofaku di Singapura pasti aku ke sini lagi.” Aha! pasti akan aku rawat dengan baik. Kalau perlu tak boleh ada orang lain yang duduk di situ selain Rini saja.

Begitulah yang terjadi di Apartmentku sore itu. Betul-betul story baru yang membuatku semangat. Karena Tata mau langsung pulang sama Rini dan besok dia harus keluar kota, jadi barang-barang bawaan Rini itu dititipkan padaku. Biar aku yang membawanya besok sekalian ke kantor.

Begitulah setiap Rini rindu pada sofa merahnya di Singapuraa maka dia selalu datang ke apartemenku, dan disaat itu pula kami bercinta habis-habisan. Nampaknya Cerita Seks Rini Di Atas Sofa Kenikmatan ini akan terus berlanjut selama warna sofa itu tidak diganti.

–Tamat–