Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Dewasa Wanita Bernafsu Tinggi

Cerita Seks Pak Robert Dengan Wanita Bernafsu Tinggi Rekan Kerja, Cerita Bernafsu, Cerita Sex Roni

Cerita Seks Pak Robert Dengan Wanita Bernafsu Tinggi Rekan Kerja

Cerita Dewasa Wanita Bernafsu Tinggi

Cerita Seks Pak Robert Dengan Wanita Bernafsu Tinggi Rekan Kerja

Cerita Sex Bernafsu – Cerita Seks Pak Robert Dengan Wanita Bernafsu Tinggi Rekan Kerja ini merupakan cerita tentang seorang pebisnis yang memiliki rekan kerja sama yang super sibuk, sehingga mereka sulit sekali berjumpa. Setiap ada kesempatan, mereka selalu mengadakan pertemuan dengan mengajak istri mereka masing-masing, sehingga mereka cukup dekat mengenal keluarga satu sama lain. Namun yang berbeda adalah Pak Roni dan istri Pak Robert yang diam-diam ternyata memendam rasa.

Siang itu aku memutuskan untuk mampir ke rumah Pak Roni untuk sekedar mampir dan berbicara empat mata mengenai masalah bisnis yang sedang kami kerjakan. Di pertengahan jalan aku memutuskan untuk menelepon terlebih dahulu, karena sebelumnya aku belum membuat janji dengan Pak Roni.

“Halo..” kataku saat telepon itu tersambung.

“Halo…” suara wanita yang sangat lembut terdengar dari seberang sana.

“Bu Lidya? Saya Robert, Bu.”

“Ya, Pak Robert. Apa kabarnya nih Pak?

“Baik, Bu. Pak Roninya ada Bu?

“Suami saya lagi tidak ada di rumah Pak, kemarin ia berangkat ke Yogyakarta.”

“Waah. sayang sekali. Saya pikir beliau di rumah, ini saya sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Kalau begitu saya tidak jadi ke sana ya Bu.

“Loh, kenapa ga jadi Pak. Mampir saja sesekali, sudah lama juga kan kita tidak bertemu.”

“Oooh, begitu. Tidak apa-apa nih Bu kalau saya mampir? Sebenarnya saya ingin bertemu Pak Roni untuk membicarakan masalah bisnis kami.”

“Tidak apa-apa Pak. Mampir saja, siapa tahu saya bisa membantu masalah bisnis Pak Robert dan suami saya.”

“Baiklah, saya akan mampir sebentar.”

“Oke, saya tunggu ya Pak. Bye”

Aku pun kembali melanjutkan perjalananku menuju rumah Pak Roni setelah dipaksa oleh Bu Lidya barusan. Begitu tiba di rumahnya, Bu Lidya menyambutku di depan pagar. Meski sudah berusia kepala 3, Bu Lidya memiliki tubuh yang terawat, ia rajin berolah raga sehingga tetap seksi dan montok seperti masih berusia 20 tahunan. Sungguh menggoda jika menatapnya terlalu lama. Aku mengenal keluarga ini sudah cukup lama, selain rekan bisnis. Kami juga sering berkumpul bersama untuk sekedar makan dan berbincang-bincang jika kebetulan sedang ada waktu.

Semenjak hari itu aku jadi sering bertemu dengan Ibu Lidya, karena kebetulan Pak Roni sibuk sekali. Jadi aku lebih sering janjian dan meeting dengan istrinya untuk membahas bisnis kami. Karena saking seringnya kami meeting, tiba-tiba muncul otak kotorku untuk menyetubuhinya. Pernah suatu ketika aku menggodanya, namun Lidya hanya tersenyum saja.

Beberapa kali kami bertemu di luar, suatu hari Bu Lidya berhalangan dan memintaku untuk meeting di rumahnya saja karena kebetulan mobilnya sedang di service.

“Silahkan masuk” katanya sambil membuka pintu pagarnya.

“Terima Kasih.”

Setelah masuk ke dalam rumahnya, ia mempersilahkanku duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

“Mau minum apa, Pak?”

“Apa saja, Bu.”

“Okee..”

Ia pun segera ke dapur dan mengambilkan minuman untukku. Aku tidak bisa menyembunyikan ketertarikanku padanya pagi itu, bagaimana tidak, di rumah ia mengenakan kaos tank top dan dipadukan celana hot pants, lekuk tubuhnya nampak jelas karena pakaian ketat yang ia kenakan.

“Maaf ya agak lama.” Sambil mengatakan itu ia membungkuk dan meletakkan gelas di meja, tak sengaja payudara terlihat dari sela-sela tank top. Membuat darahku berdesir kuat melihat pemandangan itu

“Silahkan diminum Pak.”

Mataku tak bisa diam, tak sengaja mengarah ke selangkangannya yang menampilkan sosok daging yang menggembung di celananya. Vaginanya terceplak jelas di sana.

“Terima kasih, Bu.” kataku sambil mengambil minuman yang disediakan.

“Maaf ya, jadi merepotkan karena harus mampir ke rumah.” kata Lidya sambil menyilangkan kakinya, membuat vagina yang terlihat tadi kini menghilang.

Namun kali ini mataku malah tertuju pada paha mulusnya ya putih. Hal-hal mesum mulai terlintas di kepalaku. Lamunanku buyar, kudengar tiba-tiba Bu Lidya menegurku karena menyadari mataku tertuju pada pahanya.

“Hayooo.. Pak Roni lihat apa?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

“Hmm. Tidak apa-apa, Bu,” jawabku kagok sambil kembali mengambil gelas yang ada di meja.

“Ayo ngakuuu..” katanya lagi sambil terus menggoda dengan senyuman dan pandangan mata nakalnya.

“Hari ini anda terlihat seksi, Bu.”

“Memang begini seksi ya.” katanya sambil melihat pakaian yang ia kenakan.

“Sudah, Bu jangan diteruskan. Saya jadi malu.”

Mata kami sambil bertatapan beberapa saat tanpa berkata-kata. Pelan-pelan kuberanikan diri untuk mendekatkan wajahku ke wajahnya. Nafasnya yang memburu terdengar jelas saat kami berdekatan, tangannya diletakkan ke pahaku saat bibir kami hampir bertemu. Bersamaan dengan itu dimulailah adegan-adegan cerita dewasa wanita bernafsu tinggi ini.

“Ibu wangi banget” bisikku sambil menempelkan bibirku ke bibir seksinya.

“Mmmhhhh…” desahnya saat mulai kulumat bibirnya.

“Pantatmu montok sekali Lindya” kataku sambil kuremas pantatnya.

“aaahhhhh…” Desahnya.

Ibu Lidya melepaskan ciuman dariku dan lebih mendekatkan dirinya lagi, Mulutnya terbuka dan menyambar bibirku dengan ganasnya, sambil mendesah ia mencumbu bibirku dengan penuh nafsu.

Aku pun kaget melihat reaksi Bu Lidya yang liar ini. Dengan liar ia melumat bibirku, tak ketinggalan lidahnya juga ikut kebagian peran untuk bermain bersama lidahku. Tangannya kini mulai berani memegang dan memeras kemaluanku yang sudah mengeras daritadi.

Tanganku juga tak mau diam saja, mulai kusentuh payudaranya hingga kembali terdengar desahan lembut.

“aaaaahh..”

Sambil menjilati lehernya, aku berbisik.

“Payudara Ibu montok sekali.”

Tanpa berhenti payudaranya terus kuremas-remas.

“eemmmhhh, kamu suka ya..eemmhhh..” desahnya tepat di telingaku.

Dengan sangat liar, Lidya mencium dan menjilat-jilat leherku. Ditengah-tengah jilatannya ia berbisik

“Pindah ke kamar aja yuk..” ajaknya.

Ia melepaskan ciumannya, dengan mata memendang nakal tangannya meremas kemaluanku.

“Kita selesaikan di kamar.. ak mau penis iniii…” ia mendesah sambil meremas kemaluanku, pandangan matanya pun begitu bernafsu.

Sambil mengajaknya berdiri aku kembali melumat bibirnya sambil kujilati. Setelah itu kami berjalan bergandengan menuju kamarnya, sesekali kuremas pantat montoknya.

Begitu sampai di kamarnya, Lidya langsung melepaskan semua pakaiannya tanpa basa-basi. Payudaranya begitu menggoda dan putingnya berwarna agak kecoklatan. Ditambah dengan vaginanya yang dihiasi oleh bulu-bulu halus.

“Lepasin donk baju sama celananya,”

“Kamu luar biasa Lidya.”

“Pak Roni paling suka apa?” tanya Lidya sambil membantuku melepaskan pakaian.

“Aku suka yang ini..” Jawabku sambil meremas payudara dan meraba vaginanya.

“Dasaar….” katanya sambil menyambar penisku dan mengelus-elus.

Segera kucium kembali bibirnya dibalas dengan ciuman juga olehnya disertai dengan tangannya ya tetap meremas penisku dan mengocoknya.

“Aaah..” Lidya mendesah saat tanganku meremas payudaranya, sesekali putingnya juga kupilin dengan jempol dan telunjukku.
Kami bercumbu dalam posisi berdiri hingga akhirnya kurebahkan tubuhnya ke atas ranjang.

“Aaahhhh.. enaaaknyaaa…” desah Lidya ketika vaginanya mulai kujilati. Sementara tanganku terus meremas payudaranya yang kini terletak diatas kepalaku.

“Aaahhh..aaahhh…..Lidahmu Ron…” Ibu Lidya menjerit sambil menggelinjang ketika kugerakkan lidahku menjilati klitoris dan lubang kewanitaannya secara bergantian.

Saat mulai kumasukkan jarinya ke dalam vagina, Lidya semakin mengejang. Jariku serasa dipijat-pijat oleh dinding vaginanya.

“Aaahhh….” Kali ini tidak hanya mendesah, tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke arah vaginanya.

“Aku uda ga tahan Ron…. Aku mau keluaarr..” Lidya menjerit sambil menggerakkan pinggul dan menjijili vaginanya ke muluku.

“Aaaaaaaahhhhhhh….ooohhhhhhhh….” Jeritnya saat mencapai klimaks, disusul dengan tubuhnya yang melemas setelah beberapa saat.

Cerita Dewasa Wanita Bernafsu Tinggi

Cerita Dewasa Wanita Bernafsu Tinggi

Aku bangun dan kemudian menindihnya.

“Rasanya gimana, Bu?” tanyaku sambil mengecup bibrnya.

Pertanyaanku tak dijawab, ia sibuk membalas ciumanku meskipun saat itu mulutku masih basah dengan cairan vaginanya.

“Gantian yaaaa…” katanya sambil bangun dari posisinya.

Ia mulai mengocok penisku dan mengocok dengan perlahan.

“Hmmmmm… enak buu…”

“aaaahhhh…” Giliranku yang mendesah saat Lidya mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya.

Hisapan demi hisapan yang diselingi dengan jilatan memberiku kenikmatan yang dahsyat, sesekali lidahnya bermain di pantatku dengan nakalnya.

“Nikmat sekali, Bu Lidya…” kataku sambil terpejam lalu meraih kepalanya dan kugerakkan maju mundur di penisku.

“Aaahhh.. nikmat Bu..” kataku sambil menjambak rambutnya

“Ayo naiiik..” pintaku padanya.

Mendengar permintaanku ia menghentikan kegiatan mulutnya dan segera menaiki tubuhku, Penisku diarahkan ke lubang vaginanya, begitu berhasil masuk sepenuhnya. Ia mulai bergoyang naik turun sehingga penisku keluar masuk vaginanya.

“Aku sudah lama menghayalkan ini semua..” katanya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

“Aku juga sama, Bu.. Aaaahh..” kataku sambil meremas-remas payudaranya yang ikut bergerak mengikuti gerakan tubuhnya.

“Oooohhhh..sejak pertama bertemu, aku mulai menyukai Pak Roni. Aaaahhh…” ia menutup kalimat itu dengan kecupan ke bibirku.

Aku pun tersenyum dan membalas kecupannya sambil meremas pantatnya dengan kedua tanganku.

“aaaahh.. Pak Roni… Enak sekalii…” Bu Lidya semakin mempercepat goyangnya di atas tubuhku.

“aaaaahhhhh… Roni.. aahhh….” tubuhnya bergerak semakin cepat dan menggeliat-geliat. Hingga akhirnya, terasa ada cairan yang keluar dari vaginanya. Bu Lidya orgasme.

“Aaaahhhhhh…” Bu Lidya menjerit sambil memelukku dengan erat. Pinggulnya disesakkan ke depan agar penisku semakin dalam ke vaginanya.

Tubuhnya mengejang dan terus menggelinjang.

“Aahhh…. Pak Roni.. enak sekali…” Bu Lidya berbisik sambil mengecup bibirku.

Setelah agak tenang, aku mengubah posisi Bu Lidya menjadi menungging  Kuarahkan penisku ke vaginanya dan kumasukkan perlahan. Aku mulai mengocok penisku sedalam-dalamnya.

“Aaahhh.. enak sekali vaginamu Lidya…”

“OOoooohhh.. penismu terasa dalam sekali di vaginaku.. teruus Pak…. masukkan sedalam mungkin….”

Pantatnya ikut digoyang-goyan dan diputar beriringan dengan goyanganku.

“aaaahhhh.. Penismu terasa semakin keras dan besar Ron.. aaahhh.. aaahhh… terus ron..Enaaakk.. ”

Aku kembali merubah posisi, kali ini Lidya rebahan sambil mengangkang di ranjang, nampak vaginanya yang merekah sangat menggoda. Aku kembali memasukkan penisku ke sana.

“Aaaahhhh.. ” kami sama-sama mengeluarkan desahan saat penisku menerobos vaginanya.

Bu Lidya merangkul dan menjilat leherku kemudian mulai berbisik..

“Aaahhh…. Goyanganmu enak sekali.. ditambah lagi penismu besar dan panjang..aaahhhh….Dalam Pak…”

“Vaginamu juga sempit sekali Bu.. Penisku terasa sesak didalmnya.. Peret sekali Bu…”

Semakin lama pergulatan kami semakin liar, hingga tiba-tiba Bu Lidya menjambak rambutku.

“Pak Roniiii….” Desah Bu Lidya….

Aku mengakat kepala dan menatap wajahnya, ia pun mengecup bibirku lagi sementara pinggulnya bergoyang seiringan dengan goyanganku.

“Aaahhh.. Pak Roni.. kalau begini aku bisa ketagihan Pak… Aaaaahhh…”

“Aku pun sama Lidya.. Vaginamu benar-benar terasa nikmat… ooohhh…”

Pinggul kami semakin lama semakin cepat hingga akhirnya aku merasa spermaku ingin keluar..

“mau keluarin dimana..?” bisikku bertanya padanya.

“Di dalam aja Pak.. Aaaahh..” jawabnya.

Mendapat jawaban itu aku pun segera mempercepat goyangan pinggulku, dan terus memasukkan penisku sedalam mungkin. Penisku terasa berkedut bersamaan dengan vagina Lidya yang juga terasa memijat-mijat penisku.

“Aaaahhhh.. Aku mau keluaar niihh..oooohhh..” desahku

“Sama Paaak.. ooohh. aku juga mau keluar.. aaahhh….“

Lidya kembali mengejang dan menggelinjang hebat. Pinggulnya bergerak tidak karuan membuat penisku tak mampu menahan rasa nikmat yang diakibatkan oleh goyangannya. Akhirnya aku pun orgasme dan mengeluarkan spermaku di dalam vaginanya.

“aaaaaahhhhh..” desah kami bersamaan.

Setelah mencapai klimaks bersama, kami sempat berciuman dan bercumbu selama beberapa menit, sebelum akhirnya kami mandi dan membersihkan tubuh kami bersama. Usai mandi, Lidya memelukku dari belakang dengan kondisi telanjang dan berkata, “Aku sayang kamu Ron. Sering-sering ya kita lakukan ini.”

– Tamat –

Demikianlah akhir cerita dewasa wanita bernafsu tinggi ini berakhir. Terima kasih ya.

Baca Juga : Cerita Sex Tante IRA