Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku

Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku

Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku

otakmesum.online – Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku ini terjadi secara tidak sengaja. Berawal dari keisenganku membeli buku tentang indera ke enam dan alam bawah sadar di toko buku. Inti dari buku itu adalah mengajarkan begini, jika kita menginginkan sesuatu maka kita harus mencoba menvisualisasikannya dan suatu hari keinginan yang kita visualisasikan itu akan terjadi. Berupa mimpi? Bukan. Sebab dalam upaya membuat indera ke-enam seseorang bekerja justru kita tidak boleh tertidur, yang diperlukan yaitu menurunkan gelombang listrik di dalam otak dari beta menjadi alfa. Caranya? Gampang sekali.

Kita cukup memejamkan mata, membayangkan menuruni tangga spiral dengan minimal 10 gigi. Saat anda membayangkan ini, gelombang listrik di otak anda akan menurun frekuensinga dari 13 cycle atau lebih perdetik, menjadi 8-13 cycle per detik. Kelihatannya mudah tetapi butuh latihan yang tekun. Nah di saat itulah kita memasuki bawah sadar (unconsciousness)

Apa keinginan saya? Ini dia yang menarik. Aku sangat ingin menikmati tubuh Ibu Anita, ia merupakan ibu kostku. Usianya yang sudah mencapai diatas 40 tahun membuatku merasa aman dari ancaman kehamilan jika menyetubuhinya ditambah lagi pasti terawat sehingga bebas dari penyakit menular. Dari beberapa artikel yang kubaca, seorang wanita akan mendapat tambahan hormon esterogen jika bercinta dengan lelaki yang berusia lebih muda. Katanya, kalau wanita kekurangan hormon ini akan menderita osteoporosis, yaitu tulang menjadi rapuh, mudah patah.

Meskipun sudah kepala empat, tapi kecantikannya masih dahsyat. Wajah Bu Anita masih terlihat ayu. Kulitnya berwarna kuning langsat, tubuh langsing semampai. Secara legendaris, wanita sunda sangat rajin memelihara wajah dan tubuhnya. Mandi lulur sudah seperti prosedur tetap mingguan. Wajahnya selalu dipakaikan beragam kosmetik. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang mengesankan. Bau badannya juga harum.

Sudah tiga tahun aku tinggal di kostnya, kembali ke masalah latihan indera ke enamku, dengan rajin kulakukan meditasi, namun masih belum membuahkan hasil. Saat hampir putus asa, tiba-tiba malam itu sudah pukul 10.30, pintu kamarku diketuk orang.

“Mas Udin.. Mas Udin”
“Ya, Bu..”
“Tolong kerokin ibu sebentar ya..”

Pucuk dicinta, ulam tiba, burung dahaga, apem menganga..hatiku berjingkrak bukan main.

“Sebentar Bu, saya ganti pakaian dulu”

Kamar-kamar yang dipakai kost letaknya di belakang rumah utama, dipisahkan oleh satu kebun kecil. Total ada enam kamar, membentuk huruf L. Masing-masing kamar berpenghuni satu orang. Kebetulan waktu itu masa liburan, jadi kondisinya sepi penghuni. Namun karena aku harus mengejar “deadline” skripsi, terpaksa aku tidak mudik.

Singkat cerita aku duduk dalam posisi bersimpuh di tepi tempat tidur di kamar Ibu.  Badan Ibu sudah dalam posisi tengkurap di depanku. Nampak punggungnya yang putih, mulus tanpa penutup apapun. Hanya tali BH sudah dilepas, tetapi buah dadanya masih sedikit terlihat, tergencet di bawahnya..

Leher Ibu Anita terlihat jenjang, putih, dengan rambut yang panjang sampai ke pinggang, disibakkan ke samping. Punggung ke bawah ada sejenis kain sarung yang diikatkan sekenanya secara longgar. Ke bawah, kain itu hanya menutupi sampai lipatan lutut. Di bawahnya betis yang halus, kencang.
Wajah Bu Anita menghadap ke samping di mana aku duduk. Sesekali meraba lutut saya, entah apa maksudnya. Pemandangan ini mampu dan makin mengeraskan burungku yang sejak dari kamar tidurku mulai melongok, eh.. bangun menggeliat.

Dalam waktu 15 menit seluruh punggung Nyonya sudah aku keroki. Suasana sekitar kamar hening, hanya degub jantungku yang makin mengeras. Burungku, pelan tapi pasti makin menegang juga. Aku dan Ibu Anita hanya diam. Bingung mencari topik pembicaraan yang ada aku melamun dengan pikiran kotor yang melayang-layang.

“Pinggangnya juga ya Mas..”
“Ya.. Ya.. Bu..”, jawabku terbangun dari lamunan birahi.

Aku tarik kain yang menutupi pinggang Bu Anita. Ya ampun.. Rupanya Ibu sudah melepas celana dalamnya. Kini di depan mataku ada pemandangan yang, Waduh.. Ada gambaran parit sempit di tengah tulang pinggang memanjang ke bawah.. Terus.. Ke bawah, berujung di satu celah sempit di antara dua bukit pantat yang putih padat.. Menggemaskan.. Aku bayangkan.. Apa yang ada di depan pantat itu..

Tiba-tiba Bu Anita membalikkan badannya..

“Depan ya Mas..”

Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku

Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku

Tindakan Bu Anita ini lah awal Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku ini dimulai. Dengan mata terbelalak kaget, kini aku melihat pemandangan yang luar biasa, yang belum pernah kulihat selama 22 tahun berada di kolong langit. Seorang wanita dengan kulit langsat telanjang bulat, dengan lingkaran perut pinggang ramping, buah dada masih lumayan besar, meskipun sudah rebah ke samping. Di tengan buah dada yang ber “pola” tempurung, terlihat puting besar warna hitam dikelilingi area hitam kecoklatan.

Di bawah pusar ada rambut yang mula-mula jarang tetapi semakin ke bawah semakin lebat, sepeti gambaran menara “Eiffel” dengan ujung runcingnya menuju pusar. Di pangkal tumbuhnya rambut terdapat gundukan kemaluan yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh rambut, bak gambaran hutan kecil.. Ampun mana tahan.. Mau pecah rasanya kemaluanku menahan tekanan akumulasi cairan di pembuluh darah kemaluanku.

“Bu, aku nggak tahan lihat begini..?”
“Maksudnya, Mas Udin sudah lelah..?”
“Bukan, Bu.. Burung saya sudah.. Nggak bisa.. Nggak bisa.. Saya nggak tahan lagi..!”
“Lho, kok baru bilang sekarang.. Ayo naik..”, sambil berkata demikian tangan kanannya melambai, mempersilakanku menaiki perutnya..

Seperti kucing kelaparan, aku segera mengangkangi perut Ibu, aku mau mencium pipinya, lehernya, mau melumat bibirnya. Tetapi gerakanku membungkuk terganjal burungku yang keras dan sakit waktu tertekuk. Malah ketika kupaksakan dan terus tertindih perutku, pertahanan katupnya jebol.

Karena tiba-tiba.., crut.. crut.. crut.. Dari burungku tersembur, memancar air mani, yang disertai rasa nikmat. Ejakulasi!! Semburan air maniku mengenai dada Ibu, leher dan perutnya.
Setelah menyembur, burungku sedikit kendur, aku peluk dan kukulum dengan berapi-api bibirnya. Rupanya Ibu Anita merespon dengan penuh gairah juga. Aku gigit dengan lembut bibirnya, sesekali aku sedot lidahnya. Lima menit lamanya, baru aku tersadar.

“Maaf Bu, air mani saya tadi..”
“Ah, nggak apa-apa, itu tandanya Mas Udin masih “perjaka ting-ting”, nanti sebentar juga bangun lagi.”, sambil berkata demikian, Bu Anita kembali mencium bibirku. Tentu saja aku membalasnya dengan lebih bernafsu.

Kecuali bibirku melumat bibir Bu Anita, tanganku juga meraba buah dadanya. Memang sudah tidak gempal, tapi masih “berisi” 80 persen. Kedua tanganku masing-masing meraba, memeras-meras, memilin-milin putingnya. Kadang saking gemasnya cengkeraman tanganku ke buah dadanya agak keras, menyebabkan Bu Anita meringis menggeliat. Begitu juga bila putingnya kupilin agak kuat, Bu Anita bereaksi..

“Enak, enak.. Tapi sakit Mas.. Jangan keras-keras..”

Tanpa terasa saat aku menggulati tubuhnya, mendekami dada, perut, menekan kemaluan Ibu dengan kemaluanku, terasa burungku mulai menggeliat lagi. Makin lama makin keras.

“Bu, burung saya.. Ibu mau.. Lagi..?”
“Nah, apa khan.. saya bilang, ayo.. lagi, tapi ‘ntar.. Yang, aku bersihkan badanku dulu ya.. ya..”

Ibu Anita masuk ke kamar mandi dalam di ruang tidur. Keluar dari kamar rambutnya terlihat sedikit basah, sebagian terjurai di lengan. Ya.. Tuhan.. Cantik sekali dewi ini..

Aku pun juga masuk ke kamar mandi, membersihkan bagian badan yang terkena air mani. Keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat, terlihat burungku tegak, keras mendongak ke atas membentuk sudut 45 derajat dengan garis horizontal. Batangnya besar, warna kehitaman dengan tonjolan pembuluh darah membujur, sebagian melintang. Seperti tongkat ukiran. Ujungnya, gland kemaluan, besar, kemerahan, membentuk topi baja yang mengkilat. Antara gland kemaluan dan batang terlihat leher kemaluan yang dangkal. Rasanya aku mau berkelahi dengan membawa senjata golok. Waktu Bu Anita melihat aku dan memperhatikan kemaluanku..

“Hei.. Gede buanget.. Hebat buanget.. Pasti nikmat buanget..” Aku menyahuti tiruan iklan itu, dengan meletakkan ibu jari tangan kananku di depan bibirku..
“Sssstt..” Tentu saja Ibu senyum atas jawaban spontanku.

Langsung aku naiki perutnya. Dengan lutut menahan badan, aku sedikit menunduk, memegang kemaluanku. Segera kumasukkan ke liang kemaluan Bu Anita. Aku takut kalau nanti terlambat masuk ke kemaluan, maninya tersembur lagi keluar. Bu Anita maklum juga kelihatannya. Kupegang kemaluanku, kepalanya kuhadapkan di depan vaginanya, lalu kudorong masuk. Bless.. Lega sekali rasanya. Kalau nanti muncrat, ada di dalam liang kemaluannya.

Lalu aku rebahkan tubuhku ke depan dengan bertumpu pada kedua sikuku. Bertemulah dadaku dengan buah dada Bu Anita, bibirku dengan bibirnya. Kedua tanganku memegang pipi Ibu Anita, kucium mesra, lalu kucucuk-cucukkan bibirku pada bibirnya, eh.. menirukan burung yang bercumbu. Sesekali tanganku meremas buah dadanya, memilin putingnya, terkadang mulutku turun ke bawah, menghisap putingnya, bergantian kanan dan kiri

Akan halnya kemaluanku waktu kumasukkan ke liang kemaluannya, rasanya memasuki ruang kosong, berongga. Tetapi setelah itu rasanya ada kantong yang menyelimuti. Permukaan kantong itu bergerigi melintang, pelan-pelan kantong itu “meremas “kemaluanku. Tak ingin cepat berejakulasi maka kutarik kemaluanku, kantong kemaluan itu tidak “mengejar”nya. Kumasukkan lagi seperti tadi, terasa masuk ruang kosong, sebentar liang kemaluan mulai meremas, kutarik lagi. Begitu beberapa kali. Terkadang kemaluanku agak lama kutarik keluar, sampai tinggal “topi bajanya” yang ada di antara ‘labia mayora’-nya. Terus begini Bu Anita mencubitku..

“Masukkan lagi Yang..”

Gerakkan in-out ini makin cepat, “pengejaran” kemaluan oleh sekapan kantong kemaluan juga makin cepat. Di samping itu di pintu masuk, bibir luar (labia mayora) dan bibir dalam (labia minora) juga ikut “mencegat” kemaluanku. Makin cepat aku keluar-masukkan kemaluanku, Bu Anita terlihat makin menikmati, demikian juga dengan diriku. Ibarat mendaki gunung hampir tiba di puncaknya. Kecepatan kemaluanku memompa kemaluannya semakin bertambah cepat, denyut nadiku semakin bertambah, nafas juga semakin cepat. Terlihat juga wajah Bu Anita semakin tegang menanti puncak orgasme, nafasnya terlihat juga semakin kencang. Cairan di liang kemaluan Nyonya juga terasa semakin banyak, ibarat oli untuk melicinkan gesekan kemaluanku. Peluhku mulai menetes, jatuh bercampur peluhnya yang tercium sedap dan wangi.

Makin cepat, makin tinggi.., tiba-tiba kemaluanku terasa disekap rongga kemaluannya dengan kuat.. Kuat sekali dengan denyutan yang cepat tetapi dengan amplitudo yang rendah. Orgasme! Ibu mencapai orgasme. Di saat itu lengan Bu Anitamemeluk leherku kuat sekali, sedang tungkainya memeluk pantatku dengan kencang.

“Aihh..”, terdengar desah kepuasan keluar.

Beberapa menit kemudian lubang kemaluanku terasa jebol, cairan menyemprot keluar entah berapa cc. Nikmat.., nikmat sekali.. Nikmat luar biasa. Orgasmenya terjadi lebih dulu dari ejakulasiku. Kalau saja Bu Anita masih bisa hamil, kata dokter anak yang lahir nanti adalah pria.

Saya masih tetap memeluknya sambil mengendurkan nafas. Pelan-pelan kemaluanku mulai mengendur, mengkerut. Tapi rupanya ia merespons. Paha dan tungkainya diselonjorkan (diluruskan). Maksudnya memberi jalan agar kemaluanku keluar.

“Terima kasih Mas Udin..Mas hebat sekali..”, bisiknya.
“Kau cantik sekali Bu Anita, secantik bidadari..”, balasku

Badanku kurebahkan di samping badannya, memeluk dirinya yang tidur telentang. Kami tidur dalam keadaan telanjang, hanya ditutupi selimut. Nikmatnya Bu Anita, nikmatnya wanita, nikmatnya dunia. Demikianlah akhir bahagia Cerita Seks Nikmatnya Tubuh Ibu Kostku ini. Terima kasih.

–Tamat–