Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

Nafsu Terpendam – Ini merupakan pengalaman seorang ABG yang bernama Ponco ketika dirinya mendapatkan sebuah kesempatan langka yang menarik, sehingga dituangkan dalam bentuk Cerita Seks Terbaru Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku.

Ponco adalah seorang pemuda dari Semarang yang bersekolah di salah satu SMU terkenal di Jakarta. Dia tinggal di suatu rumah kost di daerah Kota yang dekat dengan sekolahnya. Rumah yang di tinggalinya ada 15 orang yang terdiri dari lelaki dan perempuan, dan kebanyakan dari mereka sudah bekerja.

Di rumah itu juga ada 2 orang pembantu wanita yang bernama Bi Tuti dan Bi Inah, keduanya berumur sekitar 35 tahun, mereka berdua walaupun seorang pembantu tetapi mempunyai tubuh yang sexy yang tidak kalah dengan penghuni kost lainnya. Dan seorang pembantu lelaki yang bernama Dino berumur 26 tahun yang membantu membersihkan rumah.

Ponco tergolong anak yang supel dan suka membantu anak-anak kost lainnya, dan juga kepada para pembantu. Dan dalam beberapa hari saja dia sudah dapat bergaul dengan anak-anak kost yang lainnya. Di antara anak kost yang tinggal, ada beberapa orang yang sangat dekat dengan Ponco.

Di hari pertama sekolah adalah hari yang kurang menyenangkan bagi Ponco, karena hari itu adalah hari perploncoan bagi murid baru di sekolah itu. Banyak tugas yang diberikan oleh kakak kelas yang dimintai tanda tangan, dan setelah pulang Ponco kebingungan untuk mencari pesanan kakak kelasnya itu.

Untung saja ada Bi Tuti yang sudah baik dengan Ponco, karena dia yang dititipi pesan oleh orang tua Ponco untuk membantu Ponco jika dia butuh sesuatu, dan dia juga telah diberi sejumlah uang oleh orangtua Ponco yang kaya di daerahnya.

Setelah menitipkan sejumlah nama barang yang dibutuhkan oleh Ponco dan uang kepada Bi Tuti, Ponco langsung masuk ke kamarnya, ganti baju dan langsung mandi. Siang hari suasana kost sepi, sebagian besar orang kost sedang pergi bekerja, hanya ada beberapa orang saja yang ada di kost itu dan sedang di dalam kamarnya masing-masing, hanya Bi Inah dan Dino yang sedang santai nonton TV di ruang tengah tempat orang kost ngumpul setiap malam, walaupun mereka masing-masing banyak yang membawa TV sendiri termasuk Ponco.

Setelah mandi, Ponco tiduran di kamarnya yang ber-AC itu sambil melihat TV. Tidak lama kemudian Ponco ingat VCD dewasa yang dia beli ketika dia masih di Semarang.

“Ah.., kenapa tidak kusetel saja VCD itu dari pada liat acara TV yang nggak bagus.” pikir Ponco dalam hati. Kemudian Ponco ngambil VCD dari tempat persembunyiannya dan menyetelnya. Tidak lama kemudian tampak wanita bule dengan body sexy dan buah dada yang montok sedang mengaraoke kemaluan pria bule yang panjang dan masih lemas.

Ponco menonton film tersebut sambil berbugil ria, dan memainkan alat kelaminnya sendiri. Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba pintu dibuka, dan tampak Bi Tuti membawa barang-barang pesanan Ponco, karena terkejut Ponco menutupi badannya dengan selimut dan pura-pura tidur, tetapi film di TV tetap jalan karena tidak sempat dimatikannya. Bi Tuti langsung masuk ke dalam kamar karena melihat Ponco sedang tidur. Dan ketika dia melihat TV yang sedang memutar film BF dengan adegan si pria bule itu sedang menjilati kemaluan wanita bule tersebut, Bi Tuti langsung kaget dan tertegun sampai-sampai barang bawaannya terjatuh.

Bi Tuti tertegun melihat adegan seru tersebut, dan melihat ke arah Ponco yang dikiranya sedang tidur itu. Dan dengan perlahan dia menutup dan mengunci pintu kamar Ponco, lalu duduk melihat film tersebut. Ponco yang mengintip dari sudut matanya sampai terbingung-bingung, dan tidak tahu harus bagaimana, tapi dia tetap pura-pura tidur sambil melihat tingkah laku Bi Tuti yang semakin salah tingkah dan berganti-ganti posisi duduk. Dalam hati Ponco berkata, “Nah loe.. liat dech sana, ntar gue kerjain baru tau rasa dech..!”

Tapi ketika melihat tingkah laku Bi Tuti yang sedang horny itu sambil meremas-remas payudaranya sendiri dan mendesah-desah, Ponco lama kelamaan juga ikut horny, dan adik kecilnya ikut bangun. Dan ketika Bi Tuti menoleh ke arah Ponco yang dikiranya sedang tidur itu, dia terperanjat melihat gundukan selimut yang bangun seperti gunung itu.

“Wah.., ini anak tidur apa pura-pura tidur nih..? Kalo tidur kok burungnya bisa bangun..?” pikir Bi Tuti dalam hati. Dan dengan berani dia mendekati Ponco, lalu membuka selimut yang menutupi separuh tubuh Ponco yang sedang bugil di baliknya. Ponco sampai kaget karena dia tidak menyangka kalau Bi Tuti akan berani berbuat seperti itu, tapi dia tetap diam saja sambil menanti apa yang akan dilakukan Bi Tuti terhadap dirinya.

“Hmm.. boleh juga nich burung, pasti rasanya enak karena punyanya anak muda. Sudah lama aku nggak ngerasain burung seperti ini.” kata Bi Tuti pelan sambil memegang dan mengelus-elus burung milik Ponco.

“Aduh.. gawat nich aku ngga bisa tahan kalo diginiin, gimana yach..?” kata Ponco dalam hati. Sedangkan Bi Tuti semakin mendekatkan bibirnya ke arah burung Ponco yang semakin keras karena belaian tangan Bi Tuti.

Lalu dikecupnya burung Ponco, dan dijilat-jilat dari pangkal sampai ujung kepala helm-nya. Dan lidah Bi Tuti dimainkan di lobang kemaluannya membuat Ponco merinding dan tidak tahan, akhirnya Ponco membuka matanya.

“Bi Tuti..! Lagi ngapain Bi..?” seru Ponco pura-pura kaget.

“Nak Ponco.. Nak Ponco tenang aja yach..! Pokoknya enak dech.. mm..” kata Bi Tuti dengan cuek dan terus menjilati dan mengulum kepala helm Ponco yang seperti topi Hitler itu.

“Tapi bi.. ahh.. nanti kalo ketauan orang bisa berabe i.. aahh.. ss..” kata Ponco sambil menahan kenikmatan hisapan Bi Tuti.

“Nggak akan.. pintunya udah saya kunci.. tenang saja Nak Ponco.. kamu nikmati saja yach.. mm.. sudah lama Bibi nggak merasakan batang seperti ini.. mm.. nikmat sekali.. mm..” dengan cuek Bi Tuti terus menghisap dan menjilati batang kemaluan Ponco yang tegang membesar dan berurat itu.

Lidah Bi Tuti menari-nari ket sana ke sini sambil sesekali dimasukkannya batang kemaluan Ponco ke dalam mulutnya, dan disedot-sedot dengan sekuat-kuatnya sampai-sampai pipi Bi Tuti kempot, seperti orang sedang menghisap cerutu.

“Akhh.. Bi.. ahh.. enak sekali Bi.. uhh.. sedot yang kuat Bi.. akhh.. ya gitu Bi.. ss.. enak sekali Bi.. ahh..!”

“Nak Ponco jangan panggil Bibi dong.. mm.. panggil saja Tuti.. sruupp.. mm.. kan lebih enak didengarnya.. mm..!”

“Akhh.. iya dech.. okhh.. iya Tuti.. gitu sedotnya.. yang keras lagi.. oukhh.. terus Say.. Tuti juga jangan panggil saya Nak Ponco donkk.. hh.. panggil ajahh.. Poncoyhh.. uhhk..!”

“Mmm.. oke Say.. Ponco Sayang.. uumm.. punya kamu enak sekali dech.. mm..!”

Dan tangan Ponco pun mulai bergerilya menjelajahi tubuh Tuti. Mulai dari payudaranya yang masih montok itu, karena jarang disentuh sama suaminya kali. Tangan Ponco pun meremas-remas payudara Tuti dan memainkan putingnya yang sudah menegang itu dengan jarinya dari luar baju.

Bi Tuti yang sudah hilang kesadarannya melepas semua pakaian yang dikenakannya. Kini tampaklah tubuh Bi Tuti yang masih sexy dengan buah dada yang montok dan puting yang berdiri tegang karena nafsu dan hawa dingin dari AC yang menyentuh kulit puting Bi Tuti.

Dan tanpa di suruh, Ponco mulai menciumi Bi Tuti, bibir Bi Tuti dicium sampai Bi Tuti susah bernafas, dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Bi Tuti dari punggung sampai pantat Bi Tuti yang besar dan nungging seperti pantat bebek.

Pantat Bi Tuti diremas-remas sambil terus menciumi bibir Bi Tuti dan lidah mereka saling melilit satu sama lain. Bosan dengan pantat Bi Tuti, tangan Ponco pindah ke gundukan di dada Bi Tuti yang montok dengan ukuran 36B itu. Dan dengan lembut ditidurkannya Bi Tuti di atas tempat tidurnya, lalu dicumbunya Bi Tuti dari lehernya terus turun sampai di gudukan montok di dada Bi Tuti, dan dengan rakusnya Ponco menjilati dan menciumi buah dada Bi Tuti tanpa kena putingnya.

Jilatan demi jilatan, ciuman demi ciuman, tidak ada satu pun yang mengenai puting Bi Tuti yang sudah tegang itu.

“Ohh.. Ponco.. putingnya donk Say..! Putingnya.. sedot putingnya Sayang.. okhh..!” kata Bi Tuti mendesah.

“Nanti dulu yach.., sabar yach Say.. mm.. toket kamu indah dech.. dan mulus.. mm..!”

“Okhh.. jangan kamu siksa Tuti Sayang.. ohh.. putingnya donk.. sedot.. hisap yang kuat Say..!”

“Mmm.. iya nanti.. mm.. sabar yach..!”

“Mmm.. tega kamu yach.. awas kamu nanti kubalas.. oukhh..!”

Setelah merasa Bi Tuti tidak tahan lagi baru Ponco menjilat puting Bi Tuti, dijilatnya sedikit-sedikit sehingga membuat Bi Tuti menjadi semakin penasaran dan lebih terangsang. Dan bagaikan singa betina yang lapar, dengan kasar dijambaknya rambut Ponco dan di dorongnya payudaranya ke mulut Ponco, dan dia dengan geram menyuruh Ponco untuk menghisap putingnya yang sudah tegang itu.

“Ponco.. ayo kamu sedot puting ini, kalo tidak saya jambak lebih keras lagi.. ayo sedot.. hisap yang kuat..!”

Ponco pun menghisap dan menyedot puting Tuti dengan sekuat-kuatnya, sambil menggigit-gigit kecil di puting Tuti, dan memainkan lidahnya di puting Tuti, sampai-sampai Tuti kesetanan dibuatnya.

“Akhh.. gila kamu Say.. enak sekali.. pintar sekali kamu Say.. oukhh.. sedot terus yang kuatzclt Say.. iyah gitu.. akhh..!” cercau Bi Tuti keenakan.

Sambil mempermainkan buah dada Bi Tuti, tangan Riwrpgoy juga tidak tinggal diam. Tangannya bergerak lincah kesana-sini, meremas-remas payudara yang tidak sandang diserbu oleh mulutnya. Dan tangannya juga sudah mulai berani untuk menjamah dan meraba-raba bulu-bulu yang ada di selangkangan Bi Tuti. Bi Tuti yang sudah kesetanan itu juga sudah tidak malu-malu lagi, dia membimbing tangan Ponco untuk menjamah kemaluannya yang sudah basah oleh cairan yang keluar dari dalam liang senggamanya. Dan tangan Ponco dituntunnya untuk memainkan daging kecil yang ada di situ.

Ponco yang sudah diberi lampu hijau langsung memainkan jari-jarinya di klentit Bi Tuti yang sudah keluar dan membesar karena nafsu.

“Oukhh.. Say.. enak Say.. oukhh.. jari kamu lincah sekali Say.. ahh..!”

Jari tengah Ponco pun tidak tinggal diam dimasukkannya ke dalam liang surga Bi Tuti yang langsung membuat Bi Tuti blingsatan keenakan.

“Aahh.. hh.. kamu pinter sekali Ponco.. ahh..!”

“Ini baru pake jari Say.., belum pake lidah.. apa lagi pake barangku.”

“Ahh.., aku ngga kuat lagi Say.. akhh.. aku mau keluar Say.. ahh.. akhh.. akhh..!” badan Bi Tuti mengejang keras, dan jambakan di rambut Ponco semakin kuat, sedangkan Ponco semakin gencar memainkan jarinya di lubang kemaluan Bi Tuti sambil jempolnya ditekan-tekan ke klentit Bi Tuti, sedangkan mulut dan lidahnya semakin ganas menghisap dan menjilat buah dada Tuti.

“Akhh.. aku sampe Say.. aku sampee akhh.. akhh.. ahh..!” seru Bi Tuti.

“Ayo Sayang.., keluarkan semuanya.. keluarkan semuanya, keluarkan semua yang sudah lama kamu simpan..!” seru Ponco sambil mempercepat jarinya dan memperkuat sedotannya.

Dan akhirnya Bi Tuti terkulai lemas, dan nafasnya memburu setelah dia menerima kenikmatan yang telah lama tidak dia rasakan, dan dari kemaluannya meleleh keluar cairan kenikmatan yang langsung dijilati oleh Ponco.

“Mmm.. enak sekali rasanya.. mm.. cairan kamu enak sekali rasanya Say…. sruupp..”

“Ahh.. hh.. hh udah Sayang, nanti dulu Say.. ahh.. ss.. biar aku istirahat dulu sebentar. . hh.. hh.. nanti kita lanjutkan lagi..!”

“Mmm.. cairan ini sayang sekali kalo dibiarkan.. mm.. aku mau merasakannya lagi.. mm..” kata Ponco sambil tetap menjilati dan disedotnya cairan yang keluar itu sampai bersih dan tidak keluar lagi.

Setelah puas, Ponco bangkit dan memandang Bi Tuti yang sedang memejamkan mata sambil mengatur nafasnya yang tadi memburu sambil tersenyum puas, karena dia dapat memuaskan Bi Tuti. Setelah nafasnya teratur, Bi Tuti membuka matanya dan tersenyum kepada Ponco yang ada di hadapannya.

“Terima kasih Say.., aku puass sekali, sudah lama aku nggak merasakan kenikmatan seperti tadi. Okhh.. rasanya aku ingin terus larut dalam kenikmatan yang baru kurasakan. Suamiku tidak pernah bisa dan mau untuk melakukan seperti tadi yang kamu lakukan, sampai-sampai aku sudah keluar dulu sebelum punya kamu masuk ke punyaku. Suamiku hanya seorang pria yang egois, yang hanya mau keinginannya saja yang terpenuhi.” kata Bi Tuti teringat suaminya yang egois dan menjadi sedih.

Lalu Ponco memeluk Bi Tuti,

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

Cerita Seks Memuaskan Nafsu Terpendam Pembantuku

“Sudahlah Say, selama ada aku di sini, kamu kan bisa menikmati permainan kita yang indah dan nikmat ini, dan kamu nggak usah mengingat-ingat suami kamu yang egois itu.” hibur Ponco.

Dan Bi Tuti pun mengangguk setuju, lalu dengan lembut Ponco mencium kening Bi Tuti yang masih basah oleh keringat, dan pipi, lalu ke bibir. Dikecupnya bibir Bi Tuti dengan romantis, lalu mereka pun ciuman lagi dengan dasyatnya.

Begitu pandainya Ponco berciuman sampai Bi Tuti bangkit lagi nafsunya, dan dia menjadi lebih bersemangat dan liar. Diciumnya bibir Ponco dengan buas dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Ponco yang sekarang telentang di hadapannya.

Ciumannya terus mengalir bagaikan air, dari bibir turun ke leher dan ke dada Ponco yang bidang. Tangan Bi Tuti tidak bosan-bosannya memainkan kemaluan Ponco yang masih tegak menantang, dibelai dan dikocok, sedangkan lidahnya memainkan puting Ponco yang mengeras karena jilatan dan hisapan Bi Tuti.

“Ahh.. enak Say.. tangan kamu pintar dan lembut sekali memainkan burungku.. ahh.. iya.. hisap yang kuat Say.. ahh..!”

Lalu ciuman Bi Tuti turun lagi ke perut dan pusar Ponco yang kini menjadi sasaran lidahnya. Lidah Bi Tuti menari-nari di pusar Ponco dan membuat sensasi tersendiri bagi Ponco.

“Ukhh.. enak sekali.. ohh Sayy.. ahh..!”

Setelah bermain-main di pusar Ponco, ciuman Bi Tuti turun lagi, diciuminya bulu-bulu lebat yang tumbuh di daerah terlarang milik Ponco, lalu dikecupnya kepala burung milik Ponco.

“Cup.. mm.. punya kamu bentuknya indah dech Say.., bentuknya sangat pas. Dari batang sampai kepala helm-nya semuanya ukurannya pas, dan urat-urat yang menonjol ini makin membuat burung kamu lebih sexy, bikin aku ingin merasakan nikmatnya burung kamu di dalam kemaluanku Say.. mm..” kata Bi Tuti sambil terus menciumi burung Ponco.

“Akhh.. masa sich Say.. kalo gitu cepet hisap dan sedot seperti tadi donk Say..”

“Mmm.., itu bisa di atur.. sekarang kamu santai dan nikmati saja permainan ini.”
Lalu Bi Tuti dengan lembut memasukkan batang kemaluan Ponco ke dalam mulutnya, dan lidahnya digesek-gesekkan ke batangnya.

“Akhh.. punyaku lagi diapain Say.. enak sekali rasanya.. uhh..”

Bi Tuti tidak memperdulikan lagi ucapan Ponco, sekarang dia hanya ingin memuaskan Ponco yang tadi telah membuat dia melayang-layang kenikmatan.

Bi Tuti mengulum batang kemaluan Ponco sampai ke pangkalnya, dan menghisap-hisap lembut, lalu disedotnya dengan kuat sampai pipinya kempot dan ditariknya sampai lepas, dan membuat suara “Plop”. Lalu dikulum lagi dan dihisap, lalu disedot dan ditarik sampai berbunyi lagi terus menerus.

“Akhh.. Say.., nikmat sekali.. disedot-sedot seperti itu.. ahh.. lebih kuat lagi Say.. lebih kuat lagi.. ukhh..!” kata Ponco keenakan.

Bi Tuti terus melakukan blowjob dengan menghayatinya. Dia menghayati setiap lekuk dan benjolan-benjolan urat yang ada di batang kemaluan Ponco yang membengkak itu. Ponco yang sudah sansumcigat bernafsu tidak mau ketinggalan, tangannya bergerilya dan meremas-remas payudara Bi Tuti, dan tangan yang satunya lagi menari-nari di lubang kemaluan Bi Tuti yang sudah basah lagi, daging kecil yang menyembul di situ pun tidak ketinggalan dijadikan mainan jari-jarinya. Lalu ditariknya pantat Bi Tuti mendekati mulutnya. Bi Tuti pun mengerti maksud Ponco, lalU mereka pun membentuk posisi 69 dengan posisi Ponco ada di bawah.

Ponco yang disodori pantat sexy milik Bi Tuti dengan bernafsu sekali menjilati, menusuk-nusuk dan menyedot-nyedot kemaluan dan klentitnya, serta jari-jarinya menusuk-nusuk kecil ke dalam lubang pantat Bi Tuti. Bi Tuti yang dikerjai seperti itu menjadi tambah gila lagi, dia lebih kuat lagi menghisap batang kemaluan Ponco, dan sambil disedot-sedot serta dikocok-kocok.

“Akh.. Sayang enak sekali hisapan kamu.. ahh..!” kata Bi Tuti disela-sela kegiatannya.

“Ukhh.. kamu juga hebat, batangku serasa sedang disedot dengan vacum cleaner.. akhh.”

Mereka berdua bagaikan kesetanan saling menghisap dan menyedot sekuat-kuatnya, bagaikan anak kecil yang sedang rebutan menyedot air es. Dan tidak lama kemudian Bi Tuti mulai meregang dan mengerang, pantatnya lebih ditekan ke mulut Ponco, sampai-sampai Ponco sulit bernafas karena hidungnya juga tertutup oleh pantat Bi Tuti.

“Akhh.. aku hapir sampai Say.. akhh.. aku nggak kuat lagi Say.. hh.. hh.. ahh.. Say aku sampai Sayyhh.. akhh.. akhh..”

Akhirnya Bi Tuti mencapai puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya.

Sambil mencercau, Bi Tuti yang sedang dilanda kenikmatan itu menyedot penis Ponco sekuat tenaga, sampai-sampai mata Ponco terbelalak ke belakang karena rasa geli-geli nikmat yang dirasakannya melalui batang penis itu.

“Akhh.. Sayy.. sedot terus Sayy.. aku juga mau keluar.. akhh.. aku keluar Sayy.. aku keluarr.. ehh.. hh.. hh..” kata Ponco sambil terus menjilati cairan yang keluar dari lubang kemaluan Bi Tuti.

Akhirnya menyemburlah lahar kenikmatan Ponco yang langsung diterima dengan mulut Bi Tuti, dan ditelannya.

Belum puas dengan semburan lahar kenikmatan itu, Bi Tuti menyedot-nyedot dan menghisap kepala kemaluan Ponco agar lahar kenikmatan itu keluar lagi.

“Akhh.. geli Sayyhh.. hh.. hh.. okhh.. nikmat sekali Say.. okhh..!” kata Ponco keenakan.

Dan akhirnya mereka berdua terkapar dengan nafas masih memburu. Setelah nafas mereka mereda, mereka berhadapan dan saling tersenyum penuh makna, dan Ponco mengecup kening Bi Tuti yang dibalas dengan kecupan-kecupan mesra yang berlanjut menjadi ciuman ganas di bibir Ponco. Ponco yang dicium dengan ganas itu bangkit lagi nafsunya, dan batangnya mulai mengeras lagi.

Bi Tuti kegirangan melihat batang kemaluan Ponco mulai bangkit lagi, langsung disambarnya bantang kemaluan Ponco itu dan dihisap-hisapnya. Ponco juga tidak tinggal diam, dia membelai-belai kemaluan dan klentit Bi Tuti yang masih agak basah oleh lendir kenikmatan yang mulai membasahi kemaluan bBi Tuti.

Setelah batang kemaluan Ponco berdiri tegak bak tiang bendera, Bi Tuti bangkit dan jongkok di hadapan Ponco. Dituntunnya batang kemaluan Ponco ke liang surga dunia milik Bi Tuti, dan dengan pelan diturunkannya pantat Bi Tuti, sehingga kepala dan batang kemaluan Ponco mulai masuk sedikit demi sedikit, dan menimbulkan sensasi rasa yang nikmat sekali.

“Ahh .. punya kamu enak sekali Say.. walaupun sudah basah tapi rasanya tetap peret.. ahh..” kata Ponco keenakan.

“Mmm.. punya kamu juga enak Say.. besarnya sangat pas, tidak terlalu besar dan tidak kecil, akhh.. punyaku serasa sesak dimasuki milikmu Say.. akhh.. uhh..!” balas Bi Tuti memuji batang Ponco, yang menurutnya terasa enak sekali karena tidak terlalu besar yang dapat menyebabkan rasa perih waktu bersenggama dan sesudahnya, tapi juga tidak kecil, sehingga terasa sesak mengisi lubang kenikmatan miliknya.

Setelah masuk semua, Bi Tuti diam, tapi diaturnya nafasnya, dan minimbulkan efek empotan-empotan kecil di dalam lubang kemaluannya.

“Mmm.. Say.., punya kamu bisa berdenyut-denyut yach.. mm..” kata Ponco menikmati empotan-empotan kemaluan Bi Tuti.

“Enak ngga Say..? Aku pernah diajari sama Cie Mira, biar punyaku bisa berdenyut-denyut.” kata Bi Tuti.
Lalu empotan-empotan Bi Tuti dikombinasi dengan goyangannya.

“Akhh.. Say.., hh.. enak sekali Say.., oukhh..!” kata Ponco keenakan, sampai matanya merem melek.

Dan Ponco pun tidak tinggal diam, dia mulai melancarkan serangannya. Dia bangkit dan mulai menciumi leher Bi Tuti yang ada di hadapannya, leher dan dadanya serta payudara Bi Tuti yang bergelantungan diserbunya dengan buas bak harimau yang sedang kelaparan.

Digigit-gigitnya buah dada Bi Tuti dengan gigitan mesra dan menggairahkan, Membuat Bi Tuti juga makin gencar menggoyang dan mengempot pisang kenikmatan Ponco yang sedang ada di dalam lubang surgawinya.

“Ahh.. Say, sedot yang kuat Say hh.. hh.. tetekku disedot yang kuat Say.. ahh.. hh.. gigit Say.. gigit putingnya Say.. akhh.. hh.. ohh.. Say, punya kamu enak sekali yach akhh..!” cercau Bi Tuti kesetanan, karena diserbu buah dadanya dengan buas oleh Ponco.

“Akh.. Say.. hh.. goyangan kamu nikmat sekali Say.. ouhkhh.. mm tetek kamu jadi tambah sexy Say, bergelantungan begini.. aemm.. mm.. srupp..” balas Ponco yang tambah semangat karena nafsunya sudah memuncak. Kemudian Bi Tuti bangun dari posisi itu, dan menungging.

“Ayo Say.. hh.. tembak aku.. hh.. dari belakang.. hh.. cepat Say, aku sudah nggak tahan..” pinta Bi Tuti pada Ponco yang sedang kebingungan, karena Bi Tuti tiba-tiba menarik pantatnya ketika dia sedang keenakan.

“Huh.. awas kau.. aku balas nanti..!” kata Ponco kesal dalam hati.

“Aku datang Sayang.. hh.. aku datang..!” kata Ponco sambil mengatur posisi dan menempelkan pedang tumpul kebanggaannya.

Dipegangnya pantat Bi Tuti, dan ditempel-tempelkan, dan digosok-gosokannya kepala pedang itu ke bibir kemaluan yang sudah basah oleh cairan nafsu dan tampak sedikit meleleh keluar dari bibir kemaluan Bi Tuti, dan dikendepakannya ke klentit Bi Tuti yang sudah membesar saking nafsunya.

“Ayo dong Say.. hh.. hh.. aku udah ngga tahan nih.! Hh.. cepetan masukin batang kamu yang enak itu ke lubangku..!” pinta Bi Tuti memelas.

Lalu Ponco mulai menusukkan pedangnya ke dalam lubang kenikmatan Bi Tuti. Ditusuknya perlahan-lahan pedangnya memasuki lubang surga duniawi itu melalui pintu kenikmatan.

“Akhh.. punya kamu walaupun sudah basah tapi masih saja terasa peret Say.. akhh.. nikmat sekali..,” kata Ponco menikmati mili demi mili miliknya masuk ke dalam lubang kenikmatan Bi Tuti.

“Akh.. punya kamu juga enak Say.. hh.. sesak terasa mengisi kemaluanku.. ahh.. hh..!” balas Bi Tuti.
Setelah pedang Ponco masuk semuanya, ditariknya pedang itu sampai batas kepala penis agar terasa mengganjal, dan ditekan lagi sampai kira-kira tiga perempatnya, terus begitu dengan gerakkan yang lembut, sehingga menimbulkan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua yang merasakannya. Kenikmatan yang tidak pernah didapatkan dari suaminya itu membuat Bi Tuti semakin liar dan buas, cercauannya menjadi kian kacau.

“Akhh.. Say.. kemaluan kamu nikmat sekali Say.. hh.. kemaluan kamu oukh.. hh.. membuatku jadi gila saking enaknya.. ahh.. hh.. ss.. mm.. ayo dong Say.. dorong dan hentak yang keras Say.. ss.. hh.. tusuk yang keras biar.. hh.. ss.. kemaluan kamu menusuk sampai ke. ss.. hh.. dalam rahimku Say.. akhh..!” cercau Bi Tuti tidak sadar, karena terbawa oleh kenikmatan yang dihantarkan oleh Ponco melalui gerakan erotisnya.

Kemudian Ponco mulai mempercepat gerakan keluar masuk tadi, dan mulai mengganti ritme gerakannya menjadi tiga kali seperti tadi, dan sekali dia hentakkan seluruhnya dengan keras sampai terasa terbentur mengenai dasar lubang kemaluan Bi Tuti.

“Ohh.. ohh.. ohh.. akhh.. Sayang.. hh.. nikmat.. ohh.. sekali.. ohh.. tusukan.. ohh.. kamu.. akhh.. Sayang.. hh.. hh..,” kata Bi Tuti keenakan.

Tidak terasa, desahan Bi Tuti menjadi seirama dengan tusukan Ponco, dan Ponco semakin mempercepat gerakannya. Beberapa saat kemudian, Bi Tuti mulai meregang, dan erangannya semakin menjadi-jadi, pertanda dia akan mencapai klimaksnya. Ponco yang sudah tahu Bi Tuti akan mencapai klimaksnya dengan tiba-tiba mencabut dengan kasar pedangnya, sehingga membuat Bi Tuti kalang kabut dibuatnya.

“Ponco.. hh.. apa yang kamu lakukan Sayang.. hh.. kok kamu cabut kemaluan kamu Say..? Hh.. kamu jangan bikin aku marah Sayang.. hh.. ayo cepat.. kamu masukkan lagi kemaluan kamu itu.. hh.. hh..!” bentak Bi Tuti kesal.

Ponco yang dibentak bukannya takut malah cengengesan, dan membuat Bi Tuti tambah geram dan liar. Segera ditubruknya badan Ponco dan ditindihnya, dimasukkannya pedang Ponco dengan kasar ke dalam lubang kemaluan miliknya.

“Akhh.. hh.. sekarang kamu rasakan kemarahanku.. hh.. jangan salahkan aku kalo nanti badan kamu ada yang terluka..” kata Bi Tuti geram.

Kemudian dia mulai menaik-turunkan pantatnya, dan diputar-putarnya ke kiri dan ke kanan secara acak. Karena Bi Tuti memang sudah hampir klimaks, maka tidak lama kemudian Bi Tuti mendapatkan klimaksnya dengan dasyat, bahkan lebih dasyat dari sebelumnya, mungkin karena tadi tertahan oleh ulah Ponco yang memang disengaja agar Bi Tuti tersayangnya itu mendapatkan multi orgasme.

Dan Bi Tuti yang sedang mendapatkan klimaksnya, secara tidak sadar dia mencakar-cakar badan Ponco, dan kemudian dia menindih tubuh Ponco sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian bibirnya menciumi bibir Ponco dengan ganas serta tangannya menjambaki rambut, menggerayangi, dan mencakar semua tubuh Ponco yang dapat dipegang dan dicakar. Ponco juga mengalami sensasi rasa kenikmatan yang berbeda dan dasyat yang membuat dia merasakan gejolak birahi yang semakin tinggi, dan merasakan ada sesuatu yang ingin meledak dan keluar dari dalam tubuhnya melalui pedang mustikanya.

“Mmm.. Say.. mm.. Say.. mm.. aku juga mm.. mau.. mm.. keluar Say.. mm.. hmm.. hmm..” cercau Ponco yang akan mendapatkan puncak kenikmatannya.

Tiba-tiba Ponco memeluk erat tubuh Bi Tuti, dan memutar-balikkan tubuh mereka sehingga tubuh Bi Tuti sekarang ada di bawah, dan melepaskan ciumannya serta bagaikan orang kesetanan tubuh Ponco tidak dapat berhenti bergetar, bergoyang, dan menghentak-hentakkan pantatnya agar tusukan-tusukan pedangnya selalu membentur mengenai dasar lubang kemaluan Bi Tuti.

“Akhh.. hh.. aku keluar Say.. hh. hh.. akhh.. akhh.. akhh.. akhhmm..!” kata Ponco yang kemudian tiba-tiba melahap semua buah dada Bi Tuti, dan disedot-sedotnya dengan kencang payudara dan puting Bi Tuti dengan buas dan liar.

Sedotan-sedotan dan disertai gigitan-gigitan liar itu membuat Bi Tuti tidak henti-hentinya merasakan klimaksnya yang datang secara bertubi-tubi. Bi Tuti yang tadinya hanya telentang pasrah dan menikmati klimaksnya menjadi beringas dan liar, punggung Ponco dicakar-cakar dan rambutnya dijambak-jambak saking gemasnya.

“Akhh.. Say.. hh.. kamu sungguh pintar dan hebat.. akhh.. akhh.. akhh..!” cercau Bi Tuti.
Ponco hanya diam dan menikmati datangnya klimaks yang akan dia rasakan.

“Akhh.. aku sudah ngga tahan Say.. akhh.. akhh.. !” seru Ponco yang kemudian diikuti dengan semburan lahar ke dalam lubang kemaluan Bi Tuti.

“Henghh.. enghh.. enghh.. oukhh.. nikmat sekali rasanya.. ahh..!” cercau Ponco sambil terus masih menyemprotkan laharnya sambil terus menusuk-nusukkan batangnya.

“Akhh Say.. hh.. aku dapet lagi Say.. ahh.. hh.. kamu betul-betul hebat dan pintar.. hh.. hh..!” kata Bi Tuti ketika mendapatkan klimaksnya lagi.

Kemudian mereka berdua akhirnya terdiam dengan nafas yang memburu. Lalu Bi Tuti mendorong tubuh Ponco hingga Ponco bergulir ke sampingnya dan telentang. Disapu dengan bersihnya batang dan kepala kemaluan Ponco yang masih basah oleh air mani yang bercampur dengan cairan miliknya.

“Hmm.. rasanya.. hh.. enak sekali punya kamu ini.. hh.. Say.. mm.. srupp.. mm..” kata Bi Tuti sambil menjilati dan menyedot batang kemaluan Ponco sampai bersih.

Ponco juga tidak mau ketinggalan, ditariknya pantat sexy milik Bi Tuti, dan langsung mulut dan lidahnya menyedot dan menjilati kemaluan Bi Tuti yang juga basah oleh air mani dan cairan mereka berdua.

“Srupp.. mm.. punya kamu.. hh.. juga enak rasanya.. srupp.. mm..!” balas Ponco.

Setelah saling membersihkan, akhirnya mereka telentang dan memejamkan mata sambil mengatur nafas yang masih memburu sambil membanyangkan kenikmatan yang baru saja mereka rasakan dan akhirnya mereka berdua tertidur.

Bi Tuti membuka mata, dan melihat Ponco yang masih tertidur di sampingnya, kemudian dia bangun dan mengenakan pakaian yang berserakan di lantai. Tidak lama kemudian Ponco membuka matanya, dan melihat Bi Tuti sedang mengenakan pakaiannya sambil tersenyum kepadanya.Bi Tuti lalu menghampiri Ponco, ” Makasih ya Sayang, tadi itu benar-benar hebat. Sampai sekarang pun aku masih mengingat dan menginginkannya lagi..” kata Bi Tuti.

Kemudian dia mengecup kening, pipi, dan bibir Ponco.

“Nanti lagi yach..! Mmuuaahh..,” kata Bi Tuti sambil mengerlingkan matanya.

“Tentu Sayang.., kapan saja kamu mau aku akan selalu siap untukmu.. mmuuaahh..!” balas Ponco dengan senyum manis.

Bi Tuti keluar dari kamarnya setelah kepalanya melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya keluar dari kamar Ponco. Setelah Bi Tuti keluar, Ponco membaringkan badannya yang masih terasa penat setelah bercinta cukup lama dengan Bi Tuti, dan memejamkan matanya.

“Ahh.. betapa indahnya bercinta dengan Bi Tuti tersayang..,” pikir Ponco lagi. Tidak lama kemudian dia pun tertidur dengan pulas sambil tersenyum.

Demikianlah akhir cerita seks memuaskan nafsu terpendam pembantuku ini.

Baca juga Cerita Hot Pembantu Baru, Perawan Baru

Untuk pecinta video bokep, silahkan kunjungi www.warungmesum.com