Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1

Halo sobat mesum. Kali ini cerita seks yang akan kalian baca ini dijamin berbeda dan lebih menarik, pasti ga bakal tahan deh sama khalayan yang bakal tercipta pas baca Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1 ini. Enjooy ya guuyyss.. Happy Fapping. hahahaha..

Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1

Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1

Cerita Seks – Saat itu hari Sabtu, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi di komplek rumahku nampak sebuah mobil sedan berwarna putih yang lewat. Mobil itu menghentikan lajunya dan parkir di sebuah rumah di ujung jalan.

Tak lama berselang, terlihat seorang wanita cantik keluar dari mobil tersebut. Badan seksinya berbalutkan kaos hitam ketat berpadukan dengan celana jeans pendek yang menampilkan paha putih mulusnya. Kira-kira usianya masih 25 tahunan, dengan rambut panjang yang diikat buntut kuda. Gaya casualnya sungguh menggoda bagi kaum adam.

Wanita itu berusaha menggapai tombol bel yang tersedia di dekat pintu gerbang. Setelah menunggu beberapa saat, dari dalam rumah keluar seorang wanita yang memang kutahu seorang asisten rumah tangga.

“Cari siapa Bu?” tanya wanita tersebut.
“Maaf Bu, apakah ini benar rumah Pak Fauzi?” tanya si cantik.
“Betul Bu, anda siapa ya?”
“Saya Felisha, Bu. Pak Fauzi ada di rumah, Bu?” tanya Felisha.
“Maaf Bu, saat ini Bapak sedang tidak berada di rumah. Kebetulan sudah keluar daritadi.” jawab asisten rumah tangga itu.
“Oo begitu, kalau ibu tau kira-kira jam berapa ya beliau pulang?” Felisha nampak sedikit kesal karena sudah menempuh perjalanan jauh demi mencari alamat rumah Pak Fauzi namun tidak ada ditempat.
“Saya tidak bisa memastikan hal itu, Bu. Namun tadi sebelum pergi Bapak menitipkan pesan jika ada tamu yang bernama Felisha, diminta menunggu dulu saja di dalam.”

Setelah mendengar hal itu, Felisha pun menyetujui dan masuk ke dalam rumah. Mobilnya dibiarkan saja terparkir di depan rumah, kebetulan jalan di depan rumahnya cukup lebar, sehingga tidak mengganggu kendaraan yang lewat.

Rumah tersebut memang tidak terlalu besar, namun terlihat rapi dan penuh tanaman hijau sehingga nampak sejuk dan asri sekali. Begitu masuk pintu utama, nampak ruang tamu nya yang bernuansa minimalis dan simple. Tidak terlalu banyak perkakas yang terletak di ruangan tersebut, hanya sofa, meja kecil dan sebuah televisi LED berukuran besar menempel di dinding. Tentu saja ada AC juga di ruangan tersebut.

“Silahkan duduk, Bu..” kata sang ART (Asisten Rumah Tangga) sambil menunjuk ke arah sofa. Setelah Felisha duduk, ibu tersebut menaruh remot TV ke atas meja yang ada di depan sofa.
“Bu, mau minum apa?”
“Air putih saja, Bu.”
Setelah mendengar jawaban Felisha, ART itu pun pergi ke dapur. Sebelum ia melangkah ke dapur, dia mengambil remot AC dan menyalakan pendingin udara tersebut.

Tak lama berselah, ART tersebut kembali dengan membawakan air putih dan meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih, Bu.”
“Saya tinggal sebentar ya, Bu. Mau ke Indomaret dulu beli minyak sayur, kalau ada perlu apa-apa ada Pak Anto di belakang ya Bu.”
“Iya bu..”

Pak Anto merupakan seorang sopir yang kebetulan saat itu sedang tidak bertugas, karena Pak Fauzi mengendarai mobilnya sendiri tanpa disopiri.
Setelah sekitar 15 menit Felisha duduk sendirian menunggu sambil bermain handphone, Pak Anto pun keluar dari arah belakang.

“Pagi, Non..” Sapa Pak Anton
“Pagi, Pak“
Setelah menyapa, Pak Anton pun keluar. Mungkin menuju garasi untuk mengecek mobil Pak Fauzi. Setelah selesai dengan urusannya, ia kembali masuk ke dalam dan tentu saja melewati ruang tamu dimana Felisha sedang duduk menunggu.

Mungkin ia ingin menemani Felisha karena terlihat bosan menunggu sendirian. Pak Anto pun duduk di sebelah Felisha. Pak Anto memang tidak terlalu sungkan dengan Felisha karena kebetulan beliau sudah terbiasa ngobrol bersama dengan tamu-tamu Pak Fauzi dan hal tersebut diperbolehkan oleh majikannya.

“Sendirian aja Non tidak datang bersama teman? Ada perlu apa, Non dengan Bapak?”
“Biasa Pak masalah kuliah, kebetulan ada tugas yang tidak aku mengerti. Mau nanya-nanya aja biar lebih jelas.”
“Hmm.. Masalah tugas atau Nilai neng..? hehehe..” tanya Pak Anto sambil tersenyum nakal. Pertanyaan tersebut membuat Felisha kaget dan gugup.
“Pertanyaan Bapak kurang ajar banget. Benar-benar tidak sopan!” Timpal Felisha nampak kesal bercampur malu karena pertanyaan tersebut memang benar adanya, sebenarnya tujuannya datang adalah untuk memenuhi syarat yang diberikan oleh Pak Fauzi demi nilai mata kuliah.

Beberapa bulan belakangan ini memang Felisha sering ‘menebus’ nilai-nilai ujian yang jeblok menggunakan badannya. Karena ia sering kali gagal dalam mata kuliah yang diajarkan oleh Pak Fauzi. Kedatangannya hari ini demi nilai ujian akhirnya di mata kuliah Pak Fauzi si dosen maniak itu. Memang nilai yang diperoleh Felisha tidak mencapai syarat minimum yang ditentukan.

Pak Fauzi memintanya datang agar ia lebih leluasa melakukan aksi bejatnya itu, karena selama ini selalu mereka lakukan di area kampus.
“Non, tidak perlu terkejut seperti itu. Pak Fauzi sudah sering meminta anak-anak didiknya datang. Sehingga saya pun tahu, jika ada mahasiswi yang datang kemari, pasti tujuannya sama semua.” kata Pak Anto.
“Aku pun sering kebagian ‘jatah’ kok non.” Lanjutnya sambil melayangkan pandangan yang terlihat kurang sopan karena ia memandang dada dan paha Felisha dengan terang-terangan.

Walau merasa risih dengan pandangan tersebut, tapi entah kenapa di dalam hatinya Felisha merasa lega. Karena tidak perlu lagi malu-malu dan sok jaim. Tiba-tiba Pak Anto meletakkan tangannya di atas paha Felisha, walaupun terkejut tetapi Felisha tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam saja, namun aliran darah di tubuhnya mendesir dan membuat jantungnya sedikit berdebar saat tangan kasar Pak Anto menyentuh kulit halus pahanya.

Melihat reaksi Felisha, Pak Anto pun semakin mendekatkan dirinya hingga mereka berdua benar-benar menempel. Tangannya meraih bahu Felisha dan membawa badannya ke pelukan Pak Anto. Payudara montoknya yang berukuran 34B itu mengenai dada Pak Anto dan terasa kenyal.

“Non Felisha, kebetulan Bapak belum pulang. Gimana kalau aku duluan. Pasti Non bakal senang deh sama ‘permainan’ saya. Daripada bengong aja nungguin Bapak.”
Felisha terdiam dan tidak bisa berkata-kata, yang dia rasakan hanya lelaki tersebut semakin erat memeluk dan diam-diam mengarahkan tangannya ke arah payudara.

Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1

Cerita Seks Mahasiswi Demi Nilai UAS Part 1

“Wah, payudara Non lumayan juga ya.” katanya sambil melakukan pijatan ke dada Felisha.
“Jangan donk, Pak. Ga enak kan kalau ada yang melihat.” kata Felisha sambil pura-pura menolak tangan Pak Anto.
“Kalau ga ada yang lihat. Enak-enak aja donk..? Tenang aja, disini ga ada orang lagi kok selain saya sama non.” ujarnya sambil mengembalikan tangannya ke atas payudara Felisha.
Pelan-pelan, Pak Anto membuka kaos ketat Felisha hingga akhirnya nampak dua buah gunung kembar montok nan indah yang dibalut sebuah Bra berwarna pink. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan. Melihat Felisha yang malu-malu mau, membuat Pak Anto semakin bergairah.

Tanpa menunggu aba-aba dan persetujuan pemiliknya, bra tersebut disingkapkan. Terpampang jelas kedua payudara Felisha yang putih bersih dan montok dengan puting yang agak kemerah-merahan. Bentuknya yang bulan dan menonjol membuat Pak Anto benar-benar terangsang. Tak mau membuang-buang waktu, Pak Anto segera melancarkan serangannya ke arah payudara kanan Felisha sambil tangan kirinya memintil-mintil puting kiri.

Sambil melumat payudara dan putingnya, Pak Anto juga melakukan gigitan kecil ke puting Felisha. Hal tersebut membuat Felisha meringis keenakan sambil memegang kepala Pak Anto. “aaahhhh….”

Tangan kiri Anto mengerayangi punggung Felisha sambil mencari-cari kait bra untuk membuka bra tersebut. Setelah berhasil membuka bra, kini giliran payudara kiri yang diserang olehnya, sementara tangannya masih tetap mengerayangi bagian punggung  Felisha, perlahan tapi pasti tangan itu mulai mengarah kebawah menuju bokong.

Felisha nampak menikmati serangan yang dilancarkan oleh Pak Anto, terlihat dari ekspresi dirinya yang merem melek sambil sesekali mengeluarkan suara desahan. Badannya menggeliat mengikuti tempo cumbuan Anto. Dengan terus menikmati payudara Felisha, Anto meraba-raba paha dan berusaha menyelipkan tangannya ke arah paha dalam felisha. Hal tersebut membuat desahan Felisha semakin menjadi. “aaaahhh.. ahhh..”

Akhirnya jari-jari pria itu menyentuh kemaluannya, Felisha semakin terangsang. Terbukti dari reaksi putingnya yang semakin mengeras dan kemaluannya sudah mulai basah oleh cairan yang dikeluarkan. Rasa malu dan kesal kini sudah hilang dan digantikan oleh hawa nafsu yang sudah tak terbendung untuk dipuaskan.

Kini Felisha tidak diam saja menerima ‘perlakuan’ Anto, ia mulai membalas serangan itu dengan tangannya dan menggapai selangkangan Anto. Dari balik celana pendek yang dikenakan, Felisha meraba-raba penis Anto yang sedari tadi sudah berdiri tegak.
“Uda ga sabar ya non pengen ngerasain ini?” Bisik Anto sambil membuka celana pendek dan celana dalamnya, bersamaan dengan itu sebatang penis besar dan keras pun menyembul keluar.

Setelah melepas celananya, Anto pun mulai melucuti semua pakaian Felisha. Keindahan tubuh Felisha kini terpampang jelas semua tanpa ada yang menutupi. Nampak jelas vaginanya yang masih kencang tertutup bulu yang tidak terlalu lebat. Setelah puas menerawang keseluruhan tubuh Felisha, ia meminta gadis cantik itu untuk naik kebadannya dengan posisi 69. Begitu posisi dirasa sudah sempurna baginya, mulailah Anto menjilati bibir vagina Felisha, dengan menggunakan tangannya dia menyingkap are itu guna menelusuri bagian itu lebih dalam menggunakan lidahnya.

Ternyata Felisha tidak diam saja, secara otomatis ia merespon perlakuan Anto dengan melumat penis Anto yang berdiri tegak tepat didepan wajahnya sambil perlahan-lahan mengocok penis itu. Dia juga melakukan jilatan-jilatan manja disekeliling kepala penis itu hingga membuat Anto merasa geli luar biasa. “Aahh..enak non.. kayaknya uda jago banget ya.”

Selain lidah, Anto juga melancarkan serangan ke arah klitoris Felisha menggunakan jari-jarinya. Tentu saja hal itu membuat Felisha mendesah keenakan dan mengakibatkan vaginanya semakin basah oleh lendir-lendir disekitar dinding vaginanya. Hal tersebut dibalas Felisha dengan membenamkan sedalam-dalamnya penis Anto kedalam mulut.

“Aduuuh non, pelan-pelan.. Makin dalem makin enak non..aaah. aahh..”
Seolah tidak peduli, Felisha malah semakin menjadi. Kepalanya naik turun semakin lama semakin cepat sambil sesekali mengeluarkan suara desahan akibat perlakuan Anto ke vaginanya. Seolah tak mau kalah, Anto semakin agresif menyerang klitoris Felisha, membuat Felisha tak mampu menahan erangan dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tangan Anto tak mau ketinggalan beraksi, pantat montok Felisha diremas-remas sambil sesekali mengarah ke pahanya. Selain dijilati, klitoris gadis itu juga dihisap-hisap perlahan. Menambah rangsangan terhadap Felisha hingga menyebabkan vaginanya mengeluarkan cairan kewanitaan yang menandakan ia telah mencapai klimaks. Dengan sigap Anto membersihkan seluruh cairan bening yang keluar itu.

Sesudah diseruput habis cairan kewanitaan tersebut. Anto pun berinisiatif mengganti posisi mereka, kini ia duduk dan Felisha diarahkan agar duduk dipangkuannya dengan posisi berhadapan.
“Bagaimana non? Servis aku ok kan?” tanya Anto menggoda.
Felisha hanya menganggukan kepala sambil berusaha mengatur nafasnya yang dari tadi terengah-engah. Tindakan ‘liar’ Anto yang lain daripada yang lain ternyata mampu memuaskan dirinya.

Usai beristirahat sejenak, tanpa menunggu aba-aba. Felisha mencium bibir Anto, ‘pertarungan’ lidah pun dimulai. Sambil menikmati bibir dan lidah Felisha, Anto terus memeras-meras payudara Felisha tangannya menginvasi tubuh Felisha dengan luar biasa liarnya, perut, punggung, leher, semua bagian tubuhnya digerayangi. Tanpa menghentikan kegiatan bercumbu mereka, Anto mulai mengarahkan penisnya ke vagina Felisha, sadar akan tindakan Anto, Felisha pun sedikit mengangkat tubuhnya sambil membuka bibir vaginanya seolah memberikan izin kepada penis Anto untuk masuk ke dalam vaginanya.

Kegiatan bercumbu mereka dihentikan sejenak selama proses penetrasi yang dilakukan Anto. Dengan pelan tapi pasti, penis hitam itu pun mulai melesat masuk ke dalam vagina. Felisha tak mampu menahan desahannya, setelah di rasa telah masuk sempurna. Ia mulai memegang kendali karena posisinya yang berada di atas Anto, ia memaju-mundurkan badannya sambil sesekali melakukan gerakan naik turun. Keduanya semakin lepas kendali dan larut dalam kenikmatan masing-masing. Anto yang daritadi diam saja menikmati gerakan badan Felisha, mulai menjilati puting dan memeras-meras payudaranya.

Pria itu juga menjilati bagian leher gadis yang tengah menikmati penisnya. FeLisha pun mengerang dibuatnya, gerakan maju mundurnya pun semakin cepat sambil sesekali ia memutar-mutar pinggulnya.
“aaah… Aaaaahhhh….” desah mereka berdua pun pecah secara bergantian seolah saling sahut menyahut.

Sepuluh menit lamanya mereka bergelut dalam posisi itu, Anto pun mulai mengganti gaya. Kini gilirannya yang pegang kendali, direbahkannya tubuh Felisha di sofa dan membentangkan kakinya. Sebelum melancarkan aksinya, Anto meraih sebuah bantal yang ada di pinggiran sofa tempat mereka bergelut dan menaruhkannya dibawah kepala Feli. Setelah dirasa posisi mereka sudah mantap, ia pun kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina Feli. Kali ini gantian Anto yang ‘bekerja’, gerakan maju mundur pun dilakukan Anto diikuti dengan desahan dan erangan dari mulut mereka berdua.

“aaahh… aahhhhhhh.. enak pak,,bangeeet…”
“iya nooon, aahhh. enak bangett…”
Payudara Felisha pun kompak mengikuti irama goyangan pinggul Anto.

“Aahhh…aaahh…Saya uda mau keluar nih non, mau dikeluarin dimana?” tanyanya seolah meminta izin dengan suara nafas yang terengah-engah.
“Ke sini aja Pak..aaaaahh !” jawab Felisha sambil menunjuk ke arah mulutnya.
Selang beberapa saat, Anto mengeluarkan penisnya dari vagina Feli dan mengarahkan ke wajah Feli.
Dengan cepat, Feli pun mengarahkan penis itu ke dalam mulutnya.
Croooot.. Croooot.. crooot.. Air mani Anto pun keluar tak lama setelah penisnya masuk kedalam mulut gadis itu.
Hal itu direspon dengan hisapan-hisapan lembut oleh Felisha, “Aaaaaahhh.. Non.. Enak banget noon.. ngilu nih.. aaahhh..” desah Anto sambil menikmati permainan mulut Felisha terhadap penisnya. Ternyata tanpa diminta, Felisha menelan habis air mani yang keluar dan menjilati penisnya sambil membersihkan sisa yang ada di penis Anto seperti orang yang tidak mau rugi.

Anto benar-benar merasakan kenikmatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Teknik oral yang dilakukan gadis itu seperti seorang profesional. Setelah dirasa penisnya sudah mulai lemas, ia pun menarik keluar dari mulut Feli.

“Ternyata non hebat juga ya, bapak kaget begitu diminta memasukkan air maninya ke mulut neng. Doyan ya?” tanya Anto sambil menggoda gadis yang masih telanjang bulat itu.
“Bukan enak sih pak, tapi lebih ke asyik aja. kan jarang-jarang ngerasa” jawabnya dengan santai.

Tiba-tiba Anto menunduk dan kembali menjilati payudara Feli.
“aaaahhh.. masih mau lagi pak?” tanya Feli
“Iya non, abis enak sih.. daripada di anggurin itu susunya..”
Seolah belum puas, sambil mengemut payudara Feli, tangannya kembali mengarah ke vagina dan jari-jari membelai sambil mengorek lubang vagina Feli. Feli pun kembali menikmati tindakan Anto itu, ia memejamkan mata sambil sesekali mengeluarkan suara-suara desahan lembut tanda ia menikmati hal yang dilakukan Anto.
“tiiiiinggg.. tooonngggg….” tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi menghentikan tindakan Anto.

Kira-kira siapa yang datang dan apa yang bakal terjadi ya..
Stay tune guuyyss, Cerita Seks Mahasiswi ini bakal aku lanjutkan lagi.
Sabaaar yaaaa. 🙂

Bersambung

Baca Juga :  Cerita Seks Diperkosa Pas Pulang Kuliah