Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus

Cerita Seks Junior Di Kampus Dengan Sinta Yang Binal, Cerita Seks Di Kampus, Cerita Dewasa Kampus

Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus

Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus

Cerita Seks Junior Di Kampus Dengan Sinta Yang Binal

Cerita Seks Di Kampus – Halo para sobat setia otakmesum, cerita seks kali ini berjudul Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus, sebelumnya perkenalkan namaku James. Aku merupakan seorang mahasiwa tingkat 4 di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Postur tubuhku sebenarnya biasa-biasa saja. Aku mempunyai tinggi badan 175 cm dengan berat 64 kg, tapi karena aku friendly, cukup berprestasi, dan aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang kaya, maka aku cukup famous di kampusku, senior maupun junior banyak yang mengenalku.

Pagi itu dengan tergesa-gesa aku memarkir mobil kesayanganku di parkiran kampus. Usai memarkir mobilku, dengan setengah berlari aku buru-buru menuju ke gedung kuliah yang letaknya kira-kira 300 meter dari parkiran tadi. Sembari berlari mataku melirik ke jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 08.10. Damn… Kalau saja tadi malam aku tidak nekat menonton pertandingan bola tim favoritku, pasti aku tidak akan terlambat seperti ini.

Kalau saja pagi ini bukan Pak Joko yang mengajar, tentu saja aku masih berjalan santai menuju ruang kuliah. Ya, Pak Joko yang berusia sekitar 42 tahunan memang sangat keras untuk urusan disiplin, Terlambat sepuluh menit saja pastilah pintu ruangan kuliah akan dikuncinya. Kesempatan titip absen-pun nyaris tidak ada karena ia hampir selalu mengecek daftar peserta hadir.

Parahnya lagi, kehadiran minimal 85% adalah salah satu prasyarat untuk dapat lulus dari mata kuliah ajarannya. Tersentak dari lamunanku, ternyata tanpa sadar aku sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitanku terhenti sampai disini. Ruanganku berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi kutunggu tak kunjung terbuka. Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara merdu menyapaku,

“Hai James..” Akupun menoleh, ternyata yang menyapaku adalah adik angkatanku yang bernama Sinta.
“Hai juga..” jawabku sambil lalu karena masih dalam keadaan panik.
“Kerah bajunya terlipat tuh..” kata Sinta.

Sadar, aku lalu membenarkan posisi kerah kemeja putihku serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeansku.

“Udah rapi, kok. Pasti lagi buru-buru ya..” kata Sinta lagi.
“Iya nih, biasa.. Pak Joko,” jawabku.
“euuum..” Sinta hanya menggumam.

Setelah pintu lift terbuka akupun segera masuk ke dalam lift. Ternyata Sinta juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mataku iseng memandangi tubuh Sinta. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Sungguh tubuhnya putih dan mulus. Tinggi badan yang kira-kira 168cm itu terbalut oleh kaos Gucci berwarna putih ketat.

Karena warna kaosnya putih secara otomatis Bhnya-pun terlihat karena Bhnya berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. Sepertinya ukuran payudaranya cukup besar, mungkin 34B. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya.

Wangi parfum Sinta memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milikku. Hemm… pikirku, pantas saja ia diincar oleh seluruh cowok di jurusanku, karena selain single, tubuhnya juga sangat proporsional. Lebih daripada itu prestasi akademiknya juga cukup cemerlang.

Namun jujur diriku hanya menganggap Sinta sebagai teman saja. Mungkin hal itu dikarenakan aku baru saja putus dengan pacarku dengan cara yang kurang baik, sehingga aku masih trauma untuk mencari pacar baru. Tiba-tiba pintu lift membuka di lantai 3. Sinta turun sambil menyunggingkan senyumnya kepadaku.

Akupun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup aku sempat melihat Sinta masuk ke sebuah ruang studio di lantai 3 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiswa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong.

Aku juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, karena sofa disana empuk dan nyaman. Setelah itu lift pun tertutup dan membawaku ke lantai 6, tempat ruang kuliahku berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliahku seharusnya berada, aku tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi “Kuliah Pak Joko ditunda sampai jam 11.00. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemen”

Sialan, kataku dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan aku malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, aku tiba-tiba saja teringat akan Sinta. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 3 sambil berharap kalau Sinta masih ada disana.

Begitu sampai di lantai 3 ruang studio, aku tidak tahu apa Sinta masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. Akupun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Sinta yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arahku, tersenyum dan bertanya
“Lhooo, kok..? Ga jadi kuliah?”
“Kuliahnya diundur,” jawabku singkat.

Ia pun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 5×5 meter itu kosong, hanya ada suaraku, suara Sinta, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar aku mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan saja. Maklum, namanya juga cowok.hahaha.. Karena aku penasaran, aku-pun segera mendekatinya.

“kog sendirian sih disini mau aku temenin nggak?” sapaku,
“Boleh-boleh aja kok, kebetulan aku lagi ngerjain tugas nih. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.” Sambung Sinta lagi,
“Oh iya James, kamu udah pernah ngambil kuliah ini kan?” Tanya Sinta sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya.

Setelah menunjukan tugasnya kemudian Sinta berkata lagi,
“Bisa ajarin aku nggak James, daritadi agak pusing nih ngerjain tugas ini? ” pinta Sinta padaku dengan sedikit manja,
“Oke deh aku ajarin,” ucapku,

Setelah mengiyakan permintaanya, aku segera mengambil tempat duduk disebelahnya, dan mulai membimbingnya dalam mengerjakan tugas tersebut. Daripada aku bengong, pikirku. Mulanya saat kuajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.

“Wah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya James, sory udah ngerepotin kamu.” Kata Sinta ramah sembari menutup laptop dan menyimpannya ke dalam tas.

“Apa sih yang ngga buat cewe tercantik di jurusan ini,” kataku sekedar iseng menggoda.

Sinta pun malu bercampur gemas mendengar perkataanku, dan secara tiba-tiba ia berdiri sambil berusaha menggelitiki pinggangku. Aku yang refleksnya memang sudah terlatih dari olahraga karate yang kutekuni selama ini pun dapat menghindar.

Secara tidak sengaja tubuh Sinta malah kehilangan keseimbangan serta pahanya mendarat menduduki pahaku yang masih duduk. Secara tidak sengaja tangan kanannya yang tadinya ingin menggelitikiku menyentuh kemaluanku. Spontan, adik kecilku pun bangun.

“Iih, James kok itunya tegang sih?” kata Sinta sambil membenarkan posisi tangannya.
“Hehe… Maaf ya Sin, ” kataku lirih.

Kami pun jadi salah tingkah, selama beberapa saat kami hanya saling bertatapan mata sambil ia tetap duduk di pangkuanku. Melihat mukanya yang cantik, bibirnya yang dipoles lip gloss berwarna pink, serta matanya yang bulat indah membuatku benar-benar mengagumi kecantikannya.

Ia pun hanya terus menatap dan tersenyum kearahku. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami sudah saling berciuman mulut. Ternyata ia seorang pencium yang hebat, aku yang sudah berpengalaman pun dibuatnya kewalahan. Harum tubuhnya makin membuatku horny dan membuatku ingin menyetubuhinya.

Seolah mengetahui keinginanku, Sinta pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas pahaku dengan posisi berhadapan, daerah kewanitaannya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan kejantananku yang juga masih berada didalam celanaku dengan nikmatnya. Di mulailah Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus ini.

**

Cerita Seks Junior Di Kampus Dengan Sinta Yang Binal

Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus

Bagian dadanya pun seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajahku. Kami berciuman kembali sambil tanganku melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dadaku yang bidang.

“Eumm.. mmmhhh..” hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.

Puas berciuman, akupun mengangkat tubuh Sinta sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Akupun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas-remas gundukan payudaranya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tanganku.

“Aaaahhh, James..” Erangannya yang manja makin membuatku bergairah.

Lalu kubuka kaos serta branya sehingga Sinta pun sekarang telanjang dada. Akupun terbelalak melihat kecantikan payudaranya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang.

“Oooh.. James..” ucapnya penuh nafsu sembari menekan kepalaku kearah payudaranya.

Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Tanganku pun meremas, sembari mulutku menjilat, dan mencium kedua belah payudaranya. Kadang bibirku mengulum puting payudaranya. Kadang bongkahan payudaranya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulutku seolah aku ingin menelannya, dan itu membuat badan Sinta menggelinjang.

“Aaaahhhhh… Ssss….aaahhh..” desah Sinta,

Aku mendongak keatas dan melihat Sinta sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibirku di payudaranya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu. Puas menyusu, akupun menurunkan ciumanku kearah pusarnya yang ternyata ditindik itu.

Lalu ciumanku makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Akupun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan kewanitaannya yang begitu gemuk dari pandanganku.

Akupun mendekatkan hidungku ke arah kewanitaannya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Sinta sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diriku dapat merasakan miliknya.

Mulai kusentuh bagian depan celana dalamnya itu, dan ternyata dalam kondisi basah. Sinta memang sudah horny karena servisku. Jujur saja aku merasa deg-degan karena selama ini aku belum pernah melakukan seks dengan kedelapan mantan pacarku, paling hanya sampai taraf oral seks. Jadi ini boleh dibilang pengalaman pertamaku. Dengan ragu-ragu akupun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut.

“Eumm.. aaahhh… Oughhh…” Sinta mengerang menikmati jilatanku.

Ternyata rasa cairan kewanitaan Sinta gurih, sedikit asin namun enak menurutku. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.

“Buka aja celana dalamku..” kata Sinta.

Mendengar restu tersebut akupun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Sinta benar-benar bugil, sedangkan aku masih berpakaian lengkap. Benar-benar pemandangan yang indah. Kewanitaannya terpampang jelas di depan mataku, berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi.

Bagai orang kelaparan, akupun segera melahap kewanitaannya, menjilati bibir kewanitaannya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjukku ke dalamnya. Berhasil..! Aku menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Sinta terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini.

“Eumm., please don’t stop..” kata Sinta dengan mata terpejam.

“Ouuchhh..” Rintih Sinta sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.

“Ouhh… Ssshhh…Ahhhh”, balasku merasakan nikmatnya kewanitaan Sinta yang makin basah.

Sembari terus meremas dada besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepalaku, seolah menginginkanku untuk menjilati kewanitaannya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepalaku. Tak lama kemudian,

“Uouuhhhh… Sinta mau ke… lu… ar…” desah Sinta,

Dengan seiring erangannya kewanitaan Sinta-pun tiba-tiba membanjiri mulutku mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Akupun tidak menyia-nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis.

“ Slruuppp… ” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut.

Nafas Sinta terdengar terengah-engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah akupun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.

“ James.. makasih ya kamu udah bikin Sinta klimaks. Kamu malah belum buka baju sama sekali, kamu curang, sekarang gantian sini !!! ” ucap Sinta,

Setelah berkata lalu Sinta mendorong tubuhku sehingga aku duduk diatas sofa. Ia-pun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalamku. Ia-pun kaget melihat batang kejantananku yang berukuran cukup besar. Panjangnya sekitar 16 cm dengan diameter 5 cm. kepalanya yang seperti topi baja berwarna merah tersentuh oleh jemari Sinta yang lentik.

“ James, punya kamu gede banget… ” ucapnya,

Kemudian Sinta-pun langsung mengulum kepala kejantananku. Rasanya sungguh nikmat sekali.

“ Eumm… Ahhh… Sinta kamu nikmat banget… ” kataku.

Dengan segera lalu Sinta menjelajahi seluruh penjuru kejantananku dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah kejantananku, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakarku.

“ Aaahhh… ouuhhh… ” hanya desahan itu yang mampu aku ucapkan saat itu.

Lalu ia-pun kembali ke ujung kejantananku dan berusaha memasukkan kejantananku sepanjang-panjangnya kedalam mulutnya. Akupun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang kejantananku hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka bajuku sendiri aku mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan kejantananku sebanyak 5-6 kali.

Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing kejantananku memasuki liang kemaluannya.

“ James, aku masukin ya… ” kata Sinta bergairah.

Lalu Ia-pun menduduki kejantananku, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama-lama seluruh batang kejantananku terbenam ke dalam liang kewanitaannya. Wow, ternyata ini yang mereka katakan kenikmatan bercinta, rasanya memang enak sekali pikirku. Ia-pun terus menaik-turunkan kewanitaannya sambil kedua tangannya bertumpu pada dadaku yang bidang.

“ Plak… plak… plak… ”

Suara paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali aku menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupanganku.

“ Sinta, ganti posisi dong ” kataku.

Lalu Sinta berdiri dan segera kuposisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang kewanitaannya yang memerah tampak semakin menggairahkan. Akupun segera memasukkan kejantananku dari belakang.

“ aaahhhhh, pelan-pelan Honey ” kata Sinta.

Akupun menggenjot tubuhnya sampai payudaranya berguncang-guncang dengan indahnya.

“ Aaaahhhhhkk…James…Ooucchhh… Ermmmhhh…” suara Sinta yang mengerang terus,
Ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuatku semakin tidak berdaya menahan pertahanan kejantananku,

“ Ooouwhhh…yeahhh ! fu*k me like that…ouuhhh…i’m your bitch now ! ” erang Sinta liar.

“ Aduhh… aaahhhhh… gila Sinta… enak banget! ” ceracauku sambil merem-melek.

“ Ouhhh… terus James… kocok terus ” Sinta terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking nikmatnya.

“ Yak… dikit lagi… aaahhhhh… James… udah mau ” Ucap Sinta mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks,

“ Sinta… Aku juga… mau keluar… eerrhh ” geramku dengan mempercepat gerakan,

“ Enak nggak James? ” tanyanya lirih kepadaku sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mataku.

“ Gila… enak banget … terusin Honey, yang kencang… ” ucapku,
Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah payudaranya untuk meremas-remasnya. Sesekali tanganku memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.
“ Ouhhh… Sss… aaaahhhhh… Sinta, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana? ” tanyaku sembari terus menggerakan pinggulku,
“ ouhhh… mmm… sss… aaaahhhhh… Keluarin didalam aja ya, kita barengan ” kata Sinta.
Makin lama goyangan kejantananku makin dalam dan makin cepat saja,
“ Masukin yang dalem Honey… ouh… sss… ahhh…”, pinta Sinta.
Kemudiaan akupun menambah kedalaman tusukan kejantananku, sampai pada beberapa saat kemudian.
“ Ssss… aaahhhhh… James… kita keluarin sekarang… ” kata Sinta,

Dengan tiba-tiba himpitan kewanitaan Sinta pada kejantananku terasa sangat kuat dan nikmat. Ia-pun keluar sambil tubuhnya bergetar. Akupun tak mampu membendung Air mani pada kejantananku dan akhirnya kutembakkan beberapa kali ke dalam liang kewanitaannya. Rasa hangat memenuhi kejantananku, dan disaat bersamaan akupun memeluk Sinta dengan eratnya dari belakang.

Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya akupun mengeluarkan kejantananku dari dalam kewanitaannya. Aku menyodorkan kejantananku ke wajah Sinta dan ia segera mengulum serta menelan habis Air mani yang masih berceceran di batang kejantananku.

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Sinta tersenyum sambil terus mengocok batang kejantananku tetapi semakin lama semakin cepat. Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya,

walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok kejantananku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

“ Sinta… mau keluar nih… ” kataku lirih sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan hisapan Sinta.
“ Ssss… ahhh… sebentar jangan keluarin dulu, tahan dulu ya James… ”jawabnya sambil melepaskan kocokannya.
“ Loh kok ngga Sintanjutin? ” tanyaku. Tanpa menjawab pertanyaanku,

Sinta mendekatkan dadanya ke arah kejantananku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit kejantananku dengan kedua payudaranya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari kejantananku yang dijepit oleh dua gundukan kembar itu membuatku terkesiap menahan napas.

Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok kejantananku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya. Kejantananku serasa diurut dengan sangat nikmatnya. Terasa kurang licin, Sinta pun melumuri payudaranya dengan liurnya sendiri.

“ Gila Sinta, kamu ternyata liar banget… ” Sinta hanya menjawab dengan sebuah senyuman nakal,
Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.

“ Enak nggak James? ” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.

“ Gila… Bukan enak lagi… Tapi enak banget Honey… Terus kocok yang kencang… ” ucapku ditengah kenikmatan,

Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah mulutnya, dan ia langsung mengulum jariku dengan penuh nafsu,

“ Ahhh… ouwhhh… ” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.

Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.
Tak lama kemudian,

“ Ouh… ahhhh… Sinta aku mau keluar lagi nih… ” Ucapku sebelum aku mendapatkan klimaksku.

Tidak lama kemudian akupun menyemburkan beberapa tetes air maniku kedalam mulutnya yang langsung ditelan habis oleh Sinta. Ia-pun lalu menciumku sehingga aku merasakan air maniku sendiri.

Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu akupun pulang kekostan setelah mengantarkan Sinta ke kostannya menggunakan mobilku. Didalam mobil ia berkata bahwa ia sangat puas setelah bercinta denganku serta menginginkan untuk mengulanginya kapan-kapan.

Akupun segera menyanggupi dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku mengarahkan mobilku ke kost. Soal kuliahnya Pak Joko, aku sudah cuek karena hari itu aku mendapatkan anugerah yang tidak terkira, yaitu bisa bercinta dengan Sinta yang merupakan primadona kampus.

Tamat

Demikianlah Cerita Seks Menikmati Tubuh Sinta Di Kampus ini berakhir. Semoga kalian suka ya.. Thank you.

Baca Juga : Cerita di Sepong Tante