Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

Cerita Seks dengan Saudara Istriku ini khusus aku buat karena berdasarkan pengalaman pribadi yang kualami. Dijamin bakal bikin kalian terangsang luar biasa. Pelan-pelan bacanya, sambil dihayati adegan dalam cerita seks ini yaaa.. 🙂

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

Cerita Seks – Sebut saja namanya Farah, seorang wanita berusia 23 tahun, yang telah memiliki seorang anak yang masih balita dengan wajah cantik dan menawan. Entah kenapa aku selalu berdebar-debar setiap kali melihatnya. Senyumannya begitu manis dan menggoda, Bentuk tubuhnya yang ramping dengan ukuran dada sekitar 34A selalu tampil sempurna setiap kali dirinya mengetakan kaos yang agak ketat. Ditambah lagi dengan kebiasaannya mengenakan celana pendek selalu berhasil membuat penisku ereksi. Suaminya merupakan seorang pelaut yang sekali berlayar baru akan pulang berbulan-bulan kemudian.

Ia merupakan sepupu istriku yang aku temui saat kami bertunangan. Pertama kali bertemu, ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Tutur katanya yang santun dan perilakunya yang lembut memberi kesan tersendiri bagiku.

Menjelang lebaran, kami pun mudik ke kampung halaman istriku. Di rumah orang tua istriku, aku bertemu kembali dengannya setelah beberapa tahun tidak berjumpa, karena kebetulan tahun-tahun sebelumnya keluargaku selalu merayakan lebaran di rumah orang tuaku. Saat istriku beranjak ke dapur, Farah ikut menyusul tidak lama sesudahnya. Terdengar samar-samar obrolan mereka.

“Mbaaak, bagaimana kabarnya? Lama juga ya kita tidak bertemu, makin montok aja nih.”
“Bisa aja kamu, Far. Ada juga kamu tuh yang makin seksi, buktinya tuh kancing kemeja uda mau copot. Ketat banget, mau diumbar-umbar isinya”
“Hahaha.. engga lah mbak, anggep aja rejeki buat yang liat.”

Karena posisi dudukku yang menghadap ke dapur, jadi aku dapat melihat jelas posisi mereka saat sedang berbincang-bincang. Hari itu memang Farah terlihat seksi, kemeja putih yang berbahan agak tipis membuat mataku bisa menerawang pakaian dalamnya, dipadukan dengan celana pendek hitam membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Karena ‘pemandangan’ itu, membuat otakku berpikir jorok. Apalagi saat kuperhatikan, tidak terdapat cetakan celana dalam yang nampak, bisa jadi dia mengenakan g-string atau jangan-jangan tidak pakai celana dalam sama sekali.

Semua khayalanku hilang saat keponakanku tiba-tiba memanggil dan minta angpao. Aku pun segera mengeluarkan angpao yang sudah kusiapkan di kantung celanaku, saat sedang sibuk membagi-bagikan angpao, Farah duduk disebelahku.

“Buat Farah manaaaa…?” katanya sambil menyodorkan tangan dan memasang ekspresi manja.
“Kamu kan uda dewasa, mana ada lagi jatah angpaonya.”
“Iiiih… masa gitu sih..” Ia proses sambil memanyunkan bibir halusnya.

Aku tertawa melihat ekspresi lucunya itu.
“Ya sudah, ini angpaonya sekalian buat anaknya juga.”

Setelah menerima angpao itu Farah kembali berujar, “Aduuh, Kang mas ini baik banget ya. Coba mah baik banget! Coba Kang Mas nya Farah kaya si mas ini.”
Kuanggap hal itu sebagai basa-basi karena sudah dapat apa yang ia mau.

Kami berbincang-bincang bersama di ruang tamu bersama anggota keluarga lainnya. Farah pun nampak asyik mengikuti obrolan kami, posisi duduknya yang berada tepat disampingku membuatku dapat melihat jelas belahan payudara yang ada di balik kemeja putihnya, karena memang kancingnya dibuka 2.

Aku berusaha membuang pikiran kotorku karena Farah merupakan sepupu istriku ditambah lagi ia sudah memiliki suami.

Saat hari mulai larut, keluarga Farah pamit pulang, namun Farah tetap tinggal untuk bermalam karena ia masih ingin berbincang dengan istrinya.

Sementara istriku berbicara di ruang tamu bersama Farah yang terlihat sibuk menidurkan anaknya yang masih balita, aku keluar menuju teras untuk menghisap rokok sambil menyeruput kopi yang tadi sudah disiapkan oleh istriku. Sekalian menenangkan diriku yang daritadi berdebar-debar karena melihat Farah hanya mengenakan tanktop dan hotpant sebagai pakaian tidurnya.

Aku kembali ke dalam dan berniat ke kamar kecil, kebetulan kamar kecil rumah itu terdapat di belakang. Saat Farah melihatku berjalan mengarah ke belakang tiba-tiba ia memanggilku.
“Mas, mau ke toilet ya?
“Iya nih Far..”
“Aku ikut donk, daritadi dah kebelet cuma ga berani kebelakang sendirian.”

Waduh, benar-benar godaan iman yang berat. Pikirku saat itu.

“Mari, sekalian saja bareng.”
Karena jalan ke belakang gelap, aku pun menjadikan hp ku sebagai senter untuk menerangi perjalanan kami. Farah berjalan didepanku, saat ia menunduk untuk mengambil sendalnya, tampak jelas pantatnya berceplak sempurna di hotpant yang ia kenakan, lagi-lagi tidak ada garis celana dalam. Pikiranku melayang sesaat, tiba-tiba Farah menegurku.

“Mas, kok malah ngelamun.”
“Engga kok Far, aku lagi ngeliatan jalan ke belakang tuh, gelap banget ya..” itu alasan refleks yang keluar dari mulutku.
“Namanya juga di kampung mas, listrik harus irit-irit.”

Kami pun mulai berjalan bersama, sengaja aku mengambil posisi di belakang Farah. Sambil menerangi jalan dengan hp ku, mataku tertuju pada bagian belakang Farah sesekali kuperhatikan pinggulnya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan, paha mulusnya nampak jelas melengkapi pantat montoknya.

Karena saat itu jalan yang kami lalui agak basah, dia terpeleset. Karena posisiku berada persis di belakangnya, maka aku berhasil menahan tubuhnya. Payudaranya yang terbalut tanktop nampak jelas dari posisiku saat itu. Di situlah aku menyadari ternyata malam itu ia tidak mengenakan BH.

“Duuh, maaf mas. Jalannya licin.”
“Tidak apa-apa, Far. Sudah mulai turun embun, makanya agak basah ni jalannya. Pelan-pelan aja, Far.”
“Iya mas.”

Secara otomatis aku meletakkan tanganku diEntah kenapa, tanganku secara otomatis kuletakkan di pinggulnya dengan posisi dirinya yang tepat di depanku. Dalam posisi ini, terasa sekali pantatnya bergesekan dengan penisku.

Kami berjalan selangkah demi selangkah dengan sangat pelan. Penisku sesekali sengaja kugesekkan ke pantatnya sambil menahan pinggulnya, seolah-olah aku benar-benar menjaga dirinya agar tidak terpeleset lagi. Farah seperti mengerti dengan maksud tindakanku, setiap kali penisku kugesekkan, dia bergerak menekan pantatnya ke arah kemaluanku. Mungkin ia juga mulai menikmati apa yang kulakukan, pikirku.

Begitu tiba di kamar kecil, aku segera membuka celana dan celana dalamku sehingga penisku yang sudah tegang daritadi langsung menyembul keluar. Karena merasa agak repot sambil memegang hp, aku meminta tolong Farah untuk memegangi hp ku.

“Far, tolong pegangin sebentar donk hp nya.”
“Iya mas, mana sini hp nya.”

Dari posisinya berdiri saat itu menuju tempatku buang air kecil memang harus melewati jalan yang sedikit menurun. Maka tanpa disengaja, Farah kembali terpeleset. Dengan sigap aku membalikkan badan dan kembali menangkapnya.

Aku berhasil menangkapnya, namun kali ini aku harus memposisikan tubuhku agak membungkuk dan tubuh kami pun saling berhadapan, celanaku belum kembali kukenakan, sehingga penisku berada dalam kondisi ‘bebas’ sementara kepala Farah berada di dadaku. Anehnya kali ini Farah hanya terdiam membisu.

“Far, kamu tidak apa-apa? kamu kenapa?”
Aku mencoba mengangkat wajarnya.

Dalam posisi masih menghadap ke bawah ia menjawab.
“eeh. oohh.. Farah ga apa-apa kok.” Jawabnya seperti kaget dan sambil menatapku.

“Punya kamu gede juga ya, mas.”

Di situ lah baru kusadari ternyata tangannya sedang memegang penisku. Perasaanku campur aduk antara khawatir dan panik karena posisi penisku yang tegang sedang berada di genggamannya.

“Masih kebelet ga mas kalau aku giniin?” (Ia mulai mengocok peniskuperlahan)
“Ehhh, nakal ya kamu Far. Kalau aku jawabnya uda ga kebelet kamu mau apa? hayoo..”
“Hehehehe.. Hhmmm… Kalau udah ga kebelet lagi gantian donk mas, Farah mau pipis sebentar. Jangan lupa dimatiin ya itu flash hpnya.”

Sambil berjalan masuk ke kamar kecil tangannya tetap memegang penisku. Dia menurunkan celananya batas lutut, dan berjongkok mengambil posisi. Sekarang wajahya berada persis di depan penisku yang tegak berdiri.

“Sinian mas biar sekalian.”

Aku pun mematikan lampu flash hp, tangan Farah mengocok penisku dengan perlahan.

“Istri mas pasti seneng deh, selain baik. Pasti urusan ranjang juga pinter nih, ditambah besar juga ukuran penisnya.”

Aku kaget mendengar ucapannya, karena selama ini image yang ada adalah gadis cantik dengan tutur katanya yang sopan. Ternyata di saat-saat tertentu sisi liarnya bisa keluar juga.

“Masa sih? Ini bukannnya ukuran normal untuk orang Indonesia ya Far.”

“(Sambil mengarahkan bibirnya ke penisku) Farah mah ga tau ukuran-ukuran orang Indonesia, mas. Yang Farah tau tuh, punya mas ukurannya lebih besar dari punya suamiku.”

Dalam kondisi masih jongkok, Farah mulai menjilati kepala penisku. Jilatan-jilatan kecilnya di lubang penis memimbulkan sensasi rasa ngilu yang luar biasa dan membangkitkan nafsu yang selama ini aku tahan.

Dia mulai mengulum kepala penisku. Bibir mungilnya dibuka menyesuaikan dengan diameter penisku, kembali ia mainkan lidahnya di sekitaran lubang dan kepala penisku. Lama-lama ia mulai melahap penisku hingga hampir mencapai pangkalnya. Inilah yang membuat cerita seks dengan saudara istriku ini berbeda, karena ternyata Farah sangat liar.

Kepala penisku menyentuh sesuatu, yang kutebak adalah ujung  kerongkongannya. Farah berusaha melahap seluruh penisku, namun karena tak sanggup, ia pun tersedak dan menghentikan kulumannya. Bersamaan dengan keluarnya penisku dari mulutnya, air liur Farah keluar dan masih tersambung dari bibirnya ke penisku.

“Kamu jago juga Far..Aku suka dengan cara Blowjob kamu.”
“Farah ga kuat Mas kalau semuanya. Punya mas beda, bikin aku makin penasaran aja.”

Aku membungkukkan badan, kubelai rambutnya dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku menyelinap ke tanktop yang dikenakan. Dugaanku daritadi terjawab sudah, benar Farah tidak memakai bh.

Tanganku pun jadi leluasa memainkan payudaranya yang tak terlindung oleh apapun. Penisku juga masih dikuluman olehnya. Pelan-pelan putingnya kupilin-pilin.

“aahh… ooohh.. Mas pinter banget sih… eeeMmhhh… Mas pinter mainin puting Farah… oooohhh.. (Ia mendesah sambil terus memaju mundurkan kepalanya menghisap penisku)”

“SSsstt.. Pelan2 Far, ga enak kalau kedengeran orang lain. Kamu suka blowjob ya?”
“Iya… aaahhh.. Farah suka banget sama penis si Mas, Farah suka hisap penis kamu.”
“Gantian donk Far.”
“(Sambil mengeluarkan penisku dari mulutnya, mata Farah tertuju padaku seolah sedang bertanya-tanya) Maksudnya gantian gimana, Mas? memangnya bis… mmMmhh”

Tanpa menunggu Farah menyelesaikan perkataannya, aku langsung menyambar bibirnya sambil berupaya memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Sambil berciuman, kutuntun dirinya untuk berdiri dan mundur ke belakang hingga ia bersandar di tembok kamar kecil lokasi kami bercumbu saat ini.

Penisku mulai kugesek sejajar dengan vaginanya. Tangan kiriku membelai leher belakangnnya. Kupindahkan bibir dan lidahku ke samping lehernya, sementara jari-jari tangan kananku terus memainkan putingnya yang sudah terasa mengeras.

“Gantian gimana mas? Aaahhh… Jilatan mas di kuping Farah enak banget.. oooohhh.. mmhhhh..”
“hhmmhhh.. Ini belum mulai Far, Maksud mas tuh gantian yang ini…”

Aku langsung berjongkok hingga vaginanya tepat di depan wajahku, kakinya kuarahkan agar sedikit mengangkang. Farah meraih pundakku dan merendahkan tubuhnya. Melihat vagina yang merekah dan sudah terangsang tanpa adanya bulu apa pun di depan mataku. Membuat diriku kalap dan langsung melahap vagina itu, lidahku mulai kumainkan mulai dari bibir vaginanya hingga dinding bagian dalamnya.

Saat lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya, tangan kanan Farah memegang dan menjambak rambutku, seolah memberiku arah tujuan yang diinginkannya.

“AAaaauuhhh.. ooouuhh..oouuuh… aaaaahhhh.. Maaass.. Aaahhhh..eeemhh.. Enak banget, ini pengalaman pertama buat Farah dioral begini. maas.. aaaahh.. Rasanya gatel, Mas.. aAhhh..aaasshhh…”

Aku tidak memperdulikan igauannya, fokusku saat itu adalah menjilati dan menghisap vagina Farah.

Dengan perlahan, aku memasukkan jari tengah dan telunjukku ke dalam vagina Farah. Terus masuk hingga akhirnya masuk seluruhnya dan mulai kukocok vaginanya dari yang awalnya pelan, hingga kukocok dengan cepat.

Saat kulihat ekspresinya yang nampak menahan sesuatu, sambil meneruskan kocokan di vaginanya, kususuri lehernya dengan bibirku hingga ke daerah kuping, kujilati dan kukulum daerah itu.

“Rasanya gimana Far..?”
“Aaaahhhh.. Enak banget mas, jari kamu lihai banget sih. aaaahhh.. Terus mas..Ssshhhhh… Aaahhh… eeemmmh.. Aahh..”

Wajahnya semakin terlihat sedang bersusah payah untuk menahan sesuatu, melihat hal itu aku semakin mempercepat gerakan jariku mengocok vaginanya, jilatanku di telinganya pun semakin kuperdalam.

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

Cerita Seks dengan Saudara Istriku

“eeemmmmh.. Mas, Farah nanti keluaar niih.. mmMmhh.. Mmhh….”
“Keluarin aja Far, jangan ditahan. Mas juga mau lihat.”

Desahan Fitri semakin keras, pinggulnya juga bergoyang-goyang dan tangan kanannya menyambar tanganku. Karena takut dirinya berteriak, aku menutup mulutnya dengan tangan kiriku.

“eemmhh.. eemmmhh.. Aaaahhh.. oohhhh.. Farah keluar mas.. Farah Keluaaaarrr…. eeeemmmmhhhhhhh…”

Tanganku kembali membekap mulutnya.

Tak lama kemudian, aku merasakan jepitan kuat dan dorongan pada jariku. Bersamaan dengan itu aku segera melepaskan jariku dari dalam vaginanya, dan benar saja…

SOORRR… sssrooott….RRT..

Keluaran beberapa kali semburan sebelum akhirnya berhenti.
Jika ini merupakan pengalaman pertamanya mendapatkan oral seks, maka ini merupakan pengalaman pertamaku melihat wanita mengalami ‘squirt’.

Nafas Farah terdengar megap-megap karena mendapatkan kepuasan maksimal. Ekspresi berbeda dari ekspresi yang selama ini kulihat di film-film dewasa yang biasa kutonton. Kakinya pun bergetar, ia lemas sehingga harus kutopang menggunakan tanganku yang saat itu masih berada di daerah selangkangannya. Perlahan kupindahkan tangan kiriku yang daritadi mendekap mulutnya. Masih terdengar desahan-desahan lemah keluar dari mulut mungilnya. Keringat mulai membasahi wajah hingga lehernya.

“(dengan kondisi masih megap-megap mmhhhh… mhhh… Farah keluar mas, sampai muncrat begitu..aaahhhh.. ahhhh..”
“Tidak apa-apa Far.. Ekspresimu tadi benar-benar menggairahkan.”
“hhhmm.. Farah lemes banget.. Tapi mas masih beluman kan.”
“Tenang aja Far. Masih ada 4 hari lagi aku di sini. Besok-besok juga tidak apa-apa.”
“Tapi belum tentu ketemu kesempatan kayak gini lagi Mas.”

Karena takut istriku curiga, aku pun segera menyudahi kegiatan yang kami lakukan meskipun sedari tadi penisku sudah tegang seutuhnya. Setelah kami selesai beres-beres, kami pun jalan kembali menuju rumah. Ujung-ujungnya istriku yang jadi pelampiasan nafsuku malam itu.

– Tamat –

Demikian cerita seks dengan saudara istriku ini berakhir. Semoga para pembaca suka ya. Thank you.

Baca Juga :  Cerita Seks Dengan Majikanku Yang Memuaskan