Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Halooo sahabat mesum, cerita kali ini tentang John yang tidak sengaja menjadi dekat dengan teman pacarnya dalam fakultas hukum. Tanpa disengaja keduanya melakukan hubungan seks, padahal keduanya sama-sama memiliki pasangan. Judul yang kuberikan adalah Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku. Penasaran gimana ceritanya..?? Selamat membaca dan berkhayal ya guyys..

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Cerita Mesum – Sejak berpacaran dengan Fani, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, John mulai bergaul dengan teman-teman Fani. Aktifitas Fani membawanya berkumpul dengan anak-anak Hukum membuat dirinya menjadi banyak teman baru. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Fani membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia cepat diterima oleh komunitas anak-anak Hukum.

Sebagai anak Ekonomi dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibandingkan teman-teman Fani, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Hukum angkatan Fani.

Di sini juga ia mengenal Susi, hanya sekedar kenal dengannya. Susi sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Boy, salah satu pentolan angkatan Fani. Tidak ada perhatian khusus John kepada Susi, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Susi dan cenderung bersikap sama terhadap teman Fani yang lain, kelebihan pada tubuh Susi kerap membuatnya tak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Susi memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, ditambah kulit Susi putih bersih dan mulus.

Awal perkenalan mereka adalah saat Fani meminta John mengantarnya ke kost Susi karena perlu meminjam bahan kuliah. Saat itu pun John masih belum sadar Susi itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Boy. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih sering terjadi setelah secara tidak sengaja John dan Susi menyadari mereka memiliki selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, John jadi lebih mengenal siapa Susi. Susi sendiri sebetulnya bukan teman akrab Fani. Bisa dikatakan beda gank, tapi hubungan mereka baik.

Aktifitas mengantar Fani ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi John karena ia sering bertemu Susi. Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Saat menunggu Fani berurusan dengan orang lain, terutama di lingkungan organisasi mahasiswa kampus, John punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol. Fani pun merasa beruntung John mengenal Susi karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia meminta John menunggunya.

Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Hukum yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada John, pada suatu hari Fani tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. John pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar. Tak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kost-an Susi. Jaraknya hanya sekitar 15 menit saja dari kost Susi menuju kost temannya. Ia melihat Susi keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. John melambatkan motornya dan berharap Susi melihat. Dan, harapannya terkabul. Ia akhirnya memutuskan untuk mampir ke kost Susi sembari menunggu Fani selesai rapat.

“Fani lagi rapat ya?”

Susi membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan John duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Susi belajar.

“Iya. Loe kok ngga ikut Sus?”

“Males. Gue tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja.”

“Boy di sana juga?”

“Iyalah, ini kan proyeknya. Masa’ dia ngga dateng. Ini juga gue lagi nungguin dia. Janjian ntar gue jemput jam enam, mau nonton.”

John baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Susi yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Susi yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup menyenangkan baginya merebak dari rambut Susi yang masih basah.

“Shampo loe shampo bayi ya, Deedee kan, rasa strawbery?”

“Hahaha, kecium ya, kok tau sih?

“Yah, elo Sus, gue kan juga pake Deedee. Cemen yah?”

“Buset, orang kayak loe shamponya Deedee? Fani yang mau apa emang elo yang suka?”

“Gue udah pake shampo itu sejak SMA,”

“Hihihi…, geli gue, lucu aja, liat loe shamponya Deedee,” ledek Susi sambil tertawa geli.

Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Susi berderai lagi.

“Kok sama lagi sih. Kita emang udah jodoh ketemu kali nih. Jodoh jadi temen gitu maksud gue.”

Susi berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

“Mungkin kali ya…., loe bocor sih,” sahut John terkekeh.

Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Susi yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan John. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol John sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Susi yang luar biasa ranum. Soal cewe, selera John memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Fani yang berdada lumayan berisi, namun melihat Susi, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya berdesir kencang.

Saat melihat dari jalan tadi, John menemukan Susi hanya memakai bathrobe mandi dan sedang menjemur handuk. Ia sempat diminta menunggu cukup lama oleh Susi karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Susi keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Susi hanya memakai tank top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya berikut celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka.

“Eh, Sus, gue mo nanya nih….”

“Apaan?”

“Tapi jawab jujur ya….”

“Apaan dulu??

“Ya ini gue mo nanya?.”

“Oke, jujur….”

“Anak-anak Hukum sebetulnya risih ngga sih gue sering ngumpul bareng mereka.”

“Angkatan gue??

“Iya.”

“Jujur kan?…Ngga, yakin gue. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena loe nemenin Fani kan?”

“Iya.”

“Ya ngga sama sekali. Yang suka sama loe banyak kok.”

“Bener loe? Kalo cowo-cowonya gimana?”

“Ngga juga. Kenapa sih? Ya kalo ada Stanley yang dulu naksir Fani takut keserobot lo?hahahaha….”

“Sialan loe?, serius nih gue.”

“Gue juga serius. Bener kok, percaya deh sama gue.”

“Mereka, terutama yang cewe, malah yang gue tau pada keki sama Fani.”

“Keki kenapa? emang salah gue apa?”

“Maksudnya keki soalnya Fani dapet cowo kayak elo.”

“Emang gue kenapa?”

“Ya?loe kan sabar banget tuh mau nungguin Fani, terus gabung sama kita-kita, maen bareng?”

“Gitu ya…?”

“Iya pak John. Nih ya, gue kasih perbandingan. cowo gue yang dulu, itu sama sekali ngga mau gabung. Sebates nganterin gue aja. Sombong banget, kayak ngeliat apaan gitu kalo kita ngumpul. Ngga tau, bawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia.”

Susi nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.

“Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Sombong lah, belagu lah. Ya mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gue ajak dia bergabung. Tapi cowo gue ngga mau gimana. Jadi serba salah kan?”

“Anak teknik? Dani maksud loe?”

“Betul pak! Dani. Mungkin juga karena ketulan kali ya? Tapi ngga tau ah! Nah, ketika loe masuk dan mau mencoba berbaur. Temen-temen gue, ngga cewe ngga cowo, jelas seneng. Apalagi loe bisa nyambung. Yang cowo respek sama loe, yang cewe,….hihihi, demen.”

Susi sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang ke John bahwa anak-anak, cewe-cewe tentunya, banyak yang naksir John.

“Demen apaan?” John berusaha memaksa Susi memperjelas omongannya sambil tergelak.

“Ya demen…ih, loe GR ya?” kata Susi sambil menunjuk John.

“GR apaan? kan gue cuman minta diperjelas,”

“Nih ya, ada satu temen gue yang bilang berharap banget loe putus sama Fani. Katanya, gue mau deh, biar bekas temen juga…tuh…”

“Yang bener loe? Siapa?”

“Ngga usah gue kasih tau. Kalo perasaan loe peka, loe pasti tau deh! Eh, bener tuh, dalem hati loe pasti seneng juga kan disenengin cewe-cewe….hahaha.”

“Sialan loe!” balas John sambil terkekeh.

Tanpa sadar, John mendorong paha kiri Fani. Disinilah cerita mesum ini dimulai, sejak perkenalan pertama mereka saat ngumpul bersama teman-teman yang lain sepuluh bulanan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apa-apa, tak kurang Susi tertegun sejenak. Syaraf sensorik di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir. Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh John justru bagian sensitif pada Susi, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewe berumur 20 tahun itu.

Susi berusaha tidak memandang mata John, tapi ia tak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.

“Eh, Sus, sory ya kalo terlalu keras. Ngga sakit kan?”

Kali ini Susi malah berharap John kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri.

“Ngga kok Ndi, ngga papa, cuma kaget.”

“Aduh, gue jadi ngga enak. Bukan maksud gue mau lancang ke loe, Sus. Reflek aja.”

“Iya gue tau,” Susi berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang John sentuh adalah daerah sensitif dari tubuhnya.

John benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Susi bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, John memang bukan tipe cowo yang suka merayu perempuan, bukan cowo yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan. Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada John. Sikapnya menyenangkan banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Dan, kenyataannya John memang benar-benar menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan. Ia adalah laki-laki yang tidak bisa berbuat kasar pada perempuan.

“Gue juga termasuk yang dongkol sama Fani, kenapa gue justru nyambung sama cowo-nya…hahaha,” Susi berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan lelucon yang sejujurnya ngga lucu.

John pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar-benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Susi terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan ‘kekalahan’ karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Susi karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang dirasa bisa membuatnya nyaman. Sikapnya itu membuat John merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman.

Dari sisi laki-laki, John juga terkesiap dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Susi memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelaki-lakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Hanya ia juga tak kuasa dan tak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Susi marah, ia bisa menangkap bahwa Susi tidak menginginkan itu.

Masih diliputi perasaan tak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, John terkejut ketika Susi sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Susi dan diarahkan ke bibirnya. Dalam keadaan terbuka, Susi menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. John benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Susi menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja. Susi pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan John baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan. Tapi, akal sehatnya tak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh John.

John benar-benar bimbang. Ia tahu, Susi sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola. Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Susi sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Fani, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Susi. Jantung John berdegup kencang, bukan lagi takut Susi akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan.

Susi tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari John di pipinya. John pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Susi. Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Susi dan seketika keduanya sudah berpelukan. Susi membenamkan seluruh tubuhnya ke John. Pelukannya bahkan lebih kuat dari John dan pantatnya ia geser mendekat. Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna merah. John mengangkat wajah Susi perlahan. Ia bisa melihat Susi tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. John sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Susi, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Susi yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu. Ia bertekad menunjukkan pada Susi bahwa ia memang laki-laki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Susi, John berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Susi.

Glek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Susi hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung John. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir John. Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpagutan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat.

“John…,” Susi berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu.

John tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Susi. Memaksa Susi menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Susi penuh kehangatan. Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Susi dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki. Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wita, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wita hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu.

John seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara penuh pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Fani. Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wita apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wita saat ini pasti sudah tak ubahnya dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan.

Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wita lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wita menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri.

Kini, terhadap Susi, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Susi. Susi bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Susi karena tubuh Susi yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Susi karena sesuatu hal, itu tak ubahnya alat untuk masuk ke dalam perasaan Susi.

Remasannya ke dada Susi semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Susi mengerang dan berusaha mendekap John lebih kuat. Tangan John meremasnya makin kuat dan semakin ia merasakan betapa kencangnya dada Susi. Kencang, halus dan terawat. Ia pun kagum kepada Susi yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas John adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Susi, dan lidahnya menjilati leher Susi. Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Susi melewati leher. Dan sekejab ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tak bisa tidur. Tak berlama-lama puting susu Susi sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil additional sapuan lidah membuat Susi terlonjak tak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap John menghisap putingnya. Ingin rasanya John mengecup kuat breadth di kulit yang menutupi tonjolan dada Susi, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Susi. Apalagi Susi memohon dengan suara lirih.

“Jangan ada…bekasnya…John….”

Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi John. Ia juga sering merasakannya dari Fani, tapi yang disodorkan Susi dua kali lebih nikmat. Fani juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Susi. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Susi menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela-sela di antara dua bukit tersebut.

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Cerita Mesum Bercinta Dengan Teman Pacarku

Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Susi. Nafas Susi mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan John di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang. Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung John. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah John di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bandung yang kencang dari luar sudah tak terasa lagi di kulitnya. Tak hanya Susi yang terlena, John pun semakin bernafsu menggarap buah dada Susi yang menggairahkan itu. Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Susi tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Susi setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu.

Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Susi tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. John terdiam dan memandangi Susi sesaat.

“Geblek, lupa ditutup….”

John langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata-mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka.

“Kunci John…, sekalian korden…”

Sebut Susi dengan suara parau dan lemah.

Susi langsung menggamit lengan John dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh bulu itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut John.

“John…, tolong…,”

Ia melepaskan tangan John yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan John ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah dihinggapi nafsu.

Sejenak Susi was-was. Ia takut John melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu.

Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat John menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam. Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat genitalnya. Sekali lagi, saat John menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak.

ASusin darah seketika seperti mengalir deras di tengah-tengah selangkangannya. John pun tak mau berlama-lama menunggu. Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Susi makin tak berdaya telanjang bulat. Tangan John mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari John mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Susi semakin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat John semakin mudah menjelajahi daerak kemaluannya karena menjadi terbuka.

Tak tahan melakukannya sambil berdiri, Susi memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. John melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tak menyia-nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Susi sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter.

Sambil memeluk pinggang Susi dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Susi. Pengalaman dengan Fani mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Susi terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Susi. Susi meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya.

Puas jemarinya memainkan klitoris Susi, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Susi menjerit. Kedua pahanya berusaha menjepit kepala John yang membuat John semakin ganas memainkan lidahnya. Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Susi. Tak usah ditanya reaksi Susi karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya.

Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Susi terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi.

John sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Susi ketika Susi menahan tubuh John dan bangkit meraih kancing celana John dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan John yang sudah mengacung sejak tadi. Susi tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini giSusinnya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik John. Tak canggung ia menggenggam penis John yang mengacung keras. Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya.

Satu kocokan, kini giSusin John yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus nan hangat itu. Dari bawah, Susi melirik ke atas dan tersenyum kepada John yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan John. Tanpa berlama-lama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu. Urat-urat di sekujur penis John semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. John terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Fani, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu. Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan John kemulutnya, Susi hampir tersedak karena ujung kemaluan John menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya. Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki amat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha John yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis John, Susi langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada John, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin John merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan.

Susi memang tidak salah karena John pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini John merasakan perlakuan absolute perempuan selain Fani terhadap dirinya. Apalagi saat Susi mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya. Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Susi, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Susi yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas. Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Susi sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu.

Susi merasa belum cukup ketika John menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat John di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik John. Susi sudah tahu kelakuan laki-laki. Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi.

Namun, dugaannya meleset. John justru merebahkan badannya di sisi Susi. Berbaring miring, John mengisap lagi buah dadanya. Susi semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari John mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Susi menggelinjang menerima perlakuan John. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya.

Laki-laki sempurna, pikir Susi menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan John seperti sekarang. Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya Dani terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Dani hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu. Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Dani saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu.Untung Boy hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tak tega melihat kebaikkan hati Boy.

Tapi kali ini ia ingin absolute merasakan kehangatan John. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan John padanya saat ini. Menikmati usapan jemari John yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi relung hatinya.

Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan John, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin absolutist semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, John sudah menindih tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuh John terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan John sudah tegak di sisi buah dada Susi kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah John bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Susi pun langsung meraih penis nan kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya.

John tersenyum dan Susi membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan. Terasa John mendorong kuat pantatnya dan Susi juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan John di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan John memasukkan penisnya ke vagina Susi. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis John. Tak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Dani dan Boy. Itu karena John melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Susi. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Susi yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Susi pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, John tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Susi dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Susi seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan John,

John sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Susi adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Susi yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh John dan Susi, tak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah John menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Susi. Hangat dan lembut bisa John rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Susi.

Susi menyambut setiap gerakan John dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin absolutist semakin keras dan cepat berirama. Melihat Susi terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat John makin bernafsu. Susi semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat John semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Susi. Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Susi. Rasanya sungguh tiada tara. Derit ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan John. Tapi mereka sudah tidak peduli. Susi bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum.

Semakin kuat dan cepat sodokan John membuat Susi merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba. Ia hanya bisa mencengkram punggung John keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak. Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aSusin darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga John juga bisa merasakannya. John langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan John juga membuat Susi merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis John yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Susi pada John. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Susi bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Susi rasakan.

“John…,nikmat sekali…,”

Susi memeluk John kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi John tersenyum membalas Susi.

“Enak?”

“Banget!” Jawab Susi singkat dan tegas.

“Gaya lain…?”

Susi langsung mengangguk dan menunggu aba-aba John gaya apa yang diinginkan John.

John membalik badan Susi dan mengangkat badan bagian bawah Susi dengan memeluk pinggang dari belakang. Susi langsung berdebar-debar begitu tahu John ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy.

Tak menunggu absolutist John langsung memasukkan penisnya. Susi menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis John terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat John semakin tak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini John langsung mendorong dengan cepat dan Susi mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam.

Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Susi, belum ada tanda-tanda dorongan John melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat Susi makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Susi dan John justru makin bersemangat. Susi, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok John dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak cheat membuat John tak mampu menahan lenguhannya.

Tiba-tiba ganti Susi yang berinisiatif. Ia lepaskan penis John dari vaginanya dan mendorong John sampai terlentang. Ia langsung memanjat tubuh John dan duduk di atas acungan penis John yang masih kokoh berdiri. Melihat Susi bergerak naik turun, John tak kuasa untuk tidak meremas buah dada Susi yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Susi makin mempercepat gerakannya.

Sekali lagi Susi harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Susi langsung ambruk menindih John yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya.

“Kamu kuat banget John…”

“Kamu di bawah lagi ya…?”

Susi mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan John.

Sebelum John memasukkan lagi penisnya ke vagina Susi, Susi memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya. Tapi, untuk John, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu.

Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Susi kembali merebahkan dirinya dan menyuruh John memulai lagi aksinya. John langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin absolutist semakin kuat dan cepat. Susi sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikirbegitu, tiba-tiba sodokan John terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian John mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Susi pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma John di dalam vaginanya. John masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Sperma John juga Susi rasakan mengalir keluar setiap John menyodokkan lagi penisnya. Setelah benar-benar selesai, John pun ambruk menindih Susi. John terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Susi.

Susi mengusap lembut kepala John penuh kehangatan.

“Puas John…?”

John hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Susi tersenyum bahagia mendapatkan jawaban John. Batten tidak, tekadnya membuat John merasakan kenikmatan tertinggi berhasil ia lakukannya.

“Lir, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain…”

“Kamu juga hebat John. Baru kali ini aku ngerasain orgasme….”

Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Susi merebahkan kepalanya di pundak John. Sambil membakar rokok, John merangkul Susi. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Susi masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan John, pacar Fani, teman satu angkatannya. Meski ia memang sudah kagum pada John sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan John, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

John, walaupun ia juga tertarik pada Susi diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Susi seperti menyambut keinginan terpendam John itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam. Ia kenal Boy dan tahu bagaimana Boy selalu menerima sarannya dalam hal aktifitas di kampus. Ia juga tahu Boy sangat menghormatinya terutama sebagai chief meski beda fakultas.

Dalam diamnya, Susi tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Fani yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Susi, John juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Boy jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Susi. Boy memang pendiam dan tenang, tapi John tahu Boy adalah orang yang keras.

John mengeratkan rangkulannya pada Susi. Susi pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi John tak membalasnya yang membuat Susi bingung.

“Kenapa…?”

John menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Susi dan mendekap Susi lebih dalam.

“Yuk ke kampus…,” ajak John sambil melepas pelukannya.

Susi mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. John lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.

“Bareng aja…,” sahut John.

“Oke!”

Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim. Kalau sesuai janji, John sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.

“Bareng Susi?” Tanya Fani tanpa curiga.

“Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja.”

“Tunggu bentar ya, 10 menit lagi.”

“Oke, aku tunggu di sini ya.”

Di tempatnya duduk, John melihat Susi berdiri di samping Boy. Boy masih sibuk membahas beberapa masalah dengan teman-temannya. Susi pun melirik ke arah John dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik John dan Susi sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi?

Tamat

Baca Juga :  Cerita Ngentot Sekretaris Kantor Sampai Orgasme