Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Kali ini aku ingin bercerita mengenai Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku. Cerita ini berkisah mengenai seorang murid yang tidak sengaja bertemu dengan mantan gurunya waktu jaman SMA, saat itu ia sedang mencari tempat tinggal untuk ditinggali sementara karena kebetulan ia mendapat pekerjaan di daerah itu. Apa yang selanjutnya terjadi cukup menarik dan tidak terduga. Selamat Menikmati ya guuuys..

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Cerita Hot – Namaku Bryan, aku lahir dan besar di Surabaya. Setelah lulus aku pun kuliah dan bekerja di Jakarta, saat ini aku bekerja sebagai seorang Auditor Public yang berpusat di daerah Jakarta Utara. Karena pekerjaan yang kujalani, aku memiliki mobilitas yang tinggi dan sering keluar kota dan menetap disana beberapa saat. Kali ini aku mendapatkan tugas untuk mengaudit sebuah perusahaan swasta yang berdomisili di Surabaya. Saat aku sedang mencari-cari lokasi kost untuk sementara di sana, tidak sengaja aku bertemu dengan salah seorang mantan guruku waktu jaman SMA dulu. Memang dari dulu guruku ini terkenal memiliki rumah yang lumayan luas dan ia menawarkan kepadaku untuk sementara tinggal di sana.

Ketika kulihat mantan guruku lewat, aku menghampiri dan menyapanya “Halo Bu, apa kabar? Saya Bryan, Bu. Murid ibu waktu di SMA dulu.” sapaku sambil menyodorkan tangan untuk menyalami ibu Ani. Dulu ia merupakan seorang guru Kimia di sekolahku. Menurut perhitunganku saat ini ia sudah berusia diatas 40 tahun, walau demikian dirinya masih tampak awet muda dan cantik. Mungkin ia rajin perawatan, aku pun tak tahu. Saat itu ia memakai kaos yang berkerah agak rendah sehingga belahan dadanya yang putih mulus terlihat jelas seperti mengintip dari balik baju itu.

“Baik Bryan.. Bagaimana dengan kamu? Baik juga kan?” jawabnya dengan ramah.
“Baik juga, Bu.”
Setelah saling bertegur sapa, aku pun menceritakan kesibukanku saat ini dan maksud kedatanganku ke Surabaya. Setelah ia mengetahui diriku yang saat itu sedang mencari kost-kostan, maka ia pun menawarkan untuk tinggal sementara di rumahnya yang memang kebetulan ada kamar kosong. Awalnya aku tidak enak untuk menerima tawarannya, tapi karena Bu Ani terus memaksa akhirnya aku pun menyetujui untuk tinggal sementara di rumahnya.

Begitu tiba di depan rumahnya, Bu Ani pun mempersilahkan diriku untuk masuk.
“Silahkan masuk Bryan, mari Ibu bantu..” Kata Bu Ani sambil membungkukkan badan untuk mengambil barang-barang bawaanku. Saat itu lah terlihat olehku kedua buah dadanya yang sedari tadi sudah mengintip dari kerah baju, bedanya kali ini penampakannya lebih jelas lagi. Namun sayang bagian putingnya tak terlihat karena masih tertutup bra yang ia kenakan.

“Jangan Bu, saya bawa sendiri saja. Berat-berat Bu.”
Rumah Bu Ani memang cukup luas, halamannya ditanami dengan beragam tanaman dan bunga sehingga hawa sejuk begitu terasa begitu kita melewati pintu pagarnya. Rumah tersebut memiliki 4 kamar tidur dengan kamar mandi yang berada di dalam kamar masing-masing. Hanya 1 saja yang berada diluar, mungkin disediakan untuk tamu yang datang berkunjung. Ibu Ani hanya tinggal bertiga saja di rumah seluas itu, adik perempuannya yang bernama Tina dan seorang anak perempuan bernama Fania yang dihasilkan dari pernikahannya yang telah kandas.

Saat aku datang, kebetulan para asisten rumah tangganya sedang pulang kampung. “Semenjak Ibu bercerai dengan suami, rumah itu tidak pernah ditinggali oleh laki-laki. Jadi secara tidak langsung kamu menjadi lelaki pertama yang menghuni rumah ini lagi. Selamat Dataaang.. ”
Di dalam rumah tersebut terdapat sebuah ruangan kedap suara yang berisi peralatan musik, diantara ada piano, gitar, biola, bahkan ada drum juga. Nampaknya Ibu Ani ini menyukai musik.

Setelah melihat-lihat seisi rumah, akhirnya aku diantarkan ke kamarku. Isinya lengkap juga, dengan ukuran tempat tidur yang luas. Dilengkapi dengan AC, lemari pakaian dan ada juga meja rias.

“Pasti kamu tidak memerlukan itu,” katanya Bu Ani sambil tersenyum dan menunjuk ke arah meja rias.
“Tidak apa-apa Bu, biarkan saja disitu. Masa gara-gara saya mesti dipindahkan. Semua isi kamar ini benar-benar di luar ekspektasi saya, terima kasih Bu atas sambutannya.”
Sebelum ia meninggalkan diriku, kami menyempatkan diri untuk berbincang satu sama lain. Bu Ani mengatakan dirinya tadi sempat bingung saat kusapa.

“Kamu sudah dewasa ya sekarang, makin ganteng aja.” Kata Bu Ani sambil bercanda. Ia banyak bercerita masalah keluarganya, Pak Setiawan yang merupakan mantan suaminya masih sering datang ke rumah untuk mengunjungi anak mereka. “Sedih Bryan jika mengingat masa lalu, tapi mau bagaimana lagi keputusan sudah dibuat, nasi sudah menjadi bubur.”

Jika dihitung-hitung, Bu Ani sudah bercerai selama hampir 6 tahun. Aku tak dapat membayangkan, bagaimana dirinya memenuhi kebutuhan biologis selama ini, karena aku tahu Bu Ani ini bukan lah seorang wanita yang suka melakukan Free Sex.Dan aku tahu ia bukan tipe perempuan penganut paham free sex. Tanpa kusadari Bu Ani mulai berbaring di atas ranjang. Posisinya yang meletakkan tangan di belakang kepala membuat payudaranya berceplak jelas akibat bajunya ya tertarik ke atas. Puting susunya pun berceplak karena saking ketatnya tarikan baju tersebut. Tak hanya bagian atas tubuhnya, paha putih mulusnya pun sedikit tersingkap.

Tanpa sengaja mata ku mulai nakal dan memperhatikan tubuhnya yang seksi itu. Untuk ukuran seorang wanita yang sudah berkepala 4, Bu Ani ini terbilang menarik.
“Ibu suka nge gym ya?”
“kok Bryan tau?”
“Terlihat dari bentuk badannya Bu, kencang dan tidak banyak kerutan. Kan berarti Ibu suka berolah raga.”
Mendengar hal itu Bu Eva nampak jelas tersipu malu.
“Terima Kasih lho, sudah lama Ibu tidak mendapat pujian seperti itu.”

Tidak lama kemudian, ia pun meninggalkan kamar dan mempersilahkan diriku untuk beristirahat.
Ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, Bu Ani kembali mengetuk pintu kamarku.
“Makan malamnya sudah siap, yuk makan.”
“Iya Bu, mari.”
Kami pun menuju ruang makan keluarga Bu Ani. Selain menu yang sudah tesedia, di meja makan juga sudah menunggu 2 orang yang tidak bukan adalah anak dan adik dari Bu Ani. Setelah berkenalan kami pun makan dan sempat berbincang-bincang sejenak di meja makan.

Saat kembali ke kamar dan mencoba untuk memejamkan mata, entah mengapa muncul bayangan Bu Ani dengan gambaran payudara montoknya tadi siang yang tidak sengaja terpampang di depan mata ku. Bayangan itu dalam seketika membuatku terangsang, muncul hasrat untuk bercinta dengannya. Tak terasa, Penisku pun mulai bangun dari tidurnya. Aku mulai berpikir, pasti Bu Ani pun selama ini menahan birahinya karena tidak memiliki pelampiasan. Tak terasa pikiran-pikiran kotorku itu terlintas secara bergantian hingga akhirnya aku tertidur pulas sendirinya.

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Singkat cerita, sudah hampir 10 hari lamanya aku tinggal di rumah Bu Eva. Kebiasaan anggota keluarga di rumah itu pun sudah mulai kuhapal. Bu Eva mulai mengajar dari pagi hingga sore hari baru pulang, untuk menghilangkan penatnya terkadang ia suka masuk ke ruang musik untuk memainkan beberapa alunan nada. Namun kuperhatikan hingga pukul 11 malam, ia belum juga keluar dari ruangan itu. Jangan-jangan Bu Ani ketiduran, pikirku.

Tanpa berpikir panjang, aku pun memberanikan diri untuk masuk ke ruangan tersebut. Ketika kubuka pintu, ternyata Bu Ani sedang asik memainkan piano.
“Hai..Boleh saya temani Ibu disini? Kebetulan saya juga penikmat musik instrumental.”
“Silahkan Bryan, kamu jadi satu-satunya penonton disini. Soalnya Anak dan adik Ibu sudah pada tidur.”
“Iya Bu, tidak apa-apa.”
Bu Ani terlihat ahli sekali memainkan irama-irama musik klasik yang indah.
“Bu, haus ga? Biar Bryan ambilkan minum skalian.”kalau haus ini saya siapkan minumnya..”
“Boleh Bryan, kamu perhatian sekali.”
Aku pun segera ke dapur untuk mengambilkan sirup menghabiskan sirup dingin, kucampurkan sedikit obat tidur ke dalam minuman itu.

Setelah kupastikan minuman tersebut telah dihabiskan oleh Bu Ani, aku pun pamit untuk keluar sebentar untuk mencari cemilan.
Tiga puluh menit kemudian, aku pulang dan kembali masuk ke ruang musik. Ketika kulihat Bu Ani sedang tertidur maka aku masuk dan mengunci pintu ruangan musik itu. Ternyata sampai disini rencanaku berjalan dengan sempurna. Aku berharap obat tersebut tidak terlalu keras, agar rencana sukses seutuhnya.

Malam itu Bu Ani mengenakan terusan daster abu-abu dengan belahan dada yang cukup rendah sehingga nampak jelas belahan dadanya yang dibalut dengan bra ungu. Melihat Bu Ani yang tertidur pulas dengan posisi mengangkang seperti saat ini membuat penisku menegang, terasa sesak di celana.

Tak mau berlama-lama aku mulai membuka dasternya, nampak jelas tubuh mulus dan seksi terpampang jelas di depan mataku. Bra tipis yang digunakan membuat putingnya berceplak jelas. Perutnya ya rata sungguh mempesona, untuk bagian selangkangan aku melihat ada gundukan daging yang tertutup celana dalam. Aku mengambil sapu tangan yang sudah kusiapkan daritadi di kantung celanaku, lalu aku membentangkan kedua tangan Bu Ani dan mengikatkannya ke tiang ranjang. Kemudian tangannya pun kuikat di tiang ranjang bagian bawah kakinya. Sebelum melakukan aksiku, aku sempatkan diri untuk sebentar menikmati pemandangan tubuhnya indah. Tak lupa juga kupasangkan penutup mata yang biasa digunakan pada saat tidur untuk menutup matanya.

Kubelai mulai dari kening dan terus turun menelusuri pipi, leher dan dadanya. Kuremas-remas dadanya dengan lembut sambil memainkan ujung putingnya dengan gerakan seperti memutar radio.
“eeeemmhhh” terdengar suara Bu Ani yang dibarengi dengan kepalanya menggeser ke kiri. Segera kuhentikan sementara permainanku di atas payudaranya, berganti dengan tangan kiriku mengusap bagian dalam paha Bu Ani. Terus merambat secara perlahan dan halus hingga mencapai selangkangannya dan mengenai vaginanya terasa gundukan daging kenyal yang masih tertutup celana dalam tipisnya. Kugerakkan jariku untuk menggosok vaginanya dengan gerakan naik turun, sambil menyelipkan tangan kananku ke balik bra nya. Kali ini dengan bernafsu kumuai remasan-remasan ke dadanya.

“Aaaahh.. aahhhh..” terdengar suara desahannya yang mulai terbangun dari tidur. Dengan agak kaget, ia berusaha untuk bangun dari posisinya, “Appp.apaa..apaan nih?”
“Kenapa mataku ditutup seperti ini? Siapa kammmuu..? hentikan semua ini. Toloooong.. toloongg” Ia pun mulai menjerit, namun hal itu tidak membuatku takut, karena aku tau ruangan tersebut kedap suara jadi tidak ada yang dapat mendengar jeritannya. Selain berteriak, Bu Ani juga meronta-ronta. Justru rontaannya ini lebih mengkhawatirkan, karena aku takut ikatan di kaki dan tangannya akan terlepas. Tanpa disadari, gerakan tersebut membuat payudaranya ikut berguncang. Perlawanan yang ia lakukan membuat diriku semakin bernafsu. Segera kuciumi payudaranya sambil tanganku berusaha membuka penjepit bra yang terdapat dibelakang. Agak sulit sebenarnya karena rontaan dari Bu Ani, namun berhubung aku sudah pengalaman dalam hal buka membuka bra, hal tersebut bisa kuatasi.

Setelah berhasil membuka branya aku kembali membenamkan kepalaku ke payudara Bu Ani dan terus menjilatinya, “aaahh..aaaaahhhh.. ooohh..” Bu Ani terus meronta dengan desahan nafas yang semakin menjadi
“Aaahh..Hentikan perbuatannya!! Siapa kamu sebenarnya?”
“Luis, apakah ini kamu?! Yang kamu lakukan ini sama sekali tidak lucu! Cepat lepaskan!!!” ternyata Bu Ani berpikir bahwa aku ini mantan suaminya.

“Luiiiis! Cepat hentikan semua ini! Permainan ini merupakan favoritmu! Tapi aku sudah tidak mau lagi melakukan hubungan seksual dengan dirimu karena pengkhianatan yang sudah kamu lakukan…aaahh..ooohhhh..” Suaranya kini telah bercampur dengan desahan-desahan kecil saat tanganku kuselipkan kedalam celana dalamnya dan menyentuh klitorisnya.

Ahhh.. terasa jembutnya yang lebat menutupi telapak tanganku. Aku pun berusaha mencari bibir vaginanya. Begitu kutemukan, kugesekkan jariku sepanjang bibir vaginanya, terasa vaginanya sudah mulai basah. kukembalikan jariku ke bagian klitorisnya, aku melakukan gerakan memutar-mutar dan naik turun terasa benar semakin lama klitorisnya semakin membesar.
“Aaah.. aaaaaahhhh.. ooohhh” Desahannya semakin jelas terdengar.
Sementara lidahku menjilati puting susunya yang sudah mengeras sambil kuberikan gigitan-gigitan lembut disana.

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

Cerita Hot Menikmati Tubuh Mantan Guruku

“oooohhh… eeemmmhhhhh… Siapa kamu sebenarnya.. Pleeaasee,, siapa pun kamu hentikan semua ini, jangan perlakukan saya seperti ini,”
Sambil terus memainkan klitorisnya aku menghentikan kegiatan mulutku dan membisikinya, “aku tau kamu sudah merindukan hal ini sejak lama, aku akan memberimu kepuasan malam ini.”
Bisikanku itu membuatnya terdiam, kujilati lehernya dan terus turun hingga kembali ke daerah payudara dan sekitar putingnya. Kusedot perlahan puting kiri dan kanannya secara bergantian.

“Iyaaaa,,sudah sejak lama aku merindukan hal ini.”
“aahhhh…..tapi aku ingin melihat wajahmu, aku juga ingin merasakan tubuh dan penismu”
Mendengar permintaan tersebut, aku segera membuka celana dan mengeluarkan penisku yang sedari tadi sudah sesak dibalik celana dalamku

“Kamu ingin merasakan ini..?” kataku sambil menempelkan penisku ke depan bibirnya.
Ia pun tampak membuka mulutnya seolah ingin segera melahapnya.
Namun hal tersebut tidak kubiarkan, begitu ia menjulurkan lidahnya, aku segera menggeser letak penisku ke pipinya dan terus kuarahkan kebawah melewati lehernya kemudian ke payudaranya, disana aku menggesekkan penisku ke putingnya

“Tolong lepaskan semua ikatan ini..”
Bu Ani menggeliat dan meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan yang ada di tangan dan kakinya.
“kamu bukan Luiiiis. aaahh,,aku yakin ini bukan dia..”
Kali ini penisku kuturunkan ke daerah perut, tepat diatas vaginanya.
“Mengakulah, siapa dirimu..” Ia memohon dengan sangat penasaran ingin mengetahui siapa laki-laki yang saat ini sedang menggagahinya.
“Aku Bryan, Aku sangat menginginkan tubuh Bu Ani yang seksi ini dan benar-benar terangsang dengan tubuh Ibu. Aku akan memberikan Ibu sesuatu yang sudah lama tidak dirasakan.” Mendengar perkataan itu, Bu Ani semakin bergairah dan mulai menggerakkan pantatnya naik turun secara perlahan seolah tidak sabar ingin menggesekkan vaginanya dengan penisku

“Cepaat puaskan diriku.. aku sudah tidak dapat menahan semua ini.. lakukan apa pun yang kamu mau… eemmhhhh”
“Kenapa pakai penutup mata segala sih? Tenang saja, aku sepenuhnya pasrah padamu malam ini dan tidak akan memarahimu.”
Tanpa menghiraukan perkataannya, aku langsung menaiki ranjang sambil berlutut diantara kedua kakinya yang sudah mengangkang daritadi. Aku meraih celana dalamnya dari pinggul, kutarik perlahan hingga sebatas lutut.

Setelah itu mulai kuarahkan wajahku ke selangkangannya, begitu bibirku mengenai klitorisnya, dengan lembut kusedot-sedot bagian itu dan sesekali kuberikan gigitan pelan.

“Aaaaahhh.. aaahhhh… Ammpuuunn.. enaaak sekaliiiii.. terrurus..terruuss…jangan berhenti..” Desahan itu diiringi dengan goyangan-goyangan di pinggulnya. Perlahan tapi pasti aku mengarah ke perut dan terus naik hingga ke payudaranya. Begitu berada di payudaranya aku kembali menjilati kedua gunung kembar itu.
Sementara penisku masih kubiarkan berada di atas vaginanya.
“Ayolaaah, lepaskan ikatan iniiii…” wanita itu mulai meracau ketika penisku bergesekan dengan klitorisnya.

Ia berinisitif menaik turunkan pinggulnya agar klitorisnya terus bergesekan dengan penisku. Sangat terasa vagina Bu Ani sudah mulai banjir karena terdengar suara kecipak-kecipak saat ia melakukan gerakan itu.
“aaaahhhhh.. cumbuii akuu.. ciuuum akuuu..”
Permintaannya kali ini tidak kuikuti.

Aku memegang penisku, dan kuarahkan ke pintu vaginanya yang sudah becek itu, perlahan-lahan kudorong masuk. Terasa sesak bagi penisku untuk memasuki lubang vaginanya, karena kebetulan ukuran penisku memang lumayan besar. Vagina bu Ani ternyata memiliki ukuran yang agak kecil.
“Aaaahh..ooookkhh… pelaaan.. pelan-pelaaann.. emmmhhhh. .ooouhhh.. Besar sekalii..”
Kudorong terus penisku hingga akhirnya terbenam setengah, Bu Ani kembali mengerang kesakitan.. Ia juga menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat ekspresinya aku merasa tidak tega

“kamu ingin aku hentikan semua ini Bu..?”
“Jangaan, sakitnya cuma awal ajaaa, nanti lama-lama juga jadi enak.. aaakkkkhhh” Terdengar jeritan Bu Ani saat kumasukkan semua penisku sedalam mungkin ke dalam vaginanya.
Setelah penisku masuk, kami berdua diam sejenak seolah berusaha mengatur nafas kami berdua.

”aahhh. Bryan, ini benar-benar jauh lebih panjang dari yang terakhir kurasakan di dalam vaginaku.. ooohhhh” Bisik Bu Ani sambil mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun sambil sesekali melakukan gerakan memutar.
Aku pun mulai bergerak naik turun, penisku terasa seperti diputar-putar. Nikmat betul rasanya.
Kami saling bertindihan dengan posisiku diatas tubuhnya, setiap gerakan maju mundur yang kulakukan selalu disusul dengan desahan dari mulut Bu Ani.

[baca juga : Cerita Hot Desahan Kenikmatan Tetangga Cantikku]

”oooohhh..aaahhh..ooooooohhhhh..”
“Pleeasse, lepaskan semua ikatan ini..”
“tunggu sebentar…” Jawabku sambil melepaskan ikatan kakinya. Sementara tetap kubiarkna penisku berada di dalam vaginanya. Saat ikatan di kakinya lepas, Bu Ani melingkarkan kakinya ke pinggangku

Aku pun kembali memompa penisku keluar masuk dengan gerakan yang lebih cepat. Sambil tanganku melepaskan ikatan yang masih ada di tangannya. Begitu ikatan di tangannya berhasil kulepaskan, aku kembali menindih tubuhnya dan menciumi bibirnya, setelah tangannya melepas penutup mata yang tadi masih terpakai, ia memeluk leherku dan membalas ciuman yang kuberikan dengan sangat liar.

Pertarungan lidah pun terjadi, besamaan dengan itu gerakan pinggulku terus kupercepat “Mmmmphh.. uummmmmmhhhh.. uuummmhhh..” suara jeriannya tak jelas terdengar karena kami terus saling mengulum lidah. Aku meraih tangannya dan kulentangkan di atas tempat tidur persis seperti posisinya saat masih terikat tadi. Kocokan penisku pun terus kulakukan. Terdengar suara ranjang dan kecipak-kecipak saat penisku keluar masuk dari vaginanya, desahan Bu Ani pun tidak berhenti. “aaaahh… aaahhhhh.. Bryan.. oooohhhh..”

Keadaan itu membuatku benar-benar bernafsu, ciuman ku berpindah ke daerah telinganya sambil sesekali kujilati juga leher dan belakang telinganya. Bu Ani pun menggelinjang karena merasa geli.

“AAahhhh… aahhhhhhhh… Aaahhhhhhh…” kali ini Bu Ani terdengar menjerit bukan lagi sekedar desahan.
Tubuh kami bergoyang naik turun berbarengan dengan gerak pinggulku yang terus mengocok penis di dalam vaginanya.
“aaahh.. lebih cepat…lebih cepat lagiiii..” kata Bu Ani sambil menggoyangkan pinggulnya naik turun lebih cepat mengimbangi gerakan pinggulku.

Kubangunkan Bu Ani dari posisinya yang tiduran tadi, kini ia terduduk diatas ku.
Buah dadanya tepat berada di depan wajahku, melihat hal itu tentu aku tidak diam saja, langsung kuemut payudaranya sambi sesekali menjilati putingnya. Mendapat perlakuan itu, Bu Ani secara perlahan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.
“aahh. aaaaahhh…aaaaaahhhhhh” ia mendesah sambil terus mempercepat gerakannya. Lama lama gerakannya semakin ganas. Maju mundur naik turun dan diputar-putar pinggulnya. Nampak jelas ia sangat menikmati dominasinya dalam permainan ini.

“ooohhh.. aaahhhhhh..aahhhhh..” tak lama kurasakan tubuhnya mulai mengejang dan desahannya mulai tidak karuan. Pinggulnya digerakkan naik turun dengan liar.
“aaahhh.. aku keluar…” bisiknya sambil diiringi dengan keluarnya cairan kewanitaan dari dalam vaginanya. Hangatnya cairan itu sungguh terasa di penisku.

Setelah dirinya mencapai orgasme, aku kembali menidurkan dirinya. Sambil berciuman aku biarkan penisku diam didalam ‘sangkar’. Aku memberikan kesempatan pada Bu Ani untuk menikmati sensasi yang kuyakin sudah lama tidak ia rasakan. Ciuman kulakukan dengan lembut dan santai, sambil sesekali tanganku meremas payudara dan memainkan puting susunya.

“emmmmhhh.. emmmhhh…”
melihat dirinya kembali bereaksi, aku kembali ke posisi berlutut. Pelan-pelan mulai kugerakkan pinggulku maju mundur.
“aaahhhh..” terdengar rintihan Bu Ani.
Entah kenapa jika mendengar suara rintihan Bu Ani, aku menjadi semakin menjadi-jadi. Tanpa pikir panjang kupercepat gerakan ku maju mundur.
“aahhh.. aahhhhhhh….. aaahhhhh.. ooohhhh..” semakin jelas terdengar desahannya.
Vaginanya benar-benar sudah becek, suara kecipak-kecipak terdengar jelas mengiringi desahan dan gerakan pinggulku. Payudaranya yang bergerak naik turun tak kusia-siakan begitu saja, kuraih dan kuremas kedua payudaranya sambil mempercepat gerakan pinggulku.

“aaaaahhh.. aahhhh.. aaaahhhh..oooohhh…”
“akuuu keluarin di dalem yaaaa?”
“terseeeraaah kamu ajaaa.. ooohhhh.. aaaahhh”

Mendapat persetuan darinya aku terus menggerakkan pinggulku maju mundur, semakin lama penisku seperti sudah tidak tahan lagi ingin menyemburkan air mani dari dalamnya.
“oohh..aku mau keluar niih..”
“aaaahhh…. aaaahh..” suara desahan itu dibarengi dengan tangan Bu Ani yang meraih pantatku sambil menahan ke arah tubuhnya, seolah melarangku untuk melepaskan penisku dari vaginanya..
Tak lama kugoyangkan pinggulku..
“aaaaaaahhhhhhh.. aku keluaaar..”
Air maniku pun menyembur ke dalam vagina Bu Ani.
“aaahhh… hangat sekali Bryan” lirihnya..

Setelah puas mengeluarkan air maniku, aku pun menjatuhkan tubuhku ke atas Bu Ani. Kembali kuciumi bibir Bu Ani dengan lembut. “mmmmhhhh…mmhhhh”
“Terima Kasih Bu..”
“Sama-sama Bryan, kamu juga sudah memuaskan nafsu Ibu yang selama ini terpendam”
tak lama setelah percakapan singkat itu, kami pun terlelap dalam tidur.
Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Tamat