Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi ini bercerita tentang seorang wanita karir yang super sibuk dan sering keluar kota karena urusan pekerjaan yang ia kerjakan. Silahkan disimak teman-teman.

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi

otakmesum.online – Kehidupan rumah tanggaku normal dan wajar-wajar saja. Suamiku sangat baik dan sayang terhadapku meski kami belum dikarunia seorang anak. Tapi kami selalu bahagia. Kami telah menikah 3 tahun dan tinggal di kawasan perumahan yang cukup elit.

Tahun ini aku memasuki usia 26 tahun sementara usia suamiku 28 tahun. Kami hanya bertemu pagi dan malam hari saat kami pulang kerja. Ya, kami berdua sibuk bekerja. Suamiku bekerja di perusahaan asing yang terkadang mengharuskan dia ke luar negeri untuk urusan kantor, sedang aku seorang manajer di perusahaan real estate yang juga terkadang harus keluar kota atau luar pulau untuk urusan kantor pula.

Kehidupan seksual kami pun tidak ada masalah, memang agak jarang kami melakukan hubungan suami istri, paling juga seminggu sekali atau dua kali, itupun kalau kami sama-sama tidak capek karena seharian bekerja. Tubuhku cukup bagus begitu pula suami ku, karena kami masih sering ke fitness bersama-sama. Teman-teman ku di kantor bilang tubuhku tinggi dan seksi, memang untuk ukuran teman-temanku, tubuhku yang setinggi 176cm termasuk cukup tinggi dibanding yang lain. Sedang suamiku lebih tinggi sedikit dibandingkan aku.

Sering kali suamiku bilang, tubuhku proporsional dengan tinggi tubuhku, payudaraku yang berukuran 34 cukup proporsional. Payudara dan kulitku yang putih sering kurawat karena suamiku sangat suka dengan kulit dan payudaraku yang montok ini, biasanya jika aku bercermin kulihat bentuk payudaraku bulat padat dengan kedua putingnya mencuat ke atas meski tidak sedang dalam kondisi tegang. kami berdua memang dari keturunan tionghoa.

Suatu saat, aku harus ke Samarinda untuk launching suatu proyek. Setelah berpamitan dengan suami, aku pun berangkat ke Samarinda dengan pesawat. Rencananya aku harus berada di Samarinda selama 2 minggu sampai urusan proyek tersebut selesai. Di Samarinda perusahaanku menyewa rumah khusus untuk keperluan proyek ini dengan tujuan setiap kali perusahaan mengirim karyawan ke sini, mereka dapat tinggal di rumah ini.

Sampai di bandara Samarinda, aku telah dijemput oleh mobil lengkap dengan sopirnya. Sopirnya bernama Pak Anto, usianya kurang lebih sudah sekitar 50an. Pak Adil orangnya kecil dan kurus, wajahnya kurus pipinya kempong dan agak botak karena usia. Setelah melalui beberapa kompleks pertokoan dan tikungan, sampailah mobil kami di suatu komplek perumahan agak dipinggir kota. Rumah itu cukup bagus dan bersih ukurannya sedang.

Setelah mobil berhenti di kebun, Pak Anto membukakan pintu, “Silahkan , Bu”, katanya dengan sopan dan menunduk. Aku pun turun dari mobil sambil mengucap terima kasih kepadanya. Dari dalam rumah, seorang ibu membukakan pintu dan menyambutku masuk, selagi aku melihat-lihat keadaan didalam rumah, Pak Anto masuk sambil membawa kopor ku yang langsung disambut oleh ibu tadi yang ternyata adalah pembantu yang disediakan untuk merawat rumah tersebut. dia bernama Bu Anisah.

Pak Anto menungguku di depan pintu sambil berpesan, “Jika Ibu memerlukan mobil, hubungi HP saya saja ,Bu. Saya harus ke bengkel untuk ganti oli. Setelah itu saya akan siap jika Ibu minta diantar”.

Aku menengok kepadanya, “kalo gitu setelah bapak selesai tolong cepat kembali, karena saya mau ke lokasi proyek sore ini” ujarku.

Setelah itu, Pak Anto pun segera berangkat dan ibu tadi memperkenalkan dirinya, dan ternyata dia tidak tinggal di rumah ini, melainkan pulang ke rumahnya sendiri tiap sore hari dan kembali lagi keesokan harinya. Waduh, pikirku. bisa gawat kalo sendirian di rumah .

Maka akupun bertanya kepadanya, “Bu, apa tidak bisa kalo ibu tidur di sini saja kalo malam selama saya disini.”

Bu Siti kelihatannya mengerti kalo aku takut sendirian kalo malam.

“Maaf Bu, saya ada bayi di rumah tidak ada yang jaga, tapi jika Ibu mau, saya bisa meminta anak saya untuk jaga dirumah ini setiap malam’ ujarnya.

Sialan, pikirku. Gawat kalo sendirian, bisa gak tidur nih pikirku. Yah daripada tidak ada orang, gak apa apa lah.

“Boleh Bu, tolong suruh anaknya untuk jaga tiap malam yah” ujarku agak memohon.

“eh, tapi tunggu dulu… anak ibu umur berapa? laki-laki atau perempuan?” tanyaku.

Ibu Siti tersenyum dan menjawab, “Anak saya baru umur 10 tahun, namanya Budi. tapi dia pemberani kok, Bu”

‘duh, yang jaga anak kecil pula’ pikirku.

“Baiklah Bu Siti, malam ini bisa mulai jaga di sini, kan?” aku khawatir jangan-jangan baru besok, bisa berabe.

“Jika ibu mengijinkan, saya akan suruh dia ke sini sore ini” ucapnya.

**

Sesuai janji, Budi sudah ada di rumah sendirian ketika aku pulang dari lokasi proyek. Dia berlari-lari membukakan pintu pagar ketika melihat mobil kami di depan. Budi bertubuh kurus dan hitam, tinggi nya kurang lebih hanya sedadaku, rambutnya ikal dan kusam.

Pak Anto telah berpamit pulang karena besok pagi sudah harus standby untuk mengantarku lagi. Akupun berencana untuk segera mandi karena badan terasa gerah berkeringat. Kebiasaanku di rumah jika aku hendak mandi, tubuhku hanya terbalut handuk saja, karena berpikir di rumah ini toh tidak ada orang kecuali si Budi yang masih kecil, aku pun cuek saja ketika tahu bahwa Budi masih di dalam kamarku sedang membersihkan kamar dan mengganti sprei baru.

Posisi Budi sedang menghadap ke arahku ketika aku lewat di depan nya hendak menuju ke kamar mandi, sekilas aku melihat dari pantulan cermin di sebelah kananku, ternyata Budi menatapku yang hanya berbalut handuk ini. Pandangan matanya kagum hingga mulutnya sedikit terbuka. Aku meneruskan langkahku masuk ke kamar mandi dan segera mandi.

Di dalam kamar mandi akupun teringat pandangan mata Budi ke tubuhku. Aku pun berkhayal di bawah pancuran air shower sambil menyabuni tubuhku. Entah karena suasana yang sedang sendirian atau karena hangatnya air dan usapan tanganku sendiri, tapi akupun mulai terlena oleh imajinasiku sendiri. Sendirian di tempat asing membuatku merasa ingin melakukan hal-hal yang sedikit gila, apa salahnya jika aku mencoba menikmati selagi sendirian. Toh tidak ada seorang pun yang mengenalku di sini, pikirku.

Hmm, akupun mulai mengalihkan pikiranku kepada Budi si anak hitam kurus dekil itu. Mungkin aku bisa mengajarinya sesuatu untuk membuatku puas dan menyalurkan kegilaanku ini. Tanpa berpikir panjang, akupun segera menyelesaikan mandiku dan kembali ke kamar. Di sana masih ada Budi yang sedang menyiapkan aku teh hangat. Kulihat Budi menatapku lagi dengan tanpa perasaan bersalah atau sungkan. Maklum, mungkin dia masih ingusan, pikirku.

“Budi, kamu bisa bantu pijitin? Badan tante capek sekali setelah perjalanan tadi siang”, kataku dengan nada yang lebih menyuruh daripada meminta.

Tanpa menunggu jawabannya, aku segera merebahkan tubuhku keatas ranjang dengan posisi telungkup. Handuk yang melilit tubuh kukendorkan sedikit agar tidak terlalu erat.

“Tolong ambil minyaknya di atas meja itu, dan sini, naik ke atas ranjang”, kataku sambil menepuk tepi ranjang.

Budi hanya bisa mengangguk sambil melangkah mendekat setelah dia mengambil botol minyak ku. Kulihat dia akan segera naik ke atas ranjang, tapi aku segera berkata.

“Bud, tolong lepas pakaianmu agar ranjangnya tidak kotor terkena pakaianmu itu”

“Tapi tante, aku…tidak pakai… ” katanya terpatah-patah.

“Kamu tidak pakai celana dalam?” tanyaku bisa menebak maksudnya.

Akupun segera memperhatikan selangkangannya, memang terlihat penisnya terkulai ke samping di dalam celana pendeknya. Aku pun geli di dalam hati.

“Ya sudah, Tante akan menghadap ke sebelah sana biar kamu tidak malu, tapi tante tidak mau kalau kau naik ke atas ranjang ini dengan pakaianmu itu” tegasku.

“Baik Tante, saya akan lepas, sebelum Tante pulang tadi saya sudah mandi kok” katanya.

Aku memang mencium aroma tubuhnya cukup segar dan tercium harum sabun murahan. Aku pun menengok ke arah berlawanan di mana dia duduk, aku hanya geli saja, karena di mana arahku menghadap ada cermin dari meja rias yang cukup untuk bisa melihat seluruh tubuhku yang sedang tengkurap ini, dan tentu saja akupun bisa melihat si Budi dengan jelas.

Aku melihat dia sedang melorotkan celananya, dan ya ampun! aku cukup terkejut melihat penisnya yang masih terkulai lemas itu yang walaupun diameternya kecil ternyata cukup panjang. Penisnya termasuk panjang untuk tubuh si Budi yang ceking itu. Akupun mulai mengira-ngira gimana besar dan panjangnya penis itu jika sedang dalam keadaan full ereksi, jika saat terkulai lemas saja sudah sepanjang itu, pikirku.

“Yang dipijat di bagian mana, Tante?” tanya nya polos.

“Emmm… semuanya, tapi mulai dari punggungku dulu ya, Bud.” jawabku sambil terus memperhatikan penisnya dari bayangan cermin.

Budi mengolesi punggungku dan mulai memijat. Dengan posisi tubuhnya yang berlutut di samping tubuhku, aku bisa melihat dari cermin, penisnya terayun-ayun menggemaskan.

“Tunggu, Bud. handuk ini bikin sesak, biar kulepas dulu”, kataku sambil melepas handuk itu lalu menutupkan ke atas pantatku.

Sekarang tubuhku yang putih mulus ini dapat terlihat pada seluruh bagian belakang serta sampingnya oleh si Budi. Kulirik Budi dari bayangan cermin, dia menelan ludah melihat tubuhku terbujur di depannya telanjang, hanya pantatku saja yang tertutup selembar handuk. kulihat penisnya mulai mengacung. Budi duduk di atas pahaku sambil meneruskan pijatannya di punggungku.

Pahaku merasakan buah pelirnya menempel di kulit pahaku sambil bergoyang-goyang maju mundur karena gerakan pijatannya. Handuk yang semula menutupi bongkahan pantatku mulai tidak keruan letaknya karena terdorong-dorong Budi di atas tubuhku ini. Napas Budi mulai terdengar tidak beraturan karena menahan gejolak dalam hatinya, sementara akupun mulai terangsang berat karena merasakan penisnya tergesek-gesek kulit pantatku tanpa sengaja… atau mungkin disengaja olehnya, akupun sudah tidak ambil pusing lagi.

Aku bergumam pelan kepadanya, “Bud, Tante mau sambil tidur, yah. Kamu tolong pijitin terus sampai Tante tidur.” Di sini lah adegan sebenarnya Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi ini berlangsung.

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi

Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi

Budi menjawab dengan suara yang tidak jelas, mungkin karena diapun berusaha untuk mengontrol nafasnya yang sudah memburu. Akupun memejamkan mataku tapi sambil tetap melirik dari bayangan cermin disamping ranjang.

Budi yang mengira aku sudah tertidur, pelan-pelan menarik handuk yang menutupi pantatku sampai akhirnya tubuhku sekarang benar-benar tanpa penutup apapun. Berani juga nih anak, pikirku. Tangannya mulai memijat pantatku, atau lebih tepatnya meremas-remas. kurasakan ada suatu benda tumpul menyundul-nyundul pantatku yang ternyata adalah penisnya yang sudah tegang dan keras itu.

Dengan kedua tangannya, Budi meremas-remas pantatku sambil melebarkan celah pantatku dan penisnya didorong-dorong sampai menempel ke bibir vaginaku. Dengan perlahan tanpa dia sadari, kuangkat pantatku agar lebih menungging ke atas sampai aku merasakan ujung penisnya menempel dan menyundul vaginaku. Aku jadi merinding sendiri merasakan ada penis seorang anak kecil ingusan yang menyundul-nyundul vaginaku yang belum pernah terjamah siapapun kecuali suamiku.

Tangan Budi memijat punggungku yang mulus sambil penisnya yang sudah tegang didorong-dorong kan ke vaginaku. Aku diam saja pura-pura tertidur. Lama kelamaan tangan Budi pun mulai bergeser dari punggung ke arah samping payudaraku yang sedang telungkup, dia bukan memijat lagi melainkan berupa remasan-remasan nafsu.

Akupun secara naluri mengangkat lagi bokongku agar lebih menungging sampai akhirnya aku merasa ujung penisnya mulai menembus bibir vaginaku, akupun secara otomatis melenguh pelan.

Budi yang merasa aku diam saja malah meneruskan tusukkannya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh batang penisnya masuk ke dalam vaginaku dengan sempurna. Kudengar nafas Budi tertahan, sejenak penisnya diam tidak bergerak di dalam vaginaku, menikmati sensasi pijatan otot dinding vaginaku, sedang akupun merasakan denyutan-denyutan dari penisnya yang kecil itu mengganjal di dalam vaginaku.

Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum, “Kok malah sengaja dimasukkin semua, Bud?” tanyaku menggoda.

Budi kaget mengira aku terbangun karena penisnya tertanam di vaginaku. Budi tersipu malu, mukanya merah padam karena menahan nafsu mudanya,
“Emm … awalnya cuman pengen digesek-gesekin aja tante, tapi keterusan, saya jadi gak tahan. Tante gak marah, kan?” tanyanya lugu sambil batang penisnya yang keras tetap berada di dalam vaginaku.

“Kamu ini pake malu-malu segala. Udah berapa sering kamu berbuat kayak gini,” tanyaku sambil melirik wajahnya.

Masih dengan wajah malu, dia menjawab, “belum pernah, tante, baru kali ini.”

Aku tidak heran melihat kepolosan dan keluguan anak ini, pasti dia belum pernah mencoba bersetubuh walau hanya sekali.

“Gimana rasanya? Enak?” tanyaku menggoda. Wajah Budi bertambah merah karena malu dan tidak berani menjawab.

“Coba sekarang kamu keluar-masukkan,” kataku. Budi menurut dan mengeluar-masukkan penisnya pelan-pelan.

Aku merintih. Merasakan ada sebatang penis anak SD yang tertanam di dalam vaginaku. Hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Sekarang gimana rasanya kalau begini,” tanyaku padanya sambil mengeratkan otot vaginaku sambil kugoyang pinggulku.

Budi melenguh, “Aduuuuhhh kayak diremas remas, Tante. Enak banget” katanya sambil terus mendengus-dengus.

“Udah nanggung, Bud. Mumpung tidak ada orang lain, terusin aja, tapi jangan bilang siapa-siapa yah”. ujarku sambil mengancam.

Mendapat ijin dariku, Budi pun mulai mengayunkan bokongnya sambil berkata, “Beres, Tante. Asal tante mengijinkan saya di sini tiap malam menjaga rumah ini.”

Duh ni anak bakal minta jatah tiap malam, pikirku. Aku sih tidak keberatan, lagian libidoku memang selalu tinggi, sampai suamiku pun terkadang tidak bisa mengatasi permintaanku.

Budi pun mengeluar-masukkan penisnya ke dalam vaginaku yang semakin basah itu. Aku mengangkat tubuh bagian atas dan bertumpu dengan siku karena tangan Budi berusaha untuk meremas-remas puting payudaraku yang sudah sangat tegang ini. Budi yang mendapat akses untuk bisa dangan bebas meremas payudaraku bertambah nafsu.

Tubuhku dibalikkannya, sekarang aku tidur telentang dengan tubuhnya berada di atasku dan wajahnya menutupi payudaraku sambil mengenyoti putingku yang bertambah keras ini. Pantat Budi naik turun semakin cepat sambil tangannya meremasi payudaraku sedang mulutnya menjilati putingku. membuat pikiranku terbang melayang, aku pun meremas bokongnya yang hitam itu sambil menekan-nekan agar tusukkannya lebih dalam.

Kulihat dari cermin di samping tempat tidurku, Sungguh pemandangan yang gila di dalam kamar malam itu, tubuhku yang putih mulus digenjot dari atas oleh seorang anak kecil ingusan yang masih berumur 10 tahun bertubuh kurus kecil dan hitam.

Karena tubuhku memang jauh lebih tinggi dari Budi, maka dia hanya bisa mengeyot payudaraku sambil penisnya ditusuk-tusukkan ke vaginaku. Kadang dia ingin mencium bibirku tapi tidak sampai. jadi terpaksa aku yang harus menunduk agar dia bisa meraih bibirku.

Aku melingkarkan lenganku ke lehernya dan menyilangkan kedua kakiku ke pinggangnya, sambil dia terus menggenjot tubuhku dan menyedot-nyedot payudaraku tiada hentinya.

Kurasakan napasnya mendengus-dengus di atas permukaan kulit payudaraku. Keliatannya dia suka sekali dengan payudara ku yang kencang dan putih ini, daritadi dia mengenyoti kedua puting payudaraku seperti bayi kelaparan. Aku pun bertambah nafsu sambil merasakan sensasi genjotan-genjotan penisnya di vaginaku dan mulutnya yang menancap di payudaraku ini.

Aku istri yang selama ini selalu setia dan tidak pernah selingkuh, sekarang sedang terbaring telanjang menyerahkan tubuhku disetubuhi seorang anak SD yang sedang mengeluar-masukkan penis hitamnya dan menggenjotkan tubuhnya di atasku. Pikiran ini membuatku semakin cepat untuk ke puncak orgasmeku, wajahku mendongak ke atas dengan mata tertutup dan mulutku terbuka sambil mendesah-desah.

Kuraih buah pelirnya yang masih kecil dengan tanganku dan kuremas-remas pelan hingga Budi merem-melek. mendadak dia mempercepat genjotannya di atas tubuhku sambil menggigit payudaraku, aku menduga, dia akan segera orgasme dan benar juga,

“uhhh … Tante … aku … mau keluaar !”

Budi menggeram kecil dan genjotannya semakin liar ketika mencapai puncak orgasme, lalu dia menyemprotkan maninya di dalam vaginaku. Aku hanya bisa memejamkan mataku sambil berharap aku tidak akan hamil karena ulah anak ini.

Aku pun segera menyusul dengan orgasmeku sambil berpikir, gila nih anak, mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku, awas kalo sampai aku hamil. Tapi karena berpikir begitu justru membuatku kembali mendapatkan orgasme susulan.

“Aahhhh … aduuhh enak sekali, Budi. kamu hebat, kecil-kecil gini sudah pinter bikin Tante sampai orgasme dua kali,” pujianku membuatnya semakin bangga.

Budi mencabut penisnya yang masih agak keras itu dan berbaring di sebelahku,

“Tubuh tante yang luar biasa, semua cewek-cewek di sekolahku tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya tubuh tante,” kata Budi sambil tangannya terus mengelus-elus dan meremas remas ke dua payudaraku.

Pintar merayu juga si Budi ini, pikirku, jelas saja teman-teman di sekolahnya mana mungkin ada yang punya payudara sebesar milikku, kan mereka semua masih SD, pikirku sambil ketawa dalam hati.

Tanganku pelan-pelan meraih penisnya, mengelus-elus dan mengocoknya dengan gemas. Penis sialan ini yang membuat aku menyerahkan tubuhku kepada anak ingusan yang masih SD, pikirku dalam hati.

Aku memeluk lehernya dan mendekatkan wajahnya ke payudaraku, Budi segera mengemoti ke payudaraku sambil tangannya meremas-remas payudaraku yang satunya.

Di dalam genggamanku, kurasakan penisnya mulai berdenyut-denyut dan keras lagi. Luar biasa, pikirku. aku pun mengocok penisnya dengan lebih semangat, sambil mengusap-usap ujung kepala penisnya yang sudah basah lagi dengan ibu jariku.

Kudorong tubuhnya agar telentang, lalu aku duduk di sampingnya sambil tanganku tetap mengocok penisnya. Budi memperhatikan tanganku dan wajahku bergantian.

Aku menundukkan wajahku ke penisnya, dia memperhatikanku dengan seksama sambil matanya melotot menantikan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan selama ini.

Kumasukkan penisnya ke dalam mulutku dan mulai mengulumnya, menjilati seluruh batang penisnya sampai ke buah pelirnya, kembali ke ujung penisnya dan kukulum seluruh penisnya sambil kumainkan lidahku untuk menjilati ujung penisnya di dalam mulutku. Kulirik Budi, wajahnya kadang menengadah, kadang memperhatikan mulutku yang sedang mengulum penisnya. Aku yakin baru sekali ini dia melakukan ini dengan wanita. apalagi sampai penisnya dikulum oleh wanita sepertiku.

Aku tiba-tiba teringat, aku berdiri dan melangkah ke meja riasku dengan diikuti tatapan matanya yang bingung. Aku mengambil handphoneku dari dalam tas dan memposisikan sedemikian rupa sehingga handphoneku bisa merekam kegiatan kami berdua malam ini. Budi hanya bengong saja ketika aku kembali duduk di sampingnya dan melanjutkan menjilati penisnya.

penisnya menjadi tegang dan keras luar biasa, aku mengeluar masukkan penisnya di dalam mulutku semakin semangat karena aku sangat ingin merekam kejadian gila ini di dalam handphoneku, entah untuk apa tapi aku hanya merasa ingin untuk mengabadikannya.

Kulirik melalui bayangan cermin ketika aku menaiki tubuhnya, memposisikan vaginaku diatas penisnya yang berdiri tegak seperti sebuah tugu itu. kemudian kuturunkan tubuhku perlahan seraya memperhatikan penisnya mulai menembus masuk kedalam vaginaku.

Aku memejamkan mata dan menikmati sensasi barang asing yang menembus lubang vaginaku yang tidak pernah kuberikan kepada siapapun kecuali suamiku. Kudorong terus vaginaku sampai seluruh batang penisnya masuk ke dalam vaginaku dan aku mulai menggoyangkan pinggulku, maju mundur, ke kiri dan ke kanan, berputar ke segala arah. Kurasakan sensasi luar biasa penisnya mengaduk-aduk di dalam vaginaku karena goyangan pinggulku ini. Payudaraku menggantung dan bergoyang goyang indah dengan putingnya yang merah mencuat ke atas menantang untuk dikulum.

Aku menarik Budi untuk duduk dan langsung wajahnya kudekap ke payudaraku. Budi langsung mengeyot putingku dengan rakusnya, seperti seorang bayi kehausan. Tangannya meremas-remas pantatku yang sedang bergoyang-goyang meraih kenikmatan, sedang tanganku meremas-remas rambutnya dan menarik lebih dekat untuk mengenyot seluruh payudaraku. Aku merintih rintih menikmati setiap gerakan penisnya didalam vaginaku. Malam itu aku merasakan benar benar bebas untuk mengekspresikan betapa hausnya aku untuk bersetubuh dengan orang lain selain suamiku.

Keberuntungan ada pada si Budi yang kebetulan malam itu ada di rumah dan menjadi pelampiasanku. Aku juga merasa beruntung menyerahkan tubuhku pada Budi, karena dia belum pernah bersetubuh dengan siapapun yang artinya dia masih bersih dari segala penyakit. Aku jadi berpikir, lebih enak bersetubuh dengan anak-anak ingusan seperti Budi yang masih SD ini daripada dengan orang dewasa yang besar kemungkinan mereka memiliki penyakit kotor.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku merasakan orgasme meledak lagi di dalam tubuhku. aku menggoyangkan pinggulku dengan hebat sambil berteriak dalam kenikmatan. Orgasme panjang kudapatkan lagi ketika aku merasakan Budi menyodok-nyodokkan penisnya dari bawah.

Budi mencabut penisnya dan memasukkan lagi ke vaginaku dari belakang, entah darimana anak ini mengerti posisi doggy style, tapi akupun segera disetubuhi dengan gagahnya dari belakang, sementara aku menungging layaknya anjing betina, payudaraku bergoyang-goyang dibawah, kulihat dari bayangan cermin, Budi memaju-mundurkan pantatnya , mengeluar masukkan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang. Budi menyetubuhiku dengan ganas dan liar. Aku jadi terbawa suasana dan merintih-rintih keras setiap kali penis Budi menusukkan penisnya.

Budi menggapai payudaraku yang bergelayutan dari belakang dan meremas-remasnya dengan gemas sementara penisnya tetap menusuk-nusuk vaginaku tanpa ampun. aku semakin menunggingkan pantatku menyambut penisnya yang perkasa menyeruak vaginaku dan mengaduk-aduk dinding vaginaku. seperti biasanya suamiku menyetubuhiku, tapi kali ini adalah seorang anak SD ingusan yang sedang memacu penisnya di pantatku. Sungguh pemandangan yang tidak umum.

Tidak lama kemudian, Budi melenguh seperti sapi jantan. Payudaraku diremasnya dengan kencang, genjotan penisnya semakin cepat menabrak-nabrak pantatku. Tidak lama kemudian, aku merasakan maninya kembali menyemprot di dalam rahimku, ujung penisnya menyentuh sesuatu di dalam rahimku, membuatku geli bukan main dan akupun mendapatkan orgasme lagi bersamaan dengan semprotan-semprotan maninya. Aku teriak dengan lemah karena tenagaku telah terkuras habis oleh anak satu ini.

Aku ambruk diatas ranjang disusul dengan tubuh Budi yang masih menindihku. Kami berdua tertidur kelelahan malam itu.

Sebelum pulas tertidur, aku memikirkan apa yang telah kuperbuat malam ini. Sebuah hal gila yang belum pernah aku lakukan sebelumnya seumur hidupku. dan akupun ternyata menyukai perbuatan gilaku ini, toh tidak ada seorang pun yang tahu termasuk suamiku.

Sejak hari itu, aku pun mulai ingin mencoba hal-hal gila lainnya. Selama aku melakukannya dengan aman, tidak seorangpun yang akan tahu dan akupun harus mulai mendapatkan obat anti hamil jika setiap kali aku berbuat seperti ini, lawan mainku dengan enaknya membuang maninya ke dalam rahimku, aku yang bisa kena getahnya. Akupun tidak sanggup memikirkan hal itu lagi dan tertidur kelelahan setelah bersetubuh dengan anak SD yang liar ini.

Tamat

Demikian Cerita Hot Daun Muda Merasakan Penis Budi berakhir, kebiasaan baru bagi seorang ibu rumah tangga yang berawal dari coba-coba.