Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex

Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex

Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex

otakmesum.online – Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex ini berawal dari kesialan yang kualami karena jatuh dari motor yang diserempet oleh orang tak bertanggung jawab, melihatku jatuh bukannya dibantu malah pergi begitu saja. Aku pun terkapar dipinggir jalan sendirian, karena kondisi jalanan saat itu sedang sepi. Aku berusaha bangun dan menepi di sebuah rumah besar dengan tertatih-tatih. Setelah aku sampai ditepi jalan aku duduk menyenderkan badanku dipagar rumah besar itu, sambil terus menahan sakit di kaki dan tanganku.

Sekitar 15 menit aku menahan sakit tanpa ada yang menolong, akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti. Turunlah seorang wanita setengah baya kira-kira berusia sekitar 35 tahunan dengan pakaian warna biru yang sangat seksi datang mengahampiriku. Tante itu bertanya mengapa aku disitu, dan aku pun menjelaskan kronologinya sambil terus melihat paha mulus tante itu. Karena saat itu tante menggunakan rok yang minim sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.

Setelah aku menjelaskan kronologi yang kualami, tante itu menolong dan mengajakku kedalam, namun sebelumnya tante memarkirkan mobilnya dulu kedalam rumahnya yang pagarnya daritadi kugunakan untuk senderan. Tak lama, tante itu kembali dan membatu membopohku masuk kedalam rumahnya.

“Kamu duduk aja di sini, biar Tante ambilin obat ya…” kata tante itu dan segera masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di depanku.

Meskipun wanita ini sudah cukup matang, badannya masih seksi dan terawat. Tingginya sekitar 165 cm, payudaranya yang montok kuperkirakan berukuran 36B dan masih terangkat dengan menggunakan kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali karena pada waktu itu dia pakai rok pendek sampai lutut dan kelihatan betis yang mulus dengan ditumbuhi rambut halus.

Aku sempat berkhayal untuk memegang pantatnya, meremas-remas sambil memasukkan jariku ke lubang kewanitaannya. Setelah beberapa menit dia mencari obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya,

“Des.. Des…ambilin minum tuh… buat Mas nya!” ternyata dia punya anak perempuan yang bernama Desi, umurnya sekitar 18 tahunan. Setelah berhasil menemukan obat merah, lalu menghampiriku.
“Wah… ini lukanya parah sekali …” sambil membuka tutup obat merah.
“Ah.. nggak kok, Tan… biasa aja kok,” kataku sambil memperhatikan payudaranya yang montok tergelantung itu.
“Nama Kamu siapa?” tanya Tante itu sambil meneteskan obat merah di lengan atasku.
“Joni, Tan, aduh pedih sekali… pelan-pelan Tante…!”
“Maaf ya… Joni, oh ya nama saya Sinta,” katanya sambil meneteskan ulang obat itu di lengan atasku.

Dan tidak disengaja payudaranya menyenggol sikuku.
“Oh… maaf Tante… tidak sengaja,” tanyaku sambil melihat payudara Sinta yang membuat penisku agak tegang.

Dia hanya tersenyum dan tertawa kecil.
“Lho… Joni yang kena yang mana lagi, kelihatannya celana kamu sobek tuh…” katanya sambil memegang celanaku yang sobek itu.
“Ya… Tante itu di bagian paha atas dan di dada ini,” sambil membuka sedikit kaos yang kupakai.
“Yang ini harus diobati loh, entar kalau tidak cepet diobati berbahaya, kaki kamu bisa di luruskan nggak?” tanya Tante Sinta.
“Agak linu Tante… karena bagian paha sih…” kataku sambil mencari kesempatan melihat dadanya.

Saat itu posisi dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.
“Ya… sudah ke kamar Tante dulu situ berbaring biar kakimu bisa diluruskan,” kata Tante Sinta sambil membantuku berdiri dan berjalan.
“Ya… Tante… tapi…?” tanyaku ragu.

Nanti disangka macam-macam, tapi memang niatku ingin bercinta dengan Tante Sinta yang montok itu.

“Tapi apa, oh… kamu malu ya… nyantai aja kamu kan luka dan perlu pengobatan, sudah masuk ayo Tante bantu!” sambil melingkarkan tangan kanan di pundak Tante Sinta aku berjalan.

Dan tidak disengaja waktu berjalan, jari-jariku menyentuh permukaan dada Tante Sinta tapi aku tidak merubahnya, malah kugesek-gesekkan dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan kalau disengaja, terasa puting Tante Sinta yang kenyal menyebabkan penisku tegang. Dan sampailah di tempat tidur Tante Sinta.

“Sudah Joni, mana yang luka lagi?” sambil duduk di sampingku dan membelakangiku sementara aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Tante Sinta.
“Di dada sini Tante,” kataku sambil membuka ke atas kaosku agar kelihatan lukanya.
“Ya… sudah dilepas dulu kaosnya, entar kalau kena obat ini kan jadi merah,” katanya basa-basi.

Aku langsung buka kaosku, dan sekarang aku telanjang dada.

“Nah gini kan bisa bebas mengobati kamu,” sambil mendekat ke dadaku, dan otomatis aku melihat dengan jelas payudara Tante Sinta tergelantung dan ditutupi oleh Bra yang tidak muat menampung dan tanganku makin kurapatkan ke paha dan sekarang sudah di atas paha mulus Tante Sinta. Dan pada waktu Tante Sinta meneteskan obat, aku terasa pedih dan dengan refleks tanganku terangkat sehingga menyenggol payudara Tante Sinta dan rok mininya terangkat ke atas. Terlihat paha yang mulus itu.

“Maaf ya.. Tante, Dayat tidak sengaja kok,” pintaku sambil menurunkan tanganku ke paha Tante Sinta yang mulus dan putih itu.
“Ya.. tidak apa-apa kok,” sambil meneruskan meneteskan lagi di bagian dadaku yang luka.

Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis dadanya yang montok itu dekat sekali dengan wajahku. Aku tidak tahu ini disengaja atau tidak, tapi bagiku disengaja atau tidak tetap saja membuat penisku makin tegang. Lama-lama kok posisi Tante Sinta makin membungkuk dan sampai payudaranya bersentuhan dengan mulutku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tidak diam saja, aku berusaha pelan-pelan menggeser tanganku yang di paha mulus Tante Sinta itu, pelan dan pelan karena aku takut Tante Sinta marah karena ulahku ini.

Dengan nafsu yang kutahan, aku gerak-gerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sambil merasakan penis yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya, dan sampailah aku di pangkal paha Tante Sinta itu dan menyentuh celana dalam Tante Sinta yang kelihatan memakai celana dalam warna pink dengan motif kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menggesek payudara Tante Sinta (pelan-pelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu, waktu itu Tante Sinta diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tapi nafas Tante Sinta tidak bisa disembunyikan, sering dia menarik nafas panjang.

“Sudah nihhh… Semua luka kamu di dada sudah diobati, sekarang mana lagi yang terluka?” sambil melihatku dan membiarkan tanganku di pahanya yang mulus itu.
“Itu Tante.. di paha atas,” jawabku sambil menunjukkan tempat yang luka.
“Wow… Ya ini harus dibuka Jon, kalau tidak Tante tidak bisa mengobati apalagi kamu pakai jeans yang ketat.. ya sudah dicopot aja!” jawab Tante Sinta sambil melihat dengan dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat penisku yang sudah tegang dari tadi.
“Tante… bisa bantuin copot celanaku, aku tidak bisa copot sendiri Tante, kan tanganku luka,” alasanku agar Tante Sinta bisa lihat penisku dari dekat. Tiba-tiba Desi datang dengan membawa air putih.
“Ma, ini airnya..”
“Ya.. sudah sekarang kamu keluar, e.. jangan lupa tutup pintunya,”

Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex

Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex

Wah ini kesempatan untuk melampiaskan nafsuku. Setelah itu Tante Sinta mulai membuka resleting celanaku dan membuka bagian atas dan aku mengangkat sedikit pinggulku supaya Tante Sinta mudah melepas celanaku. Saat membuka celanaku, posisi Tante Sinta membungkuk sehingga mulutnya dekat dengan penisku yang tegang, dan aku sengaja mengangkat pinggul yang lebih tinggi dan tersembulah penisku dan mengenai mulu Tante Sinta. Perlahan tapi pasti Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex mulai menarik.

“Sorry Tante, gak sengaja,” Saat itu penisku mulai tegang sekali karena cara Tante Sinta membuka celanaku sangat merangsang penisku.

Sambil sedikit menungging dan menggerakkan pantat yang besar itu, Tante Sinta melepas celana jeans-ku “apa ini usaha Tante Sinta untuk merangsang nafsuku”, dan akhirnya aku sekarang tinggal pakai celana dalam. Dan mulailah Tante Sinta mengobati paha atasku dengan posisi nungging membelakangiku dan sedikit siku tangannya menyentuh penis yang sudah tegang. Sesekali Tante Sinta melihat penisku dan menggesek-gesekkan sikunya di penisku itu. Dengan melihat gelagat Tante Sinta ini yang memberi peluang padaku, aku tidak diam aja.

Dengan melihat pantat yang besar menghadap kepadaku, tanganku mulai sedikit meremas-remas dan mengelus betis lalu menuju ke atas paha yang mulus dan akhirnya aku sampai ke paling atas pantat mulus Tante Sinta dan aku nekat mengangkat rok mini Tante Sinta ke atas sehingga sekarang terlihat pantat Tante Sinta yang mulus itu dengan ditutupi celana dalam yang menyelepit di belahan pantat.

Aku mulai mengelus-elus, dan sesekali menarik celana dalam Tante Sinta dan ternyata sudah basah dari tadi. Aku memainkan jariku di permukaan vagina yang tertutup celana dalam itu, Tante Sinta mungkin sudah tahu gelagatku itu sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi sekarang terlihat jelas celana dalam Tante Sinta yang basah. Kini kuberanikan diri untuk melihat secara langsung vagina Tante Sinta yang kelihatan sudah tidak sabar untuk dimasuki rudalku yang sudah tegak berdiri. Aku menggeser celana dalam Tante Sinta ke kiri dan kelihatan dengan jelas vagina Tante Sinta yang sudah memerah itu. Lalu aku perlahan-lahan menggesek-gesekkan jariku di permukaan vagina Tante Sinta, nafas Tante Sinta mulai tak beraturan,

“Eeehhh… ahhh… ohhh hemmm..” dan sekarang aku memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatan Tante Sinta dengan pasti dan kukocok dan terus kukocok dengan pelan-pelan dan lama-lama semakin cepat dan…
“Ah.. oh yes te… rus… please… ah… ohe.. lebih dalam Jon..”
“Tante Sinta mulai meletakkan obat merah itu dan sekarang tidak mengobati lukaku lagi malah mulai mengocok dan meremas dengan kuat penisku.

Aku kurang puas dengan posisi ini, aku mulai mengangkat salah satu kaki Tante Sinta ke sampingku dan sekarang posisi 69 yang kudapat, dan vagina Tante Sinta tepat di depan mulutku. Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir vagina Tante Sinta dengan lidahku.

“Oh.. ya… enak sekali hisapanmu … Oh aughhh ahhh yes… terus!” dan aku mulai memasukkan lidahku ke dalam lubang yang basah itu dan terasa asin tapi gurih.
“Oh… ah… terus… Penis kamu tegang sekali Joni..”
“Ya.. Tante jilat… jilat dong..!”

Tanpa banyak kata Tante Sinta terus melumat habis penisku.
“Oh… ya… ya… terus yang keras lagi…!”

Tante Sinta memang lihai dalam hal oral, tidak satu bagian pun dari penisku yang terlewatkan dari lidah birahi Tante Sinta. Buah zakar ku pun ikut dilahap juga dengan mulut binalnya. Tante Sinta tidak puas sampai di situ, sekarang dia mengangkat pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas lubang anusku dan sekarang mempermainkan lidahnya di lubang anusku. Oh, terasa geli bercampur nikmat, pada waktu itu juga Tante Sinta tidak kuat menahan nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu kalau Tante Sinta mau orgasme yang pertama kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di vaginanya hingga akhirnya.

“ah ye.. yea.. aku tidak tahan.. a.. ku.. ke.. luaaar…” dan
“Serr… serrr..” terasa semprotan kuat dari vagina Tante Sinta kena jariku.

Cairan putih kental yang keluar dari vagina Tante Sinta kusedot habis sampai bersih. Dia sekarang tergeletak lemas di sampingku.

“Tante Sinta masih kuat? Apa cukup saja Tante?” tanyaku disamping memelintir puting susunya yang kuharapkan birahi Tante Sinta kembali lagi dan terangsang.
“Ah.. kamu jantan sekali! Aku tidak nyangka kamu kuat sekali, kamu belum keluar?” tanya Tante Sinta sambil mengocok halus kemaluanku yang masih tegang itu.
“Belum Tante! mau lagi atau…”

Belum aku berhenti ngomong Tante Sinta mulai memasukkan penisku ke mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sedangkan aku di pinggir tempat tidur dan Tante Sinta di atas tempat tidur dengan posisi nungging, aku tetap meremas-remas dan sesekali kupelintir-pelintir puting Tante Sinta itu.

“Aah… terus Tante…! lebih dalam Tante…! yes hemmm Aah… sessttt aahh…”
“Masukin aja ya… aku pingin ngerasain penis kamu ini,”

Lalu aku memutarkan tubuh Tante Sinta dengan posisi nungging dan aku mulai mengarahkan penisku ke vagina Tante Sinta tapi aku tidak langsung memasukkan penisku, kugesek-gesek dulu ke permukaan vagina Tante Sinta.

“Ah.. ya… masukkan Jon.. cepet aku tidak tahan nih… oh… ce… pet!”

Aku langsung memasukkan ke lubang Tante Sinta.
“Blesss… sleppp…”
“Ah… ye…” erang Tante Sinta menerima serangan batang kemaluanku. Aku mulai memaju memundurkan penisku dengan perlahan dan terus kutambah frekuensi kecepatan kocokanku.

“Ah… ya.. penis kamu.. hebat Jon.. keras, te.. rus.. oh.. ssst… ah…”

Aku semakin terangsang dengan erangan Tante Sinta yang menggeliat-liat seperti cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya untuk mempermudah jelajah penisku untuk sampai ke rahimnya dan makin mempercepat kocokanku.

“Oh ya.. aughhh.. ssttt teruss.. jangan ber.. henti.. ah… ke.. rass.. Joni.. hebat…” Dan akhirnya,
“Jon… lebih cepet…! aku mau ke.. luar.. aku.. tidak… oh.. ye.. tahan… la.. gi.. ah… oh shhh…”
Dan akhirnya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya,
“Serr.. serr…” terasa ujung penisku disemprot dengan cairan hangat yang kental. Sekarang Tante Sinta tergulai lemas di hadapanku. Aku memperhatikan tubuh Tante Sinta yang montok dengan payudara yang besar, dalam kondisi telanjang tanpa sehelai benang pun.

Aku tetap mengocok sendiri penisku biar tetap tegang, dan aku mulai tidak kuat, mungkin ini waktunya aku untuk mengakhiri permainan ini.

“Tante… permisi, aku mau mengakhiri tugasku ini…”

Dengan mengangkat tubuh Tante Sinta ke pinggir tempat tidur, dan membuka lebar-lebar paha Tante Sinta sehingga terpampang vagina Tante Sinta yang masih basah dengan cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan penis dan mengocoknya.

“Ah.. kau nakal ya.. Jon.. aughhh hemmm.. terus Jon..”

Dengan semangat kukocok habis vagina Tante Sinta sambil menggesek-gesek klitorisnya dengan jari jempolku untuk mempercepat dia untuk orgasme ketiga kalinya, dan…

“Tante… aku mau ke… luar.. ah.. ye… di.. mana.. ini… dalam atau di luar… oh ye!” sambil mempercepat kocokan jari dan penisku.
“Ya.. aku juga Jon.. uh.. uh.. hemm… sstt.. kita.. barengan di dalam.. oh ye..”

Tante Sinta tidak kuat lagi ngomong kecuali merem-melek tahan nafsu, dan akhirnya aku keluarkan spermaku di dalam vagina Tante Sinta,

“Crottt.. crottt…” sampai lima kali semprotan dan dibarengi dengan erangan dan getaran tubuh Tante Sinta,
“Oh… aaahhhh .. yes… hemmm…”

Lalu kucabut penisku dan kupukul-pukulkan di permukaan vagina Tante Sinta dengan reaksi Tante Sinta mengangkat tubuhnya akibat vaginanya kupukul dengan penisku.

“Tante Sinta hebat sekali deh, makasih ya Tante…”
“Kamu juga hebat banget Jon.. Tante sampai kewalahan menghadapi penis kamu yang tegap ini. Wah… Penis kamu ini harus dibersihkan dulu ya…”

Dia langsung mengarahkan penisku ke mulutnya dan dilahap langsung dan dikocok-kocok habis.
“Wow… oh… ye.. teruus.. yesss… sseessttt ahh ya…”
Ini membuatku tegang lagi, dan Tante Sinta tak henti-hentinya mengocok dan mengulum penisku yang tegang sekali.
“Tante… stop.. augghhhh he… stooop aku.. tak.. tahan..” Dan…
“Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt… Croot… croottt…”
Kukeluarkan spermaku untuk kedua kalinya di dalam mulut Tante Sinta, dan aku tergeletak lemas di atas payudara Tante Sinta.

“Nah.. sekarang kan Tante Sinta tidak kalah banget toh.. ya.. dua-tiga lah…!”
“Makasih ya.. Jon, kamu hebat sekali dalam permainan seks, kapan-kapan kita lagi ya.. sudah kamu tidur dulu deh!”

Lalu aku tertidur sampai malam, dan sebelum aku pulang ke kostku, sempat kuminta Tante Sinta untuk melakukan oral sekali lagi.

–Tamat–

Demikianlah Cerita Dewasa Tante Yang Hypersex ini, jangan lupa balik lagi ya ke webku. Cerita dewasa terbaru pasti update setiap hari.
[baca juga : Cerita Mesum Merasakan Tubuh Bule]