Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah ini bercerita tentang pengalaman seorang pegawai swasta yang bernama Setiawan dan tetangganya, dari awal melihat memang Setiawan sudah tertarik pada tetangganya itu. Hingga akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Bagaimana kisahnya? Silahkan disimak guys cerita dibawah ini.

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah

Otak Mesum – Namaku Setiawan, usiaku saat ini 29 tahun. Aku  bekerja sebagai seorang IT di sebuah perusahaan swasta yang berkantor di Jakarta. Badanku bisa dibilang atletis karena aku rajin ke tempat gym setiap pulang dari kantor. Menurut para gadis, wajahku terbilang tampan, terbukti dari seringnya mereka tebar pesona setiap kali berada di depanku.

Kerjaku hanya Senin sampai Jumat saja, Sabtu dan Minggu aku libur. Saat libur aku lebih sering bersantai di rumah saja sambil menghabiskan waktu dengan menonton DVD yang merupakan hobiku.

Suatu ketika saat aku sedang libur, tidak sengaja aku melihat Vera yang kebetulan tinggal disebelah rumahku, usianya saat itu mungkin sekitar 16 atau 17 tahun, yang aku tahu hanya dia masih SMA itu karena seragam yang dipakainya waktu itu.

Bentuk tubuhnya yang indah dan wajah menawannya sungguh memikat hatiku, ukuran payudaranya pun begitu menggoda, pantat semoknya tak kalah menantang karena begitu montok. Rok sekolah yang ia kenakan cukup pendek dan ketat untuk ukuran setelan seragam, garis celana dalamnya terceplak jelas.

Semenjak hari itu aku jadi ketagihan menikmati bentuk tubuhnya, selalu kusempatkan diri untuk berdiri di balkon rumahku menunggu dia lewat setiap berangkat sekolah. Terkadang jika sedang beruntung aku juga melihatnya saat ia pulang sekolah. Kegiatan itu kulakukan rutin setiap hari hingga akhirnya pada suatu hari ia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Tanpa kuduga, ia membalas tatapanku dengan tatapan yang begitu menggoda.

Karena tatapan matanya saat itu, membuatku jadi sering memikirkan hal-hal jorok tentangnya. Sungguh luar biasa jika aku bisa bercinta dengannya. Vera sangat gemar mengenakan pakaian-pakaian ketat dan terkadang bisa dibilang minim, hanya berupa tank top dan rok mini di luar seragam sekolah.

Saat itu hari sabtu, kebetulan aku sedang tidak bekerja. Maka aku pun bersantai di teras rumha sambil menikmati kopi hangat yang baru saja kuseduh. Hingga akhirnya yang daritadi kutunggu-tunggu akhirnya lewat juga, Vera hari itu mengenakan tank top ketat dipadukan dengan rok mini yang tipis.

Aku menatapnya dengan penuh nafsu, tanpa kuduga ia pun membalas tatapanku dan ia tersenyum kepadaku sambil duduk di seberang pagar rumahku. Duduknya yang menyilangkan kaki membuat paha mulus dan putih yang ia miliki terpampang jelas.

Kuberanikan diri untuk menghampirinya, aku pun keluar rumah dan menyapanya, “sendirian aja? Boleh aku ikut duduk di sini?” Ia pun menjawab “boleeeeh..” dengan ramahnya. Agar tidak canggung, aku pun memulai pembicaraan dengan santai. Ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan, obrolan kami pun semakin asyik dan nampaknya ia tidak bosan berbicara denganku, karena daritadi dia terlihat enjoy dengan obrolan kami. Senyum manisnya ketika kulihat dari dekat benar-benar menggoda, membuat jantungku berdebar-debar. Apalagi paha mulus dan dada montoknya, membuat birahiku berdesir keras. Sesekali aku curi-curi padang melihat belahan dadanya yang mengintip dari balik tank top yang dikenakan.

Ternyata daritadi ia menyadari pandanganku yang sudah tidak fokus lagi. Mengetahui hal itu, ia malah makin sengaja menunjukkan belahan dadanya, membuat diriku semakin tidak karuan. Tiba-tiba ia menggodaku, “Lihatin apa sih daritadi..?”

Aku kaget dan gelagapan menjawabnya, tanpa kusadari saat sedang salah tingkah tanganku menyentuh pahanya, sungguh halus paha itu karena tidak tertutup sempurna oleh rok nya yang pendek. Bukannya marah, ia malah diam saja sambil senyum-senyum nakal. Melihat reaksinya seperti itu membuatku semakin berani saja. Tanganku kuletakkan di atas pahanya dan perlahan-lahan kugerakkan ke daerah perutnya sambil kucium kepalanya. Kebetulan komplekku memang agak sepi, jadi jarang sekali ada yang lewat. Ditambah lagi hari sudah sore sehingga situasi cukup memungkinkan bagiku.

Ciumanku pun mulai mengarah ke lehernya, terdengar deru nafas Vera seperti bernafsu. Tonjolan dadanya membuatku semakin sulit untuk mengendalikan diri. Sambil membelai perutnya dengan rangkulan dari belakang menggunakan tangan kiriku, dan sedikit-dikit menyusup melalui tank top mengarah ke punggungnya, sambil kuraba-raba kuberanikan diri untuk membuka kait BH nya. Begitu kaitnya terbuka, aku menarik keluar bh tersebut sehingga kini payudaranya yang montok tidak lagi dilapisi oleh pelindung apapun selain tank top seksinya itu.

Semakin bebas aku meraba-raba payudaranya sambil sesekali aku memilin putingnya dengan jariku. Remasan dan pintilan jariku membuat Vera merasa geli dan menggelinjang kecil sambil mengeluarkan desahan, “aaahh.. Enak om.. oohhhhh..” Lama-lama terasa payudara dan putingnya mulai mengeras, menandakan dirinya kini sudah terangsang. Melihat hal itu, aku menuntunnya untuk masuk ke dalam rumahku.

Begitu kami masuk ke ruang tamu, kududukkan dirinya di sofa ruang tamu. Aku kembali meraba-raba dirinya dari bagian atas kini menjalar ke bagian bawahnya. Tanganku mulai kuselipkan sambil membuka resleting rok mininya, begitu sampai di pantatnya, kuremas-remas dua bongkahan itu dengan bernafsu. Saat itu ia menggunakan celana dalam model G String, sehingga bagian pantatnya tidak tertutup kain dan tanganku menyentuh langsung kulit montoknya itu.

“Ahh.. terus om…Enak..aaaahh.. ahhhhhh…” Hanya kalimat desahan itu yang terus keluar dari mulut Vera saat aku menyentuh dan menggosok bagian kewanitaannya. Vaginanya mulus dan tanpa bulu yang menumbuhi bagian itu. Mungkin ia rajin mencukur, sehingga selalu botak seperti itu. Dengan perlahan mulai kuselipkan jariku ke vaginanya dan kumasukkan sedikit-sedikit.

“aaahh.. om… oohhhhh..” Vera terus mendesah. Vaginanya pun sudah basah oleh cairan yang dikeluarkan oleh organ intimnya itu. Semakin lama semakin kupercepat permainan jariku di bagian sensitif itu sambil sesekali bermain di klitorinya. Vera menggelinjang hebat dan tak terkendali, desahannya pun semakin sering terdengan hingga tiba-tiba ia menjerit dan dengan cepat tangannya menutup mulutnya sendiri mungkin karena takut terdengar hingga keluar.

“OOooooohhh.. Om.. terusin.. aaahhh.. aaaaahhhh.. aahhhhhhhhhh..” Vera pun mencapai klimaks. Karena sadar waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, aku berinisiatif untuk menyudahi semua kegiatan kami, karena aku takut Vera akan dicari oleh orang tuanya jika pulang terlalu larut. Awalnya ia tidak mau pulang dan ingin melanjutkan kegiatan kami, karena dirinya sudah kepalang tanggung dan nafsunya sedang tinggi-tingginya. Setelah kuberi pengertian pelan-pelan, akhirnya ia mau pulang. Tank top dan rok mininya hanya dirapikan seadanya saja, bahkan ia lupa mengenakan BH nya lagi. Jadi ia pulang dengan kondisi tak memakai BH dan payudaranya bergoyang bebas disertai dengan putingnya yang nampak samar-samar menonjol dari balik tank topnya.

Seminggu berlalu semenjak kejadian itu, anehnya sejak hari itu aku tidak pernah melihat dirinya lewat lagi setiap sore. Aku sempat berpikir jangan-jangan dia marah atau jadi malu jika bertemu denganku. Sampai suatu hari saat sedang libur, cuaca sedang tidak bersahabat dan gerimis di depan. Karena bosan tidak ada kegiatan, iseng aku menonton film porno di komputer yang ada di ruang TV. Hujan pun turun semakin deras.

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah

Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah

Karena merasa bosan aku memutuskan untuk merokok di teras rumah. Begitu sampai di teras aku kaget saat melihat Vera sedang basah kehujanan dan berteduh di depan pagar rumahku. Bajunya yang basah membuat BH nya terlihat jelas, membuatku semakin bernafsu, apalagi barusan aku sedang nonton film porno. Setelah otakku berpikir sebentar menyiasati nafsu birahiku, aku kembali masuk ke rumah menuju laptopku dan mencari film porno dengan durasi yang panjang, setelah aku klik film yang ada di internet, aku pun kembali keluar dan menghampiri Vera.

“Vera ngapain di depan sini hujan-hujan.”
“Tadi mau ke sekolah om, tiba-tiba ujan”

Sambil membuka pintu pagar, aku pun memintanya untuk masuk. Dengan kondisi basah kuyub ia pun masuk dan duduk di sofa ruang tamuku. Payudaranya nampak jelas karena seragam basahnya. Karena tidak tega melihatnya kedinginan, aku pun menyuruhnya untuk menuju ruang TV dan menungguku disana sementara aku ke kamar untuk mengambilkan handuk.

Aku sengaja agak lama mengambil handuk di kamar, karena aku yakin Vera pasti melihat film porno yang sedang kuputar di laptop tadi. Setelah menunggu sekitar 15 menit aku kembali ke tempat Vera tadi menunggu. Dari jauh terlihat Vera sedang asik menonton sambil kedua tangan sibuk memainkan payudara dan vaginanya. Pelan-pelan aku berjalan menghampirinya dan kupeluk dirinya dari belakang sambil berbisik, “enak yaaa…?”

Karena kaget, Vera refleks segera menghentikan kegiatan tangannya. Dengan sigap kuhentikan maksudnya itu dan kusambung dengan bisikan, “terusin aja, nanti om bantuin.” Aku mulai duduk sambil menarik dirinya mundur ke belakang hingga akhirnya Vera duduk dipangkuanku. Saat duduk aku yakin Vera dapat merasakan penis tegangku sudah menonjol dari balik celana yang kukenakan.

[baca juga : Cerita Dewasa Jablay Pemuas Nafsu Bejat]

Aku melingkarkan tanganku ke perutnya, dengan perlahan kuarahkan ke dadanya sambil kucium leher mulus yang dimiliki Vera. Kubuka kancing seragamnya satu persatu hingga lepas semua menyisakan BH saja yang menutupi bukit kembarnya. BH yang digunakan kali ini bermodel bikini dengan pengikatnya hanya berupa tadi saja, sehingga dengan sekali tarik saja sudah terlepas. Begitu payudaranya terpajang bebas tanpa penghalang kembali kuremas-remas dengan lembut hingga membuat vera menggelinjang kecil. Tanganku satu lagi mulai menyelinap ke dalam roknya dan memainkan vaginanya.

Vera semakin menjadi desahannya mulai terdengar. Awalnya pelan, namun begitu aku mulai mengganti posisi didepannya dan kujilati payudara dan putingnya, desahan itu semakin jelas.

“aaAhhhhh…Om… Terusin om.. Ooooohh.. Enak… Hisap om.. jilaat.. aahhhh”
Terasa putingnya mulai membesar setelah beberapa menit kumainkan dengan lidahku. Aku mulai bergerilya di tempat lain, kumainkan di daerah perut seketika itu juga badannya semakin menggeliat.
“Oooohhhhh..” Desahannya membuatku tambah nafsu, tanganku mulai beraksi dengan memainkan klitorisnya. Menggunakan jari tengahku, vaginanya mulai kumasuki pelan-pelan karena sempitnya bagian kewanitaan Vera membuat proses itu berlangsung agak lama.

Kumaju mundurkan gerakan jariku, membuat Vera mendesah.
“Aaaaaaaaauhhhh.. uuuuhhhhhh….”
“Aaaahhh.. masukin oom..teruus.. enaaaak om…”
Hingga akhirnya terdengar desahan panjang disertai dengan cairan kewanitaannya yang menyembur ke jariku menandakan dirinya mencapai klimaks.
“aaaaaaaahhh… aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh…” Tak beberapa lama, Vera pun lemas.

Kukeluarkan jariku dari vaginanya dan kuarahkan ke hidungnya agar dapat ia cium aroma kewanitaannya. Sambil memberinya waktu untuk menikmati orgasmenya. Setelah kurasa sudah cukup waktu istirahatnya, aku pun mulai melepaskan celana dalam yang ia kenakan dan mulai menjilati vaginanya yang sudah basah daritadi. Kujilati bibir vaginanya, bagian dalam hingga klitorisnya tak ketinggalan kujamah dengan lidahku.

Aktivitas itu membuatnya terus mendesah dan meracau, “aahh…aahhhh…uhh…ohhhh..Ooommm.. ooouuuuhh…” Vera menggeliat dengan liar sambil menggenggam erat pinggiran sofa yang dapat diraih tangannya. Lidahku semakin intens bermain di kemaluannya sambil sesekali kumasukkan jariku, membuat dirinya menggelinjang tak terkendali.

Setelah puas bermain menggunakan lidahku, kutuntun dirinya agar kembali ke posisi duduk dan memintanya membuka celanaku. Dengan malu-malu ia menurut dan akhirnya penisku yang sudah dalam posisi tegang nampak jelas, kini Vera kuminta berjongkok untuk menghisap penisku, pelan-pelan ia membuka mulut dan memasukkan penisku ke dalamnya. Dengan agak memaksa, aku mendorong penisku agar masuk lebih dalam dan dapat kurasakan penisku menyentuh tenggorokannya, hal itu membuat Vera batuk dan hampir muntah, setelah itu perlahan-lahan ia menjilati sambil mengulum penisku dengan lembut, terlihat sekali dirinya sedang menikmati penisku. Aku pun jadi merem melek dibuatnya.

Tanganku terus meremas-remas payudaranya hingga kembali kuarahkan dia agar menjepit penisku menggunakan kedua payudaranya. Setelah puas dengan payudaranya, kini kurebahkan tubuhnya di sofa dan kukangkangkan kakinya, penisku pelan-pelan kumasukkan ke dalam vaginanya yang sudah basah. Agak susah awalnya, baru berhasil kumasukkan kepala penisku saja ia sudah menjerit “aduuuh om.. aaahh… sakit om.. oohh..”.

Melihat reaksinya seperti itu aku mengeluarkan kembali penisku. Dan kucium bibirnya, kami pun saling ciuman dengan penuh nafsu. Begitu kurasa dirinya sudah cukup tenang. Aku kembali mencoba memasukkan penisku dengan perlahan.

“Tahan ya Ver.. Sakit awalnya aja kok..”
Vera mengangguk saja.
Lalu dengan hati-hati kutaruh penisku di vaginanya, perlahan-lahan mulai kucoba masukkan. Sambil kuselingi dengan menggosok-gosokkan penisku di bibir vaginanya agar mau terbuka karena saking rapatnya, walaupun sudah orgame berkali-kali vaginanya masih saja sulit ditebus.

Bukan Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah judulnya kalau aku tidak berhasil melakukannya. Akhirnya dengan hentakan kecil, setengah penisku berhasil masuk dan kuteruskan hingga penisku tertanam sepenuhnya di vagina Vera. “aaaahhhh… Sakiit om…” jerit Vera mengiringi masuknya penisku ke dalam vaginanya. Aku membiarkan penisku di vaginanya tanpa melakukan gerakan apa pun. Kubiarkan dirinya merasakan penisku memenuhi vaginanya untuk beberapa saat.

Pelan-pelan aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, nikmat sekali rasanya penisku dijepit oleh vagina seorang perawan yang benar-benar sempit.

“oouuhhhh..” jerit Riska. Aku terus menggerakkan pinggulku maju mundur, “aaahh.. ooohhh.. aaaahhh… aaaah.. sakit om… oouuhh”
“Tahan ya Ver..”
Vaginanya terasa nyaman dan hangat di penisku.
Entah kenapa melihat ekspresinya yang menahan rasa sakit sambil menikmati goyanganku itu membuatku benar-benar bernafsu.

Semakin cepat kugoyang pinggulku hingga membuat payudaranya bergerak naik turun mengikuti irama goyanganku.
Kupegangi payudaranya dengan kedua tanganku dan kuremas-remas, terasa payudaranya lebih kencang dari sebelumny.

“Aaaaahhhhh.aaaahhhh..ouuuuhhhhhh….” desahannya diiringi dengan gerakan badannya yang menggelinjang. Badannya bergetar dan menegang sambil pinggulnya bergerak naik turun. Ia memeluk erat badanku jari-jarinya mencengkram punggungku. Ternyata Vera klimaks lagi.

“sshhhhh.. eehhhmmmm.. aaaaahhhh..jangan berhenti oom.. aaahhh..cepetin ooom.. aaahhhh.. ooohhhhh…”
terasa cairan kewanitaannya mengalir di sekitar penisku, membuatku semakin bersemangat memompa penisku di vaginanya.
Kini suara desahan kami diiringi dengan suara kecipak-kecipak saat penisku keluar masuk dari vaginanya.

Gerakan pinggulku semakin kupercepat, kali ini Vera tidak diam saja. Ia pun sesekali menggerakkan pinggulnya naik turun mengimbangi gerakanku.

“ooohh.. aaaahh.. omm.. enak bangeeet…. aaaaahh”
“Veerr.. vaginamu sempit sekali… aaaahhh.. aku dah ga kuat nahan niih.. mauuu keluuuuaaar.. aaaaaaaahh”
Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan kusemburkan saja spermaku ke dalam vaginanya. Kami pun lemas dan kurebahkan diriku di atas badannya.

Sambil memeluk Vera aku bisikkan kalimat, “Kamu hebat, Ver…”
Tanpa menjawab apa pun, Vera mencium diriku dan membalas pelukanku.

Demikianlah Cerita Dewasa Menikmati Perawan Sebelah yang kutulis kali ini. Semoga kalian enjoy ya. Thank You.

Tamat